Langsung ke konten utama

Sampah Sisa Makanan

Sisa Makanan
Sisa Makanan


Sampah Sisa Makanan
Sepiring pisang rebus terhidang diatas meja, ditemani segelas teh hangat, satu toples kue ali, dan sepiring ketan goreng (orang setempat menyebutnya uli). Pagi itu udara di sekitar kaki Gunung Salak sangat sejuk dan segar. Keceriaan mengambang disinari cahaya matahari yang baru muncul dan dimeriahkan oleh kicau burung di dahan-dahan pohon. Hidup sungguh damai ...

Pisang yang direbus ini berasal dari pematang sawah yang padinya baru dipanen minggu lalu.

Pisang rebus hanyalah makanan kampung, yang sepertinya tidak ada nilai ceritanya. Beda dengan makanan dan minuman dari restoran atau cafe yang "sangat luar negri", yang setiap jenis makanannya membawakan cerita sendiri dan tentunya prestise tersendiri bagi yang memakannya.

Kira-kira mana yang akan kita ceritakan, ketika kita makan pisang rebus atau ketika kita menyeruput kopi di gerai kopi 'sangat luar negri'? Well... kayaknya kerenan yang gerai kopi 'sangat luar negri' itu ya :)

Tidakkah setiap makanan yang terhidang dihadapan kita itu membawa kisahnya tersendiri. Contohnya pisang rebus dan teman-temannya itu. Mereka merupakan wujud dari semangat para petani. Mereka, para petani itu, bangun pagi-pagi sekali, kemudian pergi ke sawah dan ladangnya, untuk menanam benih lalu merawatnya penuh perhatian sampai tiba saat dipetik buahnya.

Demi tanaman-tanamannya, petani tak peduli panas maupun hujan. Bagi para petani itu, matahari adalah kawan, hujan adalah hadiah, air memberi kehidupan, tanah menyediakan makanan, dan angin mengobati kelelahan. Alam merupakan asal dari semua makanan yang dihasilkan mereka.

Sungguh beda dengan orang kota, dimana matahari dihindari, hujan sumber bencana, tanah adalah kotor dan memalukan sehingga harus ditutupi beton, sedangkan angin telah bercampur dengan debu dan asap dan menjadi sumber bermacam penyakit. Seakan-akan alam telah menjadi musuh bagi orang-orang kota.

Btw, makanan 'sangat luar negri' juga tentu punya kisahnya tersendiri. Makanan itu tersaji berkat sebuah sistem. Sistem itu terbentuk dari hasil karya para pemikir. Para pemikir itu tentu juga telah melalui masa-masa sulit, baik ketika kuliah dulu ataupun ketika memulai usahanya. Mungkin waktu kuliah dulu, ada yang nyambi sebagai pelayan toko, waitress, dsb, untuk menambah biaya kuliah. Atau juga ketika bernegosiasi dengan pihak bank untuk meyakinkan mereka bahwa usahanya akan berhasil, dsb.

Nah, kalau setiap makanan tersebut punya 'kisah perjuangan'-nya masing-masing, pantaskah kita membuang-buangnya. Ketika makanan itu tidak enak menurut kita, atau kita lagi tidak mood, atau (ini yang menyedihkan) karena gengsi,saat orang lain makanannya sudah habis sedangkan kita belum, lalu kita berhenti makan dengan alasan kenyang. Makanan pun jadinya tersisa dan sudah 99,9% nasibnya akan berakhir di tong sampah.

Kita mungkin bisa berkilah: "gue beli makanan itu pake uang gue, seterah gue dong, mau dimakan kek, mau dikasih kucing kek, mau dibuang kek". Ya, itu 1000% betul. Kita sudah membeli makanan itu, dan kita berkuasa penuh terhadap makanan itu. Namun ini masalahnya. Perasaan berkuasa ini membuat kita melihat hanya dari lingkup sempit. Kita beli makanan, cicip-cicip, buang, lap mulut pake tisu, bayar, done. That's it, everybody happy. Pedagang senang, kita puas.

Namun kita lupa, bahan makanan tersebut hasil keringat para petani. Toko pedagang tersebut, hasil negosiasi alot dengan pihak bank. Waitress dan cleaning servicenya berasal dari keluarga biasa yang tidak punya uang banyak untuk bayar biaya kuliah, sehingga lulus SMA mereka langsung kerja jadi cleaning service.

Pada makanan yang kita buang tersebut, bersemayam semangat petani, pedagang, cleaning service dan semua pihak yang terlibat dalam proses penghidangan makanan tersebut.

Itu baru dari satu sisi. Disisi lain, makanan terbuang tersebut tentu menjadi sampah. Padahal Jakarta sudah sangat produktif kalau dalam hal menciptakan sampah. Tak kurang dari 6000 ton sampah dihasilkan penduduk Jakarta tiap harinya (http://www.tribunnews.com/2010/05/30/inilah-ancaman-sampah-jakarta-sehari-6-ribu-ton).
Makanan yang kita buang-buang tersebut tentunya menjadi bagian dari yang 6000 ton itu. Dan tidak cukup sampai disitu, makanan tersebut akan membusuk, dan tentunya menjadi sumber penyakit.

Ok lah, kita dan anggota keluarga kita tinggal di lingkungan yang nyaman, jauh dari tumpukan sampah. Anak-anak kita juga mengkonsumsi makanan bergizi, sehingga daya tahan tubuhnya baik dan tidak mudah terserang penyakit. So, mau sampah sebanyak apa juga gak ngefek ke keluarga kita.

Namun kita juga perlu menyadari, makanan kita yang terbuang dan membusuk, berakhir di tempat, dimana juga banyak manusia yang tinggal disekitarnya. Bibit-bibit penyakit yang timbul dari makanan busuk, menyerang anak-anak disekitarnya. Dan sudah tentu, anak-anak yang tinggal di sekitar tempat sampah bukanlah anak yang selalu memakan makanan bergizi, sehingga tahan penyakit. Dengan mudah mereka akan terserang berbagai penyakit. Dan... salah satu penyebabnya adalah makanan yang kita buang-buang.

So ?

Gue kan udah beli, suka-suka gue dong ...


Jadwal Sholat

Warung Blogger

Warung Blogger

Kabar Terbaru

Postingan populer dari blog ini

Mengurus PBB yang diblokir di Cikarang, ke PEMDA Kab. Bekasi

Berawal dari salah satu syarat pengajuan KPR, yang disana tercantum harus ada “Copy PBB tahun terbaru”, saya jadi terlibat perjalanan bolak balik keliling Cikarang untuk mengurus PBB rumah yang diblokir. (Kisah saya mengajukan KPR, bisa dibaca disini)


PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap tanah dan bangunan. Lebih lengkapnya seputar PBB ini silahkan baca di situs resmi Dirjen Pajak di: http://www.pajak.go.id/content/seri-pbb-ketentuan-umum-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.


Ketika mengajukan Kredit ke Bank BTN Cabang Cikarang, saya dapat sebuah brosur berisi besaran kredit yang bisa diberikan beserta syarat-syaratnya.

Perpanjang STNK Motor di SAMSAT Cibinong

Ini pertama kalinya saya memperpanjang STNK motor di SAMSAT Kab. Bogor di Cibinong. Prosesnya sederhana dan Cepat. Seluruh proses hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Pertama-tama kita harus mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Untuk perpanjangan  STNK 1 tahun, yang harus dibawa adalah:
STNK AsliKTP Asli sesuai dengan nama di STNK
Awalnya saya kira harus menyerahkan BPKB juga, soalnya pengalaman saya mengurus STNK di SAMSAT Kota Tangerang gitu, harus bawa STNK Asli, KTP Asli dan BPKB. Namun

Mutasi SIM online di Tangerang

Seminggu sebelum SIM saya berakhir masa berlakunya, saya berangkat ke kantor SATPAS Polres Tangerang di Tangerang Kota. Saya kesana karena dulu, SIM C saya ini dibuat di Tangerang. Sebelumnya saya sudah browsing-browsing di internet, mencari informasi tentang mutasi SIM. Saya harus mutasi karena sekarang saya KTP-nya Bogor.

Saya bahkan sampai telpon ke Call Center Korlantas POLRI di 021-1500669, menanyakan prosedur mutasi SIM. Dari petugas yang menerima telpon saya, saya diberitahu bahwa saya harus Cabut Berkas dulu di Tangerang, lalu

Kereta Jakarta Cikarang

Bagi sebagian besar penduduk Jakarta, Cikarang adalah suatu tempat yang sangat jauh. Karena Cikarang itu letaknya diluar Bekasi. Bekasi aja udah jauh, apa lagi Cikarang ^_^. Padahal kalau melihat plang penanda jarak di Jalan Tol, jarak Jakarta-Cikarang itu hanya 30 Km.

Saya sekarang tinggal di Cikarang sementara kerja masih di Jakarta. Tiap hari dilaju Cikarang-Jakarta, adapun transportasi yang saya gunakan adalah

Gunung Munara - Hiking Pendek Yang Memacu Adrenalin

Gunung Munara

"Disini mulai rame sejak tahun baru kemarin"
"Tahun baru 2015 ini?"
"Iya, tahun baru 2015 ini, sebelumnya mah paling Sabtu Minggu doang, itu juga paling banyak 50 motor"

Begitulah percakapan singkat saya dengan teteh pemilik warung kelapa muda. Saya bertanya padanya sejak kapan Gunung Munara ini banyak dikunjungi. Nama Gunung Munara sekarang ini semakin sering dibicarakan orang. Spot pendakian yang terletak di daerah Rumpin, Bogor, ini memang tengah naik daun. Alasannya adalah, Gunung Munara memberikan tantangan yang sekelas naik gunung, namun jaraknya relatif pendek. Dari start mendaki sampai ke puncak, dibutuhkan waktu 1 – 1,5 jam saja.

Saya pun tertarik untuk menjajal track pendakian di Gunung Munara ini. Oh ya, meski namanya Gunung Munara, sebenarnya ini adalah sebuah bukit dengan batu-batu yang sangat besar. Dan yang membuat saya heran, banyak sekali batu-batu besar sebesar rumah yang tumpang tindih sedemikian rupa seolah sengaja disu…