Cerpen - Kuncup Terlanjur Gugur

10 Comments

"Jangan sampai tertipu oleh kebahagiaan semu, sehingga mengorbankan kebahagiaan yang hakiki"

Kumandang takbir bersahutan dari speaker mesjid-mesjid. Semburat manusia keluar dari pintu-pintu masjid menandai berakhirnya prosesi shalat hari Raya Idul Fitri. Atik segera melipat sajadah dan mukenanya, kemudian begabung dengan rombongan orang-orang yang keluar dari pintu Timur masjid. Di halaman masjid dia bertemu dengan tetangganya dan beberapa teman masa kecil dulu, yang merantau dan sekarang tengah pulang kampung.

Para jama'ah riuh bersalaman dengan tetangga, saudara, kenalan dan teman main. Momen ini jadi kesempatan untuk melampiaskan rindu bertemu dengan orang-orang yang hanya pada saat-saat seperti itu saja bisa menghadirkan dirinya di kampung. Anak-anak bergerombol saling memamerkan baju lebaran masing-masing.

Atik riuh berceloteh sambil bersalaman dengan mak Ipih, wak Hamidah, ibu hajjah Rustini, dan Silvy, anak ibu hj. Rustini yang kini tengah kuliah kedokteran di kota. Segera bergabung dengan kelompok celoteh itu Hartini, Dewi, Sari dan nenek Iyah.

Diluar mesjid tampak para pemuda tanggung nongkrong berjejer di pinggir jalan dekat selokan. Beberapa diantaranya sambil merokok. Busananya baju koko dan kain sarung, dihiasi peci yang sama sekali tidak menutupi rambut. Meski tampak saling bicara dengan temannya, tapi mata-mata mereka menyelidiki wajah-wajah yang dihiasi mukena dan jilbab itu. Menilai bidadari mana yang paling cantik.

Di dalam masjid masih terdapat bapak-bapak dan orang-orang tua. Termasuk imam dan khatib shalat Id barusan, Kyai Muslih. Nampak mereka berkumpul di dekat mimbar sambil berbincang-bincang ringan.

Langit cerah berhias awan-awan putih menaungi masjid desa itu. Kokok ayam masih bersahutan di belakang rumah-rumah. Burung-burung ramai berkicau.

Atik masih riuh berceloteh dengan kumpulannya. Tiba-tiba bahunya terasa ada yang menepuk, "Hei, cetar..." Mendengar panggilan itu mata Atik terbelalak. Hatinya merasakan seribu satu sensasi. Cetar adalah panggilan sahabat karibnya sewaktu sekolah dulu. Dia dipanggil cetar karena dulu rambutnya panjang sampai melewati pantat namun tipis. Rambut tipis panjangnya ini selalu dia kepang. Namun apa daya, alih-alih indah, kepang rambutnya ini malah jadi mirip cambuk. Itulah asal muasalnya dia dipanggil cetar. Namun hanya sahabatnya saja yang dia perbolehkan memanggil dirinya demikian. Kalau ada orang lain yang memanggilnya begitu, dia tak segan untuk mencubit si pemanggil tersebut.

"Isna!", pekik Atik setelah berbalik dan memastikan siapa yang memanggilnya cetar. Atik langsung  memeluk sahabatnya itu. "Makin kinclong aja kamu" ujar Atik sambil mencubit pipi Isna. "Ah biasa aja kali" kilah Isna merendah.

Isnawati Febriani, kini seorang dokter gigi yang membuka praktek di Kota. Sosoknya tinggi langsing berkulit putih. Wajahnya bersih dan cantik. Isna sudah berkeluarga, dikaruniai dua orang putra. Yang paling besar baru SD kelas 5, sedang adiknya baru masuk SD tahun ini.

Adapun Atik, dia juga sudah berkeluarga dan punya tiga orang anak. Anak yang paling besar harusnya lulus SMA tahun ini. Namun apa daya, suaminya yang hanya kerja serabutan, tidak mampu membiayai sekolah anaknya. Alhasil anak pertamanya terpaksa putus sekolah ketika kelas dua SMA. Kini dia bekerja menjadi montir di Bengkel Motor kecil di samping pasar. Penghasilannya digunakan untuk membantu menjaga dapur tetap ngebul. Anak Atik yang kedua kini duduk di bangku SMP, sedang anak yang ketiga masih SD.

Melihat sahabatnya Isna, Atik hanya bisa menelan sesal. Andai saja dulu dia tidak mengalami "kecelakaan" hamil diluar nikah saat kelas 3 SMA, mungkin dia bisa melanjutkan sekolah bahkan kuliah. Dengan ijasah Sarjananya dia akan mendapat pekerjaan yang layak. Dan tentunya akan menikah dengan lelaki yang "jelas" mata pencahariannya.

Lain dengan yang dialaminya kini. Akibat dulu terlena dengan pacarnya, mereka melangkah terlalu jauh, sehingga mengakibatkan hamilnya Atik. Sang pacar yang juga sama-sama duduk di bangku kelas 3 SMA, dituntut untuk bertanggung jawab dan terpaksa menikahinya.

Hanya saja bangunan pernikahan mereka berdiri diatas pondasi yang sangat rapuh. Pondasi ekonomi keluarganya sangat-sangat lemah. Suaminya tidak pernah lulus SMA dan tidak punya keterampilan khusus. Akibatnya dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang "seperti orang-orang".

Lebih parah lagi, Suaminya juga termasuk orang yang malas namun rasa gengsinya tinggi. Ia tidak mau bekerja kasar atau berjualan dengan benar. Yang dilakukannya untuk mencari uang adalah mencari proyekan-proyekan, atau bahasa pendeknya calo.

Jika ada rencana pembangunan jalan desa misalnya, dia tampil paling depan. Setelah proyeknya dipegang, dia akan cari orang yang mau jadi sub kontraktor, memberikan sebagian dana proyek ke sub kontraktor tersebut untuk membangun jalan, sedangkan sebagian lagi masuk kantong. Karena sang sub kontraktor mendapatkan dana yang pas-pasan bahkan terkadang kurang, maka demi untuk mendapat untung, mereka terpaksa mengurangi kualitas bahan-bahan yang digunakan untuk membangun jalan. Alhasil jalan yang dibangunnya berkualitas buruk, tidak tahan lama. Ketika terkena hujan sedikit, jalannya langsung rusak, berlubang disana-sini. Malah di beberapa tempat, jalan tersebut kondisinya sangat parah, sehingga lebih mirip sungai kering ketimbang jalan.
 
Suami Atik juga termasuk playboy yang suka menyeleweng. Jika mendapatkan uang dari hasil jadi calo, hanya sebagian saja yang digunakan untuk menafkahi keluarga. Sebagiannya lagi digunakan untuk berfoya-foya dengan wanita selingkuhannya. Meski itu tidak berlangsung lama, karena uangnya akan cepat menguap habis.

Dengan tabiat suami yang demikian, tak heran kalau kondisi ekonomi keluarga Atik sungguh memprihatinkan.

"Tik, pipi kamu kenapa?" tanya Isna ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa pada pipi kiri Atik bagian belakang, dekat telinga. Bagian itu nampak sedikit lebam membiru. Rupanya ketika mereka berpelukan, jilbab Atik tergeser kebelakang, dan menampakkan bagian pipi yang sebenarnya sedang berusaha ditutupi oleh Atik.

"Ah, nggak, bukan, bukan apa-apa kok" jawab Atik tergagap, sambil tangannya berusaha merapikan kembali jilbabnya dan menutupi bagian itu.

"Tik, aku tahu itu lebam Tik, bukan blast on. Kenapa? Dipukul suamimu ya?" cecar Isna.

"Serius Na, aku nggak apa-apa", Atik tetap berkilah sambil mencoba pergi dari pelataran masjid. Namun Isna pantang menyerah. Dia tahu sahabatnya dalam masalah, karenanya Isna pun mengikuti Atik, berlalu dari kerumunan jama'ah di halaman Mesjid.

"Tik, aku ini sahabatmu sejak lama. Kalau kamu dalam masalah, aku ingin membantumu" kata Isna sambil berusaha menjajari langkah Atik.

Atik trenyuh mendengar pernyataan sahabat karibnya itu. Dia tahu ucapan Isna bukan basa-basi pemanis mulut. Karenanya Atik kemudian memegang tangan Isna, dan mengajaknya ke rumah Atik.

Sesampainya di rumah, suasana nampak lengang. Rumah Atik kecil saja dan dari luar nampak kusam karena catnya sudah memudar. Di ruang tamu nampak sehelai karpet bergambar yang tidak terlalu baru. Beberapa toples makanan berjajar ditengah.

Atik mempersilahkan sahabatnya masuk. Isna memasuki rumah itu dengan perasaan trenyuh. Betapa sahabatnya ini kurang beruntung dalam hidup.

Setelah mereka duduk, mulailah Atik menceritakan permasalahan hidup yang dialaminya.

Sore kemarin dia bertengkar hebat dengan suaminya. Bibit pertengkaran itu pada awalnya adalah perihal persiapan lebaran. Namun kemudian melebar kemana-mana. Puncaknya Suami Atik menampar dan memukulinya kemudian pergi, dan hingga pagi ini belum kembali.

Atik menceritakan itu diiringi dengan uraian air mata dan isak tangis. Isna berkaca-kaca dibuatnya. Hatinya turut hancur mendengar penderitaan sahabatnya itu.

Atik menceritakan tabiat suaminya kepada Isna. Betapa mereka sering mereka bertengkar, dan ketika bertengkar tak jarang suaminya melakukan kekerasan kepada Atik dan kepada anak-anak.  Karena tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh dengan pertengkaran dan kekerasan, anak-anak Atik kemudian tumbuh menjadi anak yang liar, kurang kasih sayang.

Isna yang selain dokter, kini juga tengah memperdalam ilmu parenting, mulai merangkai semua alur kehidupan sahabatnya. Jika dirunut, rupanya hal ini terjadi karena baik Atik maupun suaminya, sebenarnya belum siap membangun rumah tangga dan belum siap jadi orang tua. Mereka menikah karena terpaksa, dan mempunyai anak juga terpaksa, akibat ulah mereka sendiri.

Alhasil, banyak bagian-bagian diri mereka yang belum matang namun langsung dibebani dengan tanggung jawab sebagai suami istri dan orang tua. Yang terjadi kemudian adalah apa yang keluarga Atik alami sekarang. Kehidupan keluarga mereka carut-marut dan penuh penderitaan.

Atik mulai kehabisan bahan keluh kesah, karena semua beban di hatinya sudah dikeluarkan, diceritakan pada sahabat karibnya itu. Tangisnya mulai mereda, meski menyisakan isak yang berjeda.

Isna memegang tangan Atik, menunjukkan simpatinya yang mendalam.

Hari semakin siang ...



You may also like

10 komentar:

  1. kelanjutannya mana kak? duh udah lama euy gak baca cerpen, biasanya di majalah tuh suka ada cerpen yang biasanya aku baca. karena seru ceritanya

    BalasHapus
  2. Belajar dari kisah Atik, terlena di awal ternyata membawa bencana seumur hidupnya. Kini tinggal penyesalan yang tersisa. Reminder untuk anak-anak zaman sekarang

    BalasHapus
  3. Udah malas gengsi nih cerita bikin gemes aja ha ha ha, tapi begitu adanya ya atas nama cinta ketika melakukan yg seharusnya belum boleh dilakukan..akhirnya ya atas nama realita yg ada.

    BalasHapus
  4. Cerpen yang fenomenanya, sering terjadi di kehidupan nyata. Kesenangan sesaat, tetapi membawa pada masa depan yang kurang baik. Bahkan membawa penyesalan.

    BalasHapus
  5. hiks hiks sering banget dapat masukan dan cerita teman teman seperti ini

    ada temen dari SMP yang seumur perkawinan dipukulin sama suami yang pacaran sejak SMP! Kok tega yaaaa dia mau aja dipukulin gitu!

    BalasHapus
  6. Atik harus menanggung beban dan penyesalan seumur hidup dari kelakuannya di masa SMA sama si suami, emang si jadi orang tua itu berat. Yang usia udah mateng dan udah belaja parenting aja masih sulit apalagi kejadian kaya si Atik.

    BalasHapus
  7. Pengen tau kelanjutannya, penasaran sama cerita kelanjutan nya. Aq klo udah baca cerpen susah berhenti.

    BalasHapus
  8. Selama ini Atik tidak punya teman cerita juga mungkin, ya. Jadi dia pendam sendiri, sebagian mungkin juga karena sadar ada bagian dirinya yang ikut andil, jadi mengeluh ke orang yang tidak tepat pun malah bisa jadi bumerang.

    BalasHapus
  9. Dari cerpen ini jadi sebuah reminder bahwa untuk membentuk masa depan lebih baik tentu memerlukan persiapan matang. Pun dlm membina keluarga peran dan ilmu parenting juga baik untuk dipahami

    BalasHapus
  10. Udah lama gak baca cerpen2 lagi nih, eh ketemu tulisan mas Irpan. Ditunggu tulisan tulisan selanjutnya ya mas

    BalasHapus

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.