Solusi Harga Panen Yang Jatuh

26 Comments
Kebun Sayur
Kebun Sayur
Suatu hari saya berkunjung ke rumah sanak famili di Pelag, yang berada di kaki gunung Puntang, Garut, Jawa Barat. Garut sudah sejak lama menjadi sentra Industri pertanian, mulai dari sayuran seperti Kol, Wortel, Kentang, Tomat, dsb, sampai tanaman Akar Wangi sebagai bahan untuk membuat parfum.

Dalam pembicaraan diketahui bahwa para petani di sana sedang dirundung susah. Hal ini terjadi karena meski sekarang sudah masuk musim panen, namun harga-harga jatuh. Harga Kol misalnya, hanya 600 rupiah per Kg-nya, dan Tomat hanya 200 rupiah per Kg.

Dengan harga segitu, jangankan untuk menutup modal menanam yang sudah dikeluarkan dari sejak mengolah tanah sampai menjelang panen, biaya untuk kuli angkut dari ladang ke kendaraan pengangkut aja nggak nutup.

Akhirnya ada beberapa petani yang memilih "nyilep" hasil pertaniannya. Nyilep atau disilep adalah mengubur hasil pertanian dan menjadikannya pupuk. Hal ini dilakukan karena meskipun dipaksa dipanen, biaya proses memanen ini tidak terbayar oleh harga jual. Konon lagi biaya modal selama menanam.

Mengetahui betapa petani terpaksa nyilep, hati saya sakit. Betapa hasil jerih payah para petani tidak ada harganya. Selain itu betapa besarnya kemubaziran yang terjadi.

Nyilep ini sama saja dengan mubazir, karena bahan makanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan, akhirnya hanya dikubur yang sama saja itu dengan membuangnya.

Namun untuk kemubaziran yang terjadi ini, saya tidak menyalahkan petani, karena bagaimanapun ini keputusan paling logis yang bisa diambil.

Namun apakah tidak ada solusi untuk ini?

Dalam perjalanan pulang saya merenung, mencari-cari apakah ada solusi untuk ini?

Akhirnya setelah sekian hari merenung dan berpikir, saya merumuskan 3 langkah untuk membantu para petani mengatasi masalah panen ini. 3 langkah ini adalah:
  1. Informasi
  2. Transaksi
  3. Delivery

Informasi
Para petani menginformasikan mengenai waktu panennya kira-kira tanggal berapa, dan volume panennya, kira-kira berapa Kg (kwintal/ton).

Informasi ini dikirim ke sentra informasi. Maunya sih ada satu website/aplikasi yang bisa menjadi semacam "Papan Pengumuman". Namun kalau tidak ada, untuk sementara bisa pake sosial media semacam facebook group/page, dll.

Apa manfaat dari informasi ini?

Dengan adanya informasi mengenai ketersediaan suatu produk pertanian jauh-jauh hari, maka pihak konsumen yang membutuhkan produk tersebut bisa memetakan pemenuhan kebutuhannya ini.

Contoh paling gampang misalnya: Ada orang yang mau hajatan. Rencananya mau nikahin anak semata wayangnya pada tanggal 7, bulan depan. Kemudian dari informasi di "Papan pengumuman" dia jadi tahu bahwa di kecamatan tetangga, ada petani yang akan panen wortel sekitar tanggal 1-5, dengan volume sekitar 3 ton. Maka si empunya hajat bisa menghubungi petani, dan memesan 1 kwintal wortel untuk kebutuhan hajatan.

Ya, di sistem ini kita utamakan pemenuhan konsumsi untuk wilayah yang paling dekat dulu, bisa dalam lingkup antar desa, antar kecamatan se kabupaten, antar kabupaten yang berdekatan, dalam provinsi, baru lintas provinsi, dan Ekspor.

Transaksi
Untuk Transaksi online seperti ini, maka faktor keamanan adalah faktor yang sangat sangat penting. Karena pada transaksi inilah potensi kejahatan berupa penipuan bisa terjadi.

Namun sebelum ke masalah keamanan, kita bahas mengenai penetapan harga jual terlebih dahulu ya.

Berdasarkan penuturan bapak petani famili saya itu, harga produk pertanian ditentukan oleh pasar, dan dalam hal ini para tengkulak dan bandar di pasar yang memegang kebijakan akan memberi harga berapa pada suatu produk hasil pertanian.

Saya yakin mekanisme penentuan harga secara resmi, tentu ada peraturannya dari pemerintah. Namun kenyataan di lapangan, ya.. seperti itulah.

Nah, dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan, maka masalah penentuan harga ini, mari kita tentukan dengan seadil-adilnya.

Maksudnya, petani menghitung berapa modal yang harus dikeluarkan dari sejak mengolah tanah pertama kali, sampai memanen dan mengangkut hasil panennya ke mobil pengangkut. Kemudian ambillah untung dengan sewajarnya. Ya... bagaimanapun petani punya anak istri yang harus diberi makan dan disekolahkan bukan? wajarlah kalau mengambil untung.

Dari hasil perhitungan tersebut, keluarlah harga per kilogramnya.

Harga ini juga disebutkan pada saat sang petani mengirimkan informasi rencana panen ke "Papan Pengumuman".

Ok, lanjut ya. Nah untuk transaksi ini, selain komponen harga produk, yang perlu dihitung adalah komponen harga/biaya pengiriman (Delivery). Dan ini ditentukan oleh kurir yang mengirimkan produk ke konsumen. Dan dalam penentuannya ini lagi-lagi harus dilandasi oleh niat saling tolong-menolong dalam kebaikan, bukan didorong nafsu kerakusan.

Setelah diketahui harga produk dan biaya pengirimannya, barulah bertransaksi, antara konsumen, petani, dan pengirim/kurir.

Disinilah sistem keamanan mengambil peran.

Pada transaksi-transaksi yang dilakukan secara online, sudah tak terhitung banyaknya kejadian kejahatan penipuan yang dilakukan oleh pembeli maupun pedagang.

Ada yang pembeli yang tertipu, dia sudah transfer uang pembelian, namun barang tak kunjung dikirim oleh penjual. Ada juga Penjual yang tertipu, barang sudah dikirim, namun uang tidak pernah ditransfer oleh pembeli. Malah kurir juga ada aja yang menipu, terutama jika mengirimkan barang-barang berharga, seperti Hp, misalnya. Ada terjadi kasus kurir yang mencuri barang kiriman berupa hp. Demikianlah, transaksi Online itu banyak sekali potensi kejahatannya.

Bagaimana kita mengatasi masalah keamanan ini?

Solusinya adalah dengan menggunakan Escrow. Escrow adalah pihak ke-3 yang dipercaya untuk memegang uang transaksi. Jadi pada suatu transaksi yang dilakukan secara online, pihak penjual dan pembeli (dan kurir) menunjuk Escrow untuk memegang uang transaksinya.

Ketika kesepakatan jual beli sudah terjadi, si pembeli memberikan uang ke Escrow. Escrow lalu memberitahu penjual bahwa si Pembeli sudah membayar, tapi uang tersebut ditahan di Escrow. Penjual pun kemudian mengirimkan barangnya, dan tidak lupa memberitahu Escrow, bahwa barang sudah dikirimkan, melalui seorang kurir. Escrow pun memberitahu pembeli, bahwa barang sudah dikirimkan oleh penjual.

Ketika barang sudah diterima, Pembeli memberitahu escrow bahwa barang sudah diterima dan kondisi barang sesuai dengan kesepakatan. Setelah mendapat informasi ini, maka Escrow kemudian membayarkan uang transaksi yang tadi dibayarkan oleh Pembeli, ke Penjual dan Kurir.

Demikianlah kira-kira alur proses dari Escrow, sebagai penjamin keamanan sebuah transaksi.

Pertanyaannya, untuk transaksi pembelian produk pertanian ini, yang jadi Escrow-nya siapa?

Terus terang saya belum kepikiran ^_^'

Andai bank-bank yang ada, membuat suatu layanan sejenis Escrow ini, tentu akan sangat membantu. Atau memang sudah ada? bank yang membuka layanan Escrow ini? kalau sudah ada mohon diberitahu ya.

Yang dimaksud disini adalah solusi Escrow Retail, kalau bank yang bertindak sebagai Escrow sih udah ada, tapi itu untuk bisnis skala besar, saya juga kurang begitu mengerti tentang bank Escrow skala besar ini.

Yang saya bahas disini adalah layanan bank yang jadi penjamin keamanan transaksi retail dengan mejadi pihak ketiga (Escrow).

Sebenarnya untuk urusan transaksi ini, kalau mau menggunakan e-commerce yang sudah ada juga bisa. Misalnya mau pake si merah, si hijau, ataupun si warna lainnya bisa aja. Namun untuk mengkombinasikannya dengan sistem "Papan Pengumuman" tadi, harus ada usaha khusus yang fokus menggabungkan keduanya.

Nah, Sampai disini, ada yang terinspirasi untuk membuat start up "Papan Pengumuman Hasil Pertanian"?

Monggo silahkan, segeralah diwujudkan, biar petani segera terbantu...

Ok, lanjut ya, ke bagian ketiga yakni Delivery.

Delivery
Pada Sistem "Papan Pengumuman" ini memungkinkan terjadinya transaksi produk hasil pertanian, dari konsumen level keluarga, Penjual Sayur keliling, sampai Saudagar Besar. Dari yang membeli hanya 1 Kg, sampai ton-ton-an.

Setelah transaksi terjadi, tahap berikutnya adalah pengiriman hasil pertanian dari petani ke pembeli.
Pengiriman ini bisa dilakukan oleh kurir. Dan karena jenis transaksinya mulai dari kelas Teri sampai kelas Dinosaurus, maka pihak yang jadi Kurir-nya pun tentunya beragam, mulai dari modal "ingkig" (jalan kaki) sampai truk tronton yang bisa muat berton-ton.

Karenanya sistem papan pengumuman ini harus bisa diakses oleh semua orang dengan berbagai cara. Mulai dari mengakses lewat laptop, tablet, smartphone, sampai telpon si Nitnit yang cuma bisa nelpon dan sms doang pun bisa mengakses informasi yang ada di "Papan pengumuman".

Malah kalau perlu, di balai Desa, Serambi Mesjid, atau tempat umum lainnya, disediakan TV layar lebar untuk manampilkan "Papan Pengumuman" ini, sehingga orang yang tidak punya akses ke alat komunikasi seperti telpon, smartphone dan komputer, tetap bisa mendapatkan informasinya.

Gimana caranya?

Well, kalau itu sih porsinya para start-up-er untuk mewujudkannya. Monggo silahkan dibuatkan solusinya. 😃

Untuk sekarang, sementara kita fokus di alur bisnisnya aja dulu ya.

Sistem delivery produk pertanian ini kurang lebih seperti ojol sih. Jadi ketika ada kebutuhan untuk mengirimkan 10 Kg Tomat dari Kp. Ciharashas ke Kp. Sekeloa misalnya, maka kurir bisa mengambil orderan itu dengan ongkir yang sesuai.

---
Baiklah, demikianlah kira-kira... usulan solusi yang saya kepikiran, untuk membantu masalah petani ini.

Yang perlu saya tekankan kemudian adalah, betapa bergunanya informasi tentang jenis produk, waktu panen dan lokasi panen ini. Karena dari sini bisa terpetakan ketersediaan bahan-bahan makanan dan hasil pertanian lainnya. Dan ini bisa diakses oleh siapa saja.

Kalau sudah terpetakan, maka kita bisa melakukan pemerataan penyerapan hasil panen supaya tidak ada lagi hasil bumi para petani yang disilep dan mubadzir. Semuanya bisa terserap dengan harga yang pantas.

Satu hal lagi.

Suatu keluarga mungkin hanya membutuhkan 3 Kg wortel seminggu. Namun didekat rumahnya, ada panti Asuhan yang dihuni oleh 100 orang anak yatim. Maka untuk memenuhi kebutuhan gizi panti asuhan tersebut, keluarga tadi memesan 50 Kg wortel, mengambil 3 Kg untuk dirumah dan menyumbangkan Wortel yang 47 Kg-nya ke Panti Asuhan tersebut.

Dari contoh kejadian ini, maka di sistem "Papan Pengumuman" tadi pun bisa dilengkapi juga dengan fitur "sedekah", dimana pihak-pihak yang membutuhkan bahan makanan bisa memposting kebutuhannya, dan kaum dermawan bisa memenuhi kebutuhan tersebut melalui sedekahnya.
Masya Allah...

***
Whew, panjang juga ya 😊.

Ok, takutnya lupa lagi, kita buat ringkasannya ya:
1. Informasi: Sistem "Papan Pengumuman" (website/mobile app), kalau belum ada, sementara menggunakan facebook page/grup.
2. Transaksi: Escrow (bank, perusahaan jasa rekening bersama, e-commerce)
3. Delivery: sistemnya seperti ojol

Demikianlah ide saya, kalau ada kritik, saran maupun tambahan ide, dipersilahkan...

***
Ingin tahu lebih banyak tentang start up?
Bisa di baca pada artikel saya yang lain:

Langkah Awal Memulai Start Up




You may also like

26 komentar:

  1. Saya langsung mengelus dada pas baca bagian, kol sekilo hanya 600 rupiah dna tomat sekilo hanya 200 rupiah. ya Allah saya langsung merasakan bagaimana sedihnya pada petani ya, Mas. Sidah keluar modal, tenaga dan waktu, tapi gagal panen. Makanya sempat nonton, petani juga membuang-buang hasil panennya ke jalan, sebagai ungkapan kesedihan mereka.

    Tapi Insya Allah selalu ada jalan mengatasi hal ini. setidaknya bisa menrapkan 3 hal itu ya, Mas. Informasi, Transaksi, Delivery.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, semoga segera ada orang yang bisa mewujudkan sistem itu. Saya juga mau mewujudkannya, meski butuh proses, tapi kalau ada orang yang bisa lebih cepat, saya bersyukur sekali.

      Hapus
  2. Sedih akutu bacanya mas.. mosok tomat 200.
    Saya malah kepikiran, gimana petani bisa menyediakan satu lahan untuk digarap untuk sektor wisata edukasi. Sehingga harga jual produk pertanian lebih tinggi .selain itu ilmunya juga menjadi pengetahuan buat anak-anak yang berkunjung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. Btw, saya pernah melihat video viral gitu, di Malang, ada yang membuat konsep Sawah digabung dengan Restoran. Dan itu dibuat Instagramable. Keren hasilnya

      Hapus
  3. Baca harga sayuran tadi buat nyesek dada mas. Saya teringat keluarga temen, orang Garut juga. Dia cerita memang, harga kol merosot, apalagi timun. Alhamdulillah mudah-mudahan dengan sistem kayak gini, para petani jadi terbantu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kita ngikutin grup-grup petani, gak cuma di Garut aja, tapi di banyak daerah, bertani apapun pas panen justru harganya turun ke titik yang tidak masuk akal. Ini harus dicari solusinya, supaya nggak terjadi terus menerus.

      Hapus
  4. Semoga solusi ini bisa diterapkan banyak pihak yaa mas..biar harga panen yang jatuh bisa teratasi. Dan gak banyak pihak yang merasakan imbasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Sengaja saya sebar luaskan ide ini, dengan maksud, siapapun yang bisa mewujudkannya, ini akan mambawa manfaat buat banyak pihak.

      Hapus
  5. Kasain para petani,,,gak kebayang...capeknya nanam...trs panen cmn dihargai gtu,....petani sebaiknya diajarkan cara pakai online shop...perlahan-lahan dan diberikan bantuan pinjaman modal utk usaha..plus distribusi dibantulah oleh pemda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kasian mbak. Semua ikhtiar yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Sambil nunggu Pemda, kita juga sambil bergerak. ^_^

      Hapus
  6. Wah bagus ini ide brilian untuk para pelaku start up mewujudkan pemerataan hasil panen ya. jadi gak ada lagi "nyilep" yang bikin hati saya juga sakit membacanya... capek2 bertani, menunggui hasilnya eh biaya panennya mahal, huhuuu... smoga ke depannya hasil tani bisa diserap dg baik seperti yg buat sedekah panti asuhan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      semoga Allah memudahkan ya mbak, orang-orang "key person" untuk keberhasilan sistem ini, diberi jalan oleh Allah untuk mewujudkannya.

      Hapus
  7. Sayang banget ya hasil panen dibuang gitu aja, dan ternyata memang harganya sangat murah sekali, ga kebayar sama jerih payah saat menanam hingga panen. Semoga solusinya akan membantu para petani, dan memakmurkan para petani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Langkah selanjutnya kayaknya mempertemukan konsumen langsung dengan petani, jadi tidak melalui perantaraan Tengkulak/Bandar lagi. Karena kalau saya baca-baca di grup-grup petani, Tengkulak/Bandar ini sering kali menetapkan harga yang terlalu murah dengan berbagai alasan.

      Hapus
  8. Duh, kasian banget ya, kalau semua petani kayak gini. Perhatian pemerintah kurang jadi harus kita yang waras ikut bantu ya Kak

    BalasHapus
  9. Jadi paham juga arti nyilep dan disilep . Demi kebaikan ya kak ini. Pun prihatin.

    BalasHapus
  10. sama seperti di Medan mas, ada daerah namanya Brastagi penghasil sayur dan buah buahan. Di tingkat petani, tak jarang mereka mengalami harga yang buat mengelus dada. Bermanfaat banget infonya mas, bisa jadi referensi bagi para petani.

    BalasHapus
  11. menurut sy petani tdk salah jg kalau membuang hasil panen atau mengubur kembali. Petani sdh sibuk dng urusan tanam menanam nah hrs ada pihak lain yg bisa memanfaatkan hasil panem petani yg tinggal di desa dekat dngan hasil panen. Atau istri2 petani dilatih mengolah bahan mentah untuk menjadi bahan siap santap sehingga harga jual menjadi tinggi. Misal panen tomat yg berlebih di buat manisan tomat untuk dijual ke sentra oleh2..atau saus tomat ala rmh tangga untuk pedagang bakso dan sejenisnya. Sistem jual hasil panen secara langsung dlm bentuk mentahan bnyk resikonya..oleh krna itu penting membekali pengetahuan atau melatih orang sekitar yg pnya niat wirausaha tuk mengolah bahan mentah yg tak terserap pasar jd bahan jadi dan bisa disimpan.

    BalasHapus
  12. Wow! kol satu kg hanya 600 rupiah dan tomat satu kg hanya 200 rupiah. mbayangin petani yang mati-matian menanamnya. nggak tega rasanya liat harga2 ini :(

    BalasHapus
  13. wah keren kak idenya. Petani kita memang butuh bantuan, karena kebanyakan petani sekarang adalah orang tua sedangkan anak muda beralih bekerja di pabrik. Dunia tani butuh inovasi dari anak muda. Di Ig kucingpetani itu salut lho kak, dia petani muda yang berinovasi dan sukses.

    BalasHapus
  14. Ini harusnya menjadi solusi pemerintah juga yaa membantu memperbaiki kesejahteraan dan menjaga petani agar tetap stabil dalam berusaha tani. Sedih banget bacanya di awal mas. Ide mas boleh juga, saya menambahkan memang ini bukan peran beberapa orang aja, harus ada dukungan juga dari koperasi atau daerah sekitar dalam memajukan usaha rakyat salah satunya ya para petani kecil di atas.

    BalasHapus
  15. Eh ya ampun aku baru tau kalau harganya kelewat murah dan bahkan enggak nutup modal. :( Dan soal nyilep itu aku juga baru tau. Wah, kalau ada yang pengin soal "Papan Pengumuman" itu aku dukung banget, sih! Biar para petani di desa juga terbantu.

    BalasHapus
  16. Ipar saya kerja sebagai sales insektisida dan pupuk untuk para petani di Garut, kadang suka kebagian juga hasil panen dari petani yang seger banget. Nyesek banget bacanya kalo harus nyilep kaya gitu. Kerugiannya lumayan banget.

    BalasHapus
  17. idenya bagus mas, tinggal dieksekusi pasti akan menambah kesejahteraan petani :)

    BalasHapus
  18. Oh jadi pihak ketiga itu disebut ya escrow ya? Aku serung dengar istilah escrow tapi Kupikir nama aplikasi hehe.

    Ya Allah sedih euy masa cuma 200-600 per kg :( semoga petani di pedesaan makin sejahtera ya

    BalasHapus
  19. kalau di kampung aku ada namanya tengkulak, jadi mereka juga nih yang mainin harga pasar

    BalasHapus

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.