Skip to main content

Relawan Sosmed Penjilat



“Relawan Sosmed Penjilat”, saya membaca pernyataan itu pada status facebook seorang “friend”. Begitu membaca kalimat itu, saya merasa disengat. Ternyata ada ya orang yang punya pandangan seperti itu. Terus yang dimaksud “Relawan Sosmed Penjilat” itu yang seperti apa?

Saya pun mulai introspeksi diri…

Saya suka menulis blog, lumayan aktif di beberapa channel social media, seperti twitter, Instagram, dan Path. Saya bergabung di beberapa komunitas blogger. Saya juga terkadang hadir di acara-acara yang disponsori oleh suatu brand. Kehadiran saya di acara tersebut adalah sebagai blogger, yang meliput acara tersebut. Setelah acara selesai, saya menuliskan pengalaman saya selama mengikuti acara tersebut di blog. Well… memang ada beberapa hal yang “dipesankan” oleh si pemilik brand, seperti misalnya, jika saya menuliskan nama brand, maka disertakan juga hyperlink ke website si brand tersebut, dsb.

Apakah dengan datangnya saya di acara tersebut dan menikmati semua fasilitas yang ada, kemudian menuliskan pengalaman saya di blog, itu termasuk aktifitas “Menjilat?”.

Narik napas panjang…. ^_^

Baiklah, saya akan usahakan menuliskan pendapat saya se-netral mungkin mengenai hal ini. Saya tidak membenarkan maupun menyalahkan terhadap pernyataan “Relawan Sosmed Penjilat”.

Who am i
Untuk memulainya, saya coba dengan melihat beberapa website besar internasional. Saya biasa membuka gizmag.com, inhabitat.com, techcrunch.com, dan beberapa lagi. Pada website-website blog ini, mereka terkadang menuliskan cerita mereka ketika menghadiri suatu acara. Namun, mereka mengkhususkan di suatu bidang. Semisal gizmag.com, mereka mengkhususkan di bidang teknologi, meski memang lingkup teknologi secara luas, seperti teknologi luar angkasa, teknologi otomotif, teknologi kesehatan, dan inovasi-inovasi teknologi terbaru di berbagai bidang lainnya. Dan acara-acara yang mereka hadiri juga tentu saja seputar teknologi, seperti CES (Consumer Electronics Show, dsb).

Dari contoh diatas, bisa kita sebutkan bahwa Blogger atau Relawan Sosmed lainnya, memang harus memiliki identitas tentang diri mereka sendiri alias who am i. Seperti dokter atau ahli reparasi, mereka memiliki spesialisasi. Sehingga ketika orang memiliki suatu kebutuhan, dia akan mencari si spesialis tersebut.

Sekarang saya bertanya pada diri sendiri, who am i?
How can i help others?

Who are my readers/followers
Kembali ke contoh gizmag.com. Website ini dibaca oleh 5 juta orang setiap bulannya. Dan pengunjungnya rata-rata para penyuka teknologi. Sehingga angka 5 juta pengunjung tiap bulan ini bisa dikatakan unik dan yang membaca halaman-halamannya memang butuh informasi seputar teknologi.

Beberapa blogger/penggiat sosmed memiliki visitor/follower dengan angka yang signifikan. Saya tidak tahu pasti apakah angka tersebut murni pengunjung unik yang mencari informasi yang disajikan si blogger/penggiat sosmed tersebut, ataukah campuran dengan follower dari komunitasnya atau lebih parah dari itu, yakni angka follower yang ribuan tersebut adalah hasil membeli.

Di Indonesia sekarang ini sudah berdiri banyak sekali komunitas blogger maupun komunitas-komunitas sosial media lainnya. Rata-rata mereka saling follow dan saling baca. Sehingga meski suatu account itu memiliki katakanlah 1000 follower atau pembaca, mungkin saja followernya ini, bukan unik dan mencari informasi yang disajikan, tapi teman-teman mereka sendiri satu komunitas.

Jika demikian adanya, maka ketika suatu artikel dimuat di blog si Relawan Sosmed, maka pembacanya bukan dari segmen pembaca yang diharapkan, tapi ya hanya komunitas itu-itu saja.

Hemm… kalau saya jadi  pemilik brand, kemudian minta bantuan Relawan Sosmed untuk mempromosikan brand saya, namun ternyata promosi ini tidak menyebar ke masyarakat luas, hanya tersebar di satu komunitas saja. Kok rasanya gimanaaa gitu… ^_^’

How am i paying back
Tidak bisa dipungkiri, menjadi “Relawan Sosial Media” ini bisa mendatangkan rejeki. Suatu brand terkadang mengontrak Relawan Sosmed dengan nilai rupiah tertentu untuk mengiklankan produk mereka di sosial media. Ada juga brand yang menggunakan strategi lomba blog, dan menyediakan hadiah yang menarik. Atau mengadakan acara launching produk, kemudian mengundang Relawan Sosmed ke acara tersebut, dengan memberikan berbagai fasilitas dan doorprize menarik.

Adapun si Relawan Sosmed, sebagai imbal balik dari apa yang didapatnya ini, dia harus membuat konten yang menginformasikan ke masyarakat tentang brand tersebut.

Again, jika blog/social media saya hanya dibaca oleh teman-teman komunitas saja, bukan pembaca yang unik yang nyari informasi tentang itu, apakah ini telah “membayar utang” saya?

Seperti halnya iklan yang ditayangkan di tv nasional, yang ditonton ratusan juta orang, bukan ditonton oleh anggota “komunitas tv nasional” saja, maka “iklan” yang saya kemas dalam bentuk tulisan blog atau postingan social media ini haruslah menjangkau sebanyak mungkin orang, bukan hanya teman-teman saya di komunitas. That’s how I’m paying back.

Take and give balance
Dalam suatu kerjasama, terjadi proses memberi dan menerima (take and give). Dan kerjasama yang bagus adalah yang sama-sama menguntungkan, proses take and give-nya seimbang. Nah, dalam hal kerjasama Pemilik Brand dan Relawan Sosmed, tentulah harus seimbang juga take and give-nya. Jangan sampai Relawan Sosmed, banyak take tapi sedikit give, atau sebaliknya, pemilik Brand yang banyak take dan sedikit give.

Dari sudut pandang Relawan Sosmed, ketika kita melakukan lebih banyak take daripada give, maka dengan berat hati saya harus mengatakan bahwa Relawan Sosial Media tersebut tidak bertanggungjawab atau sebut saja penjilat.

Ok, kita mendekati bagian akhir. ^_^

Dengan menjawab 4 pertanyaan:
-    Who am I
-    Who are my readers/followers
-    How am I payingback
-    Take and give balance


Saya bisa menentukan apakah yang saya lakukan ini adalah aktifitas menjilat atau bisnis.

Kalau termasuk bisnis, maka saya bisa menyangkal pernyataan "Relawan Sosmed Penjilat", dan dengan bangga saya akan mengatakan saya ini bukan Relawan Sosmed tapi Profesional Sosmed (Social Media Professional).

Namun kalau ternyata apa-apa yang saya lakukan ini termasuk penjilat, maka saya akan memperbaiki diri saya, seluruh aspeknya, sehingga tidak lagi menjadi penjilat tapi menjadi seorang Profesional Sosmed.

***
Kepada teman-teman di komunitas-komunitas blogger dan sosial media, saya mohon maaf kalau ada dari tulisan saya diatas yang menyinggung. Sedikitpun saya tidak bermaksud demikian. Saya sedang mencoba melakukan introspeksi diri, yang mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini bisa memberikan manfaat kepada dunia per-sosial media-an di Indonesia.

Aamiin...



Jadwal Sholat

Warung Blogger

Warung Blogger

Kabar Terbaru

Popular posts from this blog

Mengurus PBB yang diblokir di Cikarang, ke PEMDA Kab. Bekasi

Berawal dari salah satu syarat pengajuan KPR, yang disana tercantum harus ada “Copy PBB tahun terbaru”, saya jadi terlibat perjalanan bolak balik keliling Cikarang untuk mengurus PBB rumah yang diblokir. (Kisah saya mengajukan KPR, bisa dibaca disini)


PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap tanah dan bangunan. Lebih lengkapnya seputar PBB ini silahkan baca di situs resmi Dirjen Pajak di: http://www.pajak.go.id/content/seri-pbb-ketentuan-umum-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.


Ketika mengajukan Kredit ke Bank BTN Cabang Cikarang, saya dapat sebuah brosur berisi besaran kredit yang bisa diberikan beserta syarat-syaratnya.

Perpanjang STNK Motor di SAMSAT Cibinong

Ini pertama kalinya saya memperpanjang STNK motor di SAMSAT Kab. Bogor di Cibinong. Prosesnya sederhana dan Cepat. Seluruh proses hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Pertama-tama kita harus mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Untuk perpanjangan  STNK 1 tahun, yang harus dibawa adalah:
STNK AsliKTP Asli sesuai dengan nama di STNK
Awalnya saya kira harus menyerahkan BPKB juga, soalnya pengalaman saya mengurus STNK di SAMSAT Kota Tangerang gitu, harus bawa STNK Asli, KTP Asli dan BPKB. Namun

Mutasi SIM online di Tangerang

Seminggu sebelum SIM saya berakhir masa berlakunya, saya berangkat ke kantor SATPAS Polres Tangerang di Tangerang Kota. Saya kesana karena dulu, SIM C saya ini dibuat di Tangerang. Sebelumnya saya sudah browsing-browsing di internet, mencari informasi tentang mutasi SIM. Saya harus mutasi karena sekarang saya KTP-nya Bogor.

Saya bahkan sampai telpon ke Call Center Korlantas POLRI di 021-1500669, menanyakan prosedur mutasi SIM. Dari petugas yang menerima telpon saya, saya diberitahu bahwa saya harus Cabut Berkas dulu di Tangerang, lalu

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Bogor

Bagi warga negara yang sudah berumur 17 diharuskan mempunyai KTP (Kartu Tanda Penduduk) sebagai kartu identitas. KTP ini diperlukan untuk banyak hal, sebagai bukti, tanda identitas seseorang. Namun KTP ini berlaku hanya kalau kita berada di dalam Negara kita sendiri, di Indonesia. Nah bagaimana kalau kita di Luar Negeri?

Ketika seseorang berada di Luar Negeri, maka tanda identitas dia bukan lagi KTP, melainkan Paspor (Passport). Paspor ini adalah KTP kita di dunia Internasional. Kalau untuk membuat KTP kita cukup mengurusnya di kantor Desa dan Kecamatan, maka untuk mengurus pembuatan Paspor, kita harus datang ke Kantor Imigrasi Kabupaten Kita.

Kebetulan saya ada pengalaman membuat Paspor di Kantor Imigrasi Kabupaten Bogor, di kota Bogor. Adapun lokasi kantor Imigrasi ini adalah:

Kereta Jakarta Cikarang

Bagi sebagian besar penduduk Jakarta, Cikarang adalah suatu tempat yang sangat jauh. Karena Cikarang itu letaknya diluar Bekasi. Bekasi aja udah jauh, apa lagi Cikarang ^_^. Padahal kalau melihat plang penanda jarak di Jalan Tol, jarak Jakarta-Cikarang itu hanya 30 Km.

Saya sekarang tinggal di Cikarang sementara kerja masih di Jakarta. Tiap hari dilaju Cikarang-Jakarta, adapun transportasi yang saya gunakan adalah