Langsung ke konten utama

Cerpen: Evolusi "Damai"



Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang bernama Dhamodara. Dia adalah penduduk Kota Raja. Suatu hari Dhamodara pulang dari tempatnya bekerja menaiki kudanya. Dia menyusuri jalananan Kota Raja, di jalan Tabib Satrio. Jalan ini ada dua arah, dan dibeberapa tempat terdapat belokan untuk memutar balik berganti arah.

Saat itu malam hari, memang Dhamodara pulang kerja agak telat saat itu. Dia hendak memutar balik, namun karena tempat memutar balik masih cukup jauh didepan, dia memilih tempat memutar yang tidak seharusnya, alias ilegal. Sebelum memutar, dia memperhatikan sekitar. Soalnya di tempat memutar illegal ini, biasanya ada prajurit Kerajaan yang berjaga dan menindak para pelanggar. Setelah melihat sekeliling dan tidak terlihat adanya prajurit Kerajaan, maka Dhamodara pun menarik tali kekang kudanya untuk memutar balik. Setelah masuk ke arah yang berlawanan, entah darimana datangnya, tiba-tiba didepan telah berdiri seorang prajurit Kerajaan. Dia melambaikan tangannya memerintahkan Dhamodara untuk meminggirkan kudanya
.

“Sial!”, rutuk Dhamodara dalam hati. Namun dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain memerintahkan kudanya untuk menepi ke pinggir jalan. Prajurit Kerajaan itu menghampiri menyapa sopan. “Selamat malam pak, bapak telah melanggar peraturan. Tempat itu bukan tempat untuk memutar balik, namun bapak tetap memutar balik disana. Bisa lihat Lontar Ijin Menunggang Kuda dan Lontar Kepemilikan Kudanya pak?”. Dengan tanpa banyak membantah, Dhamodara mengeluarkan semua lontar yang diminta prajurit Kerajaan tersebut, dan menyerahkannya.

“Mari ikut saya.” Kata Prajurit itu sambil memasuki halaman kedai yang sudah tutup. “Hemmm, disini rupanya mereka bersembunyi…”, guman Dhamodara dalam hati. Halaman Kedai itu memang sangat cocok jadi tempat persembunyian, karena mempunyai atap yang rendah dan bagian depannya tertutup kereta yang diparkir. Dari dalam bisa leluasa mengawasi jalanan, dan kalau ada pelanggar, bisa dengan cepat keluar dan menghentikannya.

Dhamodara sudah tahu tabiat oknum prajurit Kerajaan yang seperti ini. Meskipun mereka “menegakkan peraturan” namun dalam pelaksanaannya, urusan pelanggaran bisa selesai dengan membayar sejumlah kepeng.

Dhamodara dan  prajurit itu duduk di sebuah bangku kayu, kemudian sang prajurit mengeluarkan seikat lontar. “Baik pak, bapak telah melanggar, dan menurut undang-undang kerajaan seperti yang tertulis di Lontar ini, bapak harus ke pengadilan dan membayar denda Lima Ratus Kepeng.” Demikian pembukaan yang diucapkan oleh prajurit. “Nama bapak saya catat ya”, katanya sambil mengeluarkan pisau Pangot dan siap-siap menorehkan pisau tersebut di lembar daun lontar untuk menulis nama.

“Pak, saya pilih damai aja pak…” Ujar Dhamodara dengan merendahkan nada bicaranya. “Damai gimana maksudnya?” Prajurit itu mengerutkan keningnya. “Ya diselesaikan disini aja pak, tolong dibantu lah pak…” Sejenak prajurit itu memalingkan wajahnya ke arah jalanan ramai, kemudian kembali menatap Dhamodara. Kemudian Mulutnya bergerak seperti menggumamkan sesuatu. Dhamodara kesulitan menangkap apa yang diomongkan si Prajurit itu. “Iya pak, gimana pak” Dhamodara mendekatkan kepalanya ke arah Prajurit. “Kamu mau dibantu? Mau bayar berapa?” Prajurit itu kembali berbicara namun dengan nada pelan setengah bergumam.

“Ya gimana baiknya lah pak…” Kata Dhamodara lagi.

“Ya udah, Seratus Lima Puluh Kepeng”, gumam prajurit tersebut.
“Waduh gimana pak, saya nggak ada uang segitu pak. Nih, lihat pak, saya hanya ada uang 70 kepeng pak” Kata Dhamodara sambil mengeluarkan kampil uang dari ikat pinggangnya.

Melihat itu sang Prajurit kembali memalingkan wajahnya ke arah jalan ramai, “Apa-apaan kamu, masukin lagi kampilnya!”, cetus Prajurit itu sambil tetap setengah bergumam. “Ya takutnya bapak gak percaya”, jawab Dhamodara sambil kembali menyelipkan kampil uangnya.

“Sudah, Seratus Kepeng saja.”
“Yah pak, saya kan sudah bilang, saya sudah tunjukin juga, uang saya nggak ada segitu. Itu pun sebagian buat beli makanan kuda pak”.

Setelah beberapa kali berbantahan, akhirnya mereka sepakat di harga 50 Kepeng. Dan anehnya penyerahan uang itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Padahal mereka berada di tempat yang cukup tersembunyi karena di ruangan beratap rendah dan di depannya ada kereta.

Dhamodara kembali mendapatkan Lontar Ijin Menunggang Kuda dan Lontar Kepemilikan Kudanya. Dia pun bisa melanjutkan perjalanannya  pulang ke rumah.

Di atas punggung kuda, Dhamodara merenung. Mengapa prajurit itu bertingkah aneh? Dia bicara setengah berguman, sehingga kata-katanya tidak jelas. Terus ketika aku mengeluarkan kampil uang, dia memerintahkan untuk memasukkannya lagi. Uang pun diserahkannya sembuyi-sembunyi. Sungguh aneh.

Kemudian Dhamodara teringat akan bola-bola ajaib. Para penyihir di Kerajaan Tetangga sekarang ini telah mampu membuat bola-bola Kristal ajaib yang bisa merekam gambar dan suara. Kita bisa melihat apa yang tengah dilakukan seseorang dan mendengarkan apa yang dikatakan orang itu. Bola-bola Kristal ajaib ini biasa digunakan oleh pengadilan kerajaan ketika sedang mengadili perkara. Apa yang diperlihatkan pada bola Kristal itu bisa menjadi bukti tindakan kejahatan.

Hem… apa ada hubungannya dengan bola Kristal?

Dhamodara sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti itu, dia melanggar peraturan dan di tangkap prajurit, namun urusan bisa selesai dengan membayar sejumlah kepeng. Namun biasanya, prajurit menghardik dengan tegas pada para pelanggar, mereka bersikap galak. Namun kali ini lain sama sekali. Prajurit ini justru bicara bergumam seolah omongannya tidak ingin ada yang mendengar.

Dhamodara hanya garuk-garuk kepala sambil senyum kecut: “Sontoloyo, rupanya cara mereka “Berdamai” juga telah menyesuaikan diri. Mereka sepertinya takut kelakuan mereka ada yang merekam dengan bola Kristal, aseeem, asem”. gerutunya dalam hati. Tapi hal yang menurutnya lucu ini sedikit banyak bisa mengobati kedongkolan hatinya.

Angin semilir membelai surai kuda Dhamodara, mereka berjalan memunggungi bulan…


***

Jadwal Sholat

Warung Blogger

Warung Blogger

Kabar Terbaru

Postingan populer dari blog ini

Mengurus PBB yang diblokir di Cikarang, ke PEMDA Kab. Bekasi

Berawal dari salah satu syarat pengajuan KPR, yang disana tercantum harus ada “Copy PBB tahun terbaru”, saya jadi terlibat perjalanan bolak balik keliling Cikarang untuk mengurus PBB rumah yang diblokir. (Kisah saya mengajukan KPR, bisa dibaca disini)


PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) adalah Pajak Negara yang dikenakan terhadap tanah dan bangunan. Lebih lengkapnya seputar PBB ini silahkan baca di situs resmi Dirjen Pajak di: http://www.pajak.go.id/content/seri-pbb-ketentuan-umum-pajak-bumi-dan-bangunan-pbb.


Ketika mengajukan Kredit ke Bank BTN Cabang Cikarang, saya dapat sebuah brosur berisi besaran kredit yang bisa diberikan beserta syarat-syaratnya.

Perpanjang STNK Motor di SAMSAT Cibinong

Ini pertama kalinya saya memperpanjang STNK motor di SAMSAT Kab. Bogor di Cibinong. Prosesnya sederhana dan Cepat. Seluruh proses hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit.

Pertama-tama kita harus mempersiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Untuk perpanjangan  STNK 1 tahun, yang harus dibawa adalah:
STNK AsliKTP Asli sesuai dengan nama di STNK
Awalnya saya kira harus menyerahkan BPKB juga, soalnya pengalaman saya mengurus STNK di SAMSAT Kota Tangerang gitu, harus bawa STNK Asli, KTP Asli dan BPKB. Namun

Mutasi SIM online di Tangerang

Seminggu sebelum SIM saya berakhir masa berlakunya, saya berangkat ke kantor SATPAS Polres Tangerang di Tangerang Kota. Saya kesana karena dulu, SIM C saya ini dibuat di Tangerang. Sebelumnya saya sudah browsing-browsing di internet, mencari informasi tentang mutasi SIM. Saya harus mutasi karena sekarang saya KTP-nya Bogor.

Saya bahkan sampai telpon ke Call Center Korlantas POLRI di 021-1500669, menanyakan prosedur mutasi SIM. Dari petugas yang menerima telpon saya, saya diberitahu bahwa saya harus Cabut Berkas dulu di Tangerang, lalu

Kereta Jakarta Cikarang

Bagi sebagian besar penduduk Jakarta, Cikarang adalah suatu tempat yang sangat jauh. Karena Cikarang itu letaknya diluar Bekasi. Bekasi aja udah jauh, apa lagi Cikarang ^_^. Padahal kalau melihat plang penanda jarak di Jalan Tol, jarak Jakarta-Cikarang itu hanya 30 Km.

Saya sekarang tinggal di Cikarang sementara kerja masih di Jakarta. Tiap hari dilaju Cikarang-Jakarta, adapun transportasi yang saya gunakan adalah

Gunung Munara - Hiking Pendek Yang Memacu Adrenalin

Gunung Munara

"Disini mulai rame sejak tahun baru kemarin"
"Tahun baru 2015 ini?"
"Iya, tahun baru 2015 ini, sebelumnya mah paling Sabtu Minggu doang, itu juga paling banyak 50 motor"

Begitulah percakapan singkat saya dengan teteh pemilik warung kelapa muda. Saya bertanya padanya sejak kapan Gunung Munara ini banyak dikunjungi. Nama Gunung Munara sekarang ini semakin sering dibicarakan orang. Spot pendakian yang terletak di daerah Rumpin, Bogor, ini memang tengah naik daun. Alasannya adalah, Gunung Munara memberikan tantangan yang sekelas naik gunung, namun jaraknya relatif pendek. Dari start mendaki sampai ke puncak, dibutuhkan waktu 1 – 1,5 jam saja.

Saya pun tertarik untuk menjajal track pendakian di Gunung Munara ini. Oh ya, meski namanya Gunung Munara, sebenarnya ini adalah sebuah bukit dengan batu-batu yang sangat besar. Dan yang membuat saya heran, banyak sekali batu-batu besar sebesar rumah yang tumpang tindih sedemikian rupa seolah sengaja disu…