Alunan lagu “Let It Go” yang dilantunkan oleh penyanyi pop Amerika, Demi Lovato begitu mendunia. Di penghujung tahun 2013 lagu ini menghiasi berbagai media mulai dari Radio, TV, Internet, di tempat-tempat keramaian, semuanya. Lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi Original Soundtrack film animasi “Frozen”.

Ratu Elsa, karakter utama film "Frozen".
sumber: pixelpolish.blogspot.com
Lagu ini sebenarnya ada dua versi, yang satu dibawakan oleh Demi Lovato (bisa disimak disini), dan yang lainnya dibawakan oleh Idina Menzel (bisa disimak disini). Menzel sendiri adalah pengisi suara salah satu karakter utama dalam film Frozen, yakni Ratu Elsa.

Menurut catatan wikipedia, lagu “Let It Go’' versi Idina Menzel telah terjual sebanyak 3 juta copy
Kadang-kadang saya suka berkhayal bahwa saya ini reinkarnasi dari seorang Ksatria Abad Pertengahan (Medieval Age). Entah kenapa saya suka sekali melihat baju zirah dan berharap suatu saat bisa memiliki dan memakainya ^_^. Membayangkan mengenakan baju zirah lengkap dan menunggangi kuda, rasanya.... it's must be epic!

Ksatria berbaju zirah.
sumber: siscamardhian.blogspot.com

Tidak hanya suka melihat baju zirah, saya juga suka musik Celtic, terutama alunan flutenya. Ketika mendengar musik-musik Celtic benak saya membayangkan padang rumput dengan liukan sungai di kejauhan, yang disebrangnya berderet gunung-gunung yang puncaknya tertutup salju. Saya menunggangi kuda menyebrangi padang rumput tersebut. Angin semilir bertiup membelai surai kuda yang saya tunggangi. Sungguh damai...


Sepertinya, didorong oleh hal-hal tersebut saya sangat suka film bertemakan Abad Pertengahan: ksatria berkuda, perang kolosal, putri-putri cantik di menara Kastil, Kastil-Kastil yang dikelilingi tembok dan parit lebar, semuanya! Menurut saya abad pertengahan itu sungguh romantis sekaligus gagah. Ehm... itu kan gue banget ^_^

Abad Pertengahan tidak mungkin terulang kembali. Sekarang saya hidup di era millenium ketiga
Salah satu trek tanjakan di Papandayan

Temen-temen sekalian,
Foto diatas familiar banget kan? Saya begitu ketemu jalan seperti ini girangnya bukan main. Seneeeeng banget, sampe pengen loncat-loncat rasanya. Itu adalah jalan di jalur menuju “Pondok Saladah” camping ground di gunung Papandayan. Namun tracknya pendek, gak sampe 10 menit sudah habis ^_^.

Beberapa waktu yang lalu, secara tidak terencana saya ke Papandayan. Berawal dari telpon adik saya yang memberitahu bahwa bapak saya sakit. Saya pun pulang ke Garut. Alhamdulillah sakit bapak tidak parah dan sudah mulai membaik. 

Saya sampai ke rumah bapak hari Sabtu sore. Keesokan harinya saya berada di halaman belakang rumah sambil memperhatikan gunung Cikuray, dari dulu saya ingin mendaki ke puncak Cikuray, namun sampai sekarang belum kesampaian. Gak sempet melulu ^_^. 

Halaman belakang rumah bapak, Gunung Cikuray tampak jelas dari sini
Selagi asyik memperhatikan dan menerka kira-kira medan Cikuray seperti apa, tiba-tiba ada telpon masuk, rupanya dari kakak yang tinggal di Bandung. Dia mengatakan bahwa dia butuh Belerang. Mendengar kata Belerang, maka hal pertama yang terlintas dibenak adalah Kawah Papandayan.

Jadilah hari Minggu jam 11 siang saya ke Papandayan, naik motor Mio punyanya keponakan. Sendirian ^_^. Gak bawa apa-apa, cuma pake jaket parasit untuk naik motor, dompet & HP. Perjalanan dari rumah bapak saya ke Kawah Papandayan kurang lebih 50 menit. Kita mengikuti jalan utama, jalan Garut-Cikajang. Di alun-alun kecamatan Cisurupan, kita memasuki jalan ke kawah. Pada mulanya jalan bagus, namun setelah melewati desa terakhir, dan pemandangan berubah menjadi perkebunan sayur disambung hutan pinus, jalanan mulai rusak dibeberapa tempat. Di jalan menjelang pos, ada plang seperti foto dibawah:

Plang menjelang Kawasan Wisata Kawah Papandayan
Di belakangnya adalah kawah Papandayan, kawahnya luas, lebih luas dari kawah Gunung Gede.

Di pos terpampang baligo tariff masuk. Tarifnya relatif murah, Rp. 7500,- /orang. Namun buat Wisatawan Mancanegara, tarifnya 20x lipat. Saya sebenarnya tidak setuju bedanya sejauh itu. Jomplang banget. Huh!

Tarif masuk
Baligo itu ada di sisi kanan jalan, dan disisi kiri jalan, terletak loket pembayaran karcis. Saya pun membayar disana, Rp. 15rb (7500 orang + 7500 motor). Masuk ke tempat parkir, disitu banyak mobil pickup. Belakangan saya tahu bahwa mobil pickup itu adalah sarana transportasi utama, yang mengangkut pengunjung dari alun-alun kecamatan Cisurupan dibawah tadi, sampai ke kawah Papandayan ini. Ongkosnya 20rb/orang. Naik ojek juga bisa, ongkosnya 25rb
PASIF AKTIF adalah istilah yang biasa saya gunakan untuk menggambarkan perilaku perempuan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hal penampilan. Btw, ini murni opini pribadi yang tidak berdasarkan riset psikologis atau apapun. Jadi mohon jangan tanya saya dasar hukum penggunaan istilah itu ya ^_^

Maksudnya apa Pasif Aktif itu?

Kita ambil contoh seorang gadis yang masih single. Meski sekarang jaman Millenium ketiga, namun dalam urusan menyatakan rasa cinta, masih banyak yang menganut cara tradisional. Dimana biasanya laki-laki yang aktif “nembak” wanita yang disukainya. Sedang wanita terkesan netral, kalau si wanita suka ya diterima, kalau tidak suka ya ditolak.

Namun betulkah si wanita ini netral dan diam saja. Sepertinya tidak ya. Para wanita dilengkapi dengan naluri untuk selalu berpenampilan menarik. Dengan berpenampilan menarik, maka kehadirannya akan menarik perhatian banyak laki-laki, sehingga si wanita tinggal “memilih” laki-laki mana yang disukainya. ^_^

Wanita suka tampil menarik


Inilah yang saya maksud Pasif Aktif. Wanita terkesan pasif, tidak menyatakan rasa sukanya terhadap seorang laki-laki. Namun diam-diam, dia juga aktif membuat dirinya tampil menarik, sehingga bisa menarik perhatian laki-laki, khususnya laki-laki yang disukainya. Dan diharapkan laki-laki tersebut tumbuh rasa cinta kepadanya dan menyatakannya.

Namun ternyata naluri untuk berpenampilan menarik dan sikap pasif aktif ini, tidak sebatas untuk menarik perhatian pasangan saja. Karena dalam kehidupan sehari-hari pun wanita selalu ingin berpenampilan menarik, meskipun tidak bertujuan untuk mendapatkan pasangan.
Sayangnya banyak wanita yang mengikuti naluri ini dalam porsi yang sangat banyak, sehingga untuk ukuran tradisi Timur terlebih lagi untuk ukuran agama Islam, wanita yang berpenampilan terlalu menarik ini bisa jadi dinilai telah melewati batas.

Misalnya, seorang gadis yang mengenakan kaos ketat dan celana “Gemes” (istilah untuk celana pendek yang sampai pangkal paha), kemudian dia dengan ceria jalan-jalan ke Mall. Dijamin 1000% penampilannya itu akan menarik perhatian. Jangankan gadis yang cantik, gadis yang berparas biasa pun kalau memakai pakaian seperti ini, bisa membuat semua mata terutama mata lelaki, untuk meliriknya.

Gadis bercelana "gemes"

Masalahnya, di bulan puasa ini orang yang puasa harus bisa menjaga dirinya tidak saja dari hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasa. Salah satunya adalah melihat bagian-bagian tubuh wanita, selain wajah dan tangan (Aurat).
Nah ketika sang gadis bercelana gemes ini jalan-jalan di Mall, apa yang akan terjadi pada pengunjung Mall lainnya yang kebetulan puasa?

Dari sudut pandang si Gadis bercelana gemes, memang itu hak nya dia untuk mengenakan pakaian jenis apapun, hak nya dia untuk berpenampilan seperti apapun. Namun disisi lain, perilakunya ini membawa dampak pada orang-orang disekitarnya, terlebih sekarang banyak orang yang sedang berpuasa.

Selain itu, reaksi laki-laki yang melihat dirinya juga ada berbagai macam. Ada yang begitu melihat dia segera memalingkan pandangannya ke tempat lain, ada juga yang sebaliknya justru menikmati “keindahan” yang terpampang di depan matanya.

Baiklah, gadis bercelana gemes memang contoh yang ekstrim. Contoh lainnya adalah di tempat kerja. Busana kerja wanita-wanita juga dilandasi oleh undang-undang “naluri berpenampilan menarik” ^_^. Salah satu yang sedang nge-tren sekarang ini adalah busana kerja berbahan Sifon yang transparan.
Dengan mengenakan busana seperti ini, seorang wanita memang tampil formal, namun sekaligus sensual. Betapa tidak, meski modelnya kemeja kerja, namun bahannya yang transparan bisa memperlihatkan “jeroan” yang dikenakan sang wanita. Penampilan seperti ini justru lebih menarik daripada wanita yang benar-benar membuka bajunya dan hanya menyisakan “jeroan”. Lebih menimbulkan rasa penasaran.

Kemeja kerja transparan

Penampakan wanita dengan busana seperti ini, sungguh sungguh menjadi godaan berat terutama bagi para lelaki yang sedang berpuasa yang kebetulan adalah rekan-rekan kerja sang wanita berbaju Sifon. Lebih parah lagi, para lelaki ini tidak bisa menghindarinya, karena mereka di area kerja yang sama dan mereka akan bertemu dan bersama-sama selama jam kerja.

Kalau sudah begini, untuk urusan pahala Puasa yang bisa dilakukan hanya berserah diri pada Yang Maha Kuasa….. ^_^


***

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.