Film The Social Dilemma

Ruslan dan Amalia
Alkisah Ruslan jatuh hati pada Amalia, gadis tercantik di kelasnya. Untuk mendapatkan perhatian Amalia, Ruslan melakukan segala hal. Mulai dengan mencari tahu hobi Amalia, makanan kesukaannya, sampai warna favoritnya pun diselidiki juga. Untuk mendapatkan semua informasi itu, Ruslan meminta bantuan Rizka, sahabat Amalia.

Ruslan mendapatkan semua informasi berharga tentang Amalia itu tidak dengan cuma-cuma. Ruslan mendapat info dari Rizka dengan imbalan baju baru, tiket konser, dan barang-barang lain yang menjadi idaman Rizka.

Rupanya taktik Ruslan untuk mendapatkan perhatian Amalia, dipraktekkan juga oleh perusahaan-perusahaan dewasa ini. Mereka akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatian para "Amalia", masyarakat yang berpotensi jadi konsumennya.

Kalau Ruslan berusaha menggali informasi tentang Amalia dengan tujuan untuk memikat hati sang gadis pujaan, maka perusahaan-perusahaan akan menggali informasi tentang para "Amalia" yakni konsumen dan calon konsumen, dengan tujuan mendapatkan keuntungan dari bisnisnya.

Dari mana perusahaan itu mendapatkan informasi-informasi berharga para "Amalia"?

Kalau jaman dulu, perusahaan melakukan analisa pelanggan dan calon pelanggan itu dengan mengadakan riset pasar, menerjunkan orang ke masyarakat untuk melakukan survey, melakukan observasi di lokasi-lokasi tertentu, dsb.

Namun di jaman internet dan media sosial sekarang ini, hal itu bisa dilakukan dengan lebih mudah lagi. Cukup hubungi perusahaan media sosial, maka data tentang pelanggan dan calon pelanggan mudah didapatkan.

Kita kembali ke kisah Ruslan dan Amalia. Dari ketiga tokoh itu, Ruslan, Amalia, dan Rizka, jika kita ibaratkan dengan dunia media sosial, kira-kira siapa mewakili siapa?
...
...
...

Yup, anda benar ^_^
- Amalia = Kita, para pengguna smartphone
- Ruslan = Perusahaan/Bisnis yang ingin memasarkan produk/jasanya
- Rizka = aplikasi media sosial

Rizka bisa tahu segala hal tentang Amalia karena Rizka adalah sahabat Amalia. Sebagai sahabat, Rizka menjadi tempat curhat Amalia. Ketika sedang sedih, galau, senang, khawatir. Amalia juga tentu akan cerita tentang aktifitas sehari-harinya kepada Rizka. Hari Minggu kemarin dia kemana, makan apa, mengapa makan itu, beli sepatu model begini, kenapa senang sepatu model begini, dsb.

Amalia membagikan semua hal tentang hidupnya kepada Rizka dengan kerelaan dan malah senang karena ada tempat curhat. Tak heran kalau Rizka tahu tentang Amalia luar dan dalam.

Begitu pula dalam bisnis media sosial, Amalia (kita, para pengguna smartphone) akan dengan suka rela dan senang hati membagikan kehidupan kita kepada Rizka (media sosial). Hari Minggu kemarin kita kemana, makan apa, mengapa makan itu, beli sepatu model begini, kenapa senang sepatu model begini, dsb.

Sehingga ketika Ruslan (Perusahaan yang mau beriklan) mau "memikat hati" Amalia (kita, konsumen), maka Ruslan akan "membeli" informasi tentang kehidupan kita dari Rizka (media sosial).

***
Film The Social Dilemma
Dalam film dokumenter berjudul "The Social Dilemma" (TSD) yang baru-baru ini tayang di Netflix, dibahas tentang "dapur" perusahaan-perusahaan media sosial.

Dari situ kita jadi tahu, bahwa semua hal-hal menarik, menyenangkan, dan seru, yang biasa kita lakukan di media sosial rupanya ada hubungannya dengan cara mereka mendapatkan uang.

Pernah nggak sih kita bertanya, bagaimana layanan media sosial ini mendapatkan uang? sementara mereka memberikan semua layanan kepada kita secara gratis. Kok bisa?
Fitur-fitur media sosial

Pada film TSD dipaparkan bahwa tombol like, tombol share, filter lucu-lucu, animasi lucu-lucu, rekomendasi video, rekomendasi, foto, grup, meme, semuanya itu ada tujuan dan kegunaan tersendiri bagi perusaan media sosial. Intinya, apa pun yang membuat kita betah berlama-lama main media sosial, itu merupakan cara media sosial mendapatkan informasi tentang kita. Itu sama dengan Amalia curhat ke Rizka, sehingga Rizka semakin tahu tentang Amalia. Dan informasi tentang Amalia, berarti keuntungan buat Rizka, dari Ruslan.

Sisi positif media sosial
Bak pisau bermata dua, teknologi bisa mendatangkan kebaikan dan juga keburukan. Dalam hal media sosial, kebaikan yang bisa dipetik juga banyak sebenarnya. Misalnya saja, melalui media sosial, dua orang yang lama terpisah bisa bertemu kembali, orang tua bertemu kembali dengan anaknya, saudara kembar yang terpisah ketika bayi bisa bertemu kembali, dsb.

Hal positif lainya misalnya ketika menggalang dana dan dukungan untuk tetangga yang kebetulan kaum dhuafa, ketika anaknya sakit keras. Penggalangan dana menjadi lebih mudah dan bisa menjangkau lebih banyak orang dengan bantuan media sosial.

Melalui media sosial terbentuklah komunitas-komunitas dengan berbagai latar belakang kesamaan. Komunitas petani, komunitas pedagang, komunitas penyuka tanaman hias, apa pun. Yang melalui komunitas daring ini orang bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman, berjualan, janjian untuk ngumpul, dll.

Sisi negatif media sosial
Namun siapa nyana, semua gimmick, "permen" yang ditawarkan social media, itu ada efek sampingnya.

Pada awalnya semua fitur seru di media sosial itu merupakan cara yang dikembangkan oleh perusahaan media sosial untuk membuat penggunanya betah berlama-lama menggunakan aplikasi besutannya. Dan fitur-fitur seru ini merupakan hasil dari analisa yang melibatkan banyak ahli, termasuk ahli psikologi.

Dalam dunia media sosial dan dunia startup pada umumnya dikenal istilah growth hacking. Growth Hacking adalah metoda-metoda untuk meningkatkan jumlah pengguna layanan kita, dan bagaiman supaya pengguna yang sudah ada tidak berhenti dan tidak meninggalkan layanan kita.

Berkat growth hacking inilah lahir fitur-fitur unik di media sosial, yang menjadikan orang seolah 'kecanduan' media sosial sebagaimana orang kecanduan rokok atau bahkan kecanduan narkoba.

Yang namanya kecanduan itu biasanya negatif, dan memang orang yang kecanduan main media sosial itu jadi "sakit". Dia tidak bisa melewatkan waktu sehari pun tanpa mengakses media sosial.

Efek dari kecanduan itu kita juga semua maklum, ada banyak sekali. Contohnya, hubungan fisik jadi renggang. Satu keluarga sedang makan di meja makan, tapi masing-masing menatap layar Hp. Tak ada obrolan hangat tentang kegiatan hari ini atau rencana hari esok, atau gelak tawa akibat kelucuan anak, atau bahkan pertengkaran kakak adik. Badannya duduk mengelilingi meja makan, namun perhatiannya terhisap masuk ke layar hp.

Remaja, korban media sosial paling parah
Siapa sangka, yang mengalami akibat paling merusak dari media sosial adalah anak-anak beranjak remaja, bukan pemuda atau orang dewasa.

Sebagaimana kita ketahui bahwa anak usia puber, itu butuh pengakuan dan penerimaan dari lingkungan sekitarnya.

Disisi lain Internet adalah "dunia ghaib", dimana orang bisa saling berinteraksi tanpa harus berhadapan secara fisik. Kondisi berinteraksi tanpa berhadapan ini terkadang membuat orang jadi manusia liar yang tidak punya tatakrama. Karena tidak berhadapan secara fisik, maka ketika berkomentar atau berinteraksi bisa sangat buas. Kalimat dan kata-kata tidak beradab dapat dengan mudah dilontarkan.  

Apa jadinya ketika remaja yang sedang labil, masuk ke "dunia ghaib" internet yang buas?

Anak-anak remaja rentan menjadi korban perundungan. Atau jangankan perundungan, komentar-komentar "biasa" pada postingan si anak remaja di media sosial, dapat direspon dengan dalam olehnya. Atau kalau pakai istilah sekarang, anak remaja itu kalau main sosial media, mereka "baperan".

Lebih parah lagi perundungan atau sekedar komentar miring ini tidak kenal tempat dan waktu, karena dilakukan di media sosial. Dan perundungan ini juga dapat menyebar lebih luas karena fitur share yang ada di media sosial. Akibatnya korban perundungan akan menanggung beban penderitaan mental yang luar biasa, yang tak jarang berakhir dengan bunuh diri.
Angka bunuh diri remaja di AS


Dalam film TSD dipaparkan, bahwa di Amerika Serikat angka kematian remaja akibat bunuh diri, dalam rentang waktu dekade 2001-2010 dibandingkan dengan dekade 2011-2020, persentasenya meningkat tajam. Pada remaja usia 15-19 tahun terjadi peningkatan sebesar 70%, dan yang menakutkan adalah pada remaja usia 10-14 tahun, peningkatan angka kematian akibat bunuh dirinya adalah 151%.

Apa itu maksudnya?

Kita ambil contoh yang anak remaja usia 10-14 tahun, yang angkanya 151%. Kalau misalnya (ini contoh ya), dari tahun 2001-2010, selama 10 tahun itu ada 100 anak remaja 10-14 tahun yang bunuh diri, maka pada rentang 2011-2020, ada 251 anak remaja yang bunuh diri. Mengerikan bukan?

Ketika diselidiki lebih jauh, angka bunuh diri ini mulai menunjukkan peningkatan pada tahun 2009-an, dimana media sosial mulai marak. Ya, yang namanya media sosial sudah ada sebelum itu. Kita tahu bahwa facebook sudah ada sejak 2005, twitter juga sudah ada sejak 2005, dan sebelumnya ada myspace dan friendster (yang baca friendster kemudian tersenyum, ketahuan usianya ^_^).

Namun sebelum 2009, sarana untuk mengakses media sosial masih terbatas, karena harus menggunakan komputer yang terkoneksi ke intrenet. 2009 adalah tahun kelahiran smartphone yang memungkinkan kita menginstall berbagai aplikasi media sosial ke Hp kita. Dan smartphone bisa dimiliki oleh siapapun di usia berapapun, dan otomatis mereka bisa mengakses dan main media sosial.

Mulailah terjadi dampak mengerikan pada anak-anak remaja kita itu.

And then what?
Well, bagaimanapun kehidupan kita sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari media sosial. Kita tidak bisa mengambil langkah ekstrim dengan membuang hp kita dan hidup tanpa hp. Menurut saya itu sama halnya dengan membuang pisau besi kita dan kembali mengasah batu dan berburu banteng.

Teknologi ada untuk meningkatkan taraf hidup Manusia. Kita manfaatkan itu semaksimal mungkin. Kita manfaatkan untuk hal-hal yang memberikan nilai tambah pada diri, keluarga dan lingkungan kita.

Untuk membendung dampak negatifnya, pertama-tama kita harus menyadari bahwa teknologi itu punya sisi gelap. Sisi gelap ini yang harus kita tangani dengan bijak. Jangan sampai kita kecanduan kronis pada media sosial. Yang mengakibatkan hal-hal buruk terjadi pada diri kita.

Dan setelah kita berhasil menghalau sisi gelap teknologi dari diri sendiri, kita kemudian melakukannya pada orang terdekat kita, keluarga, dan kemudian lebih luas lagi. Kita ingatkan mereka untuk bijak bermedia sosial.

Malah kalau ke anak kita, yang kita bisa atur, kita berlakukan peraturan penggunaan Hp. Batasi durasinya, batasi apa yang diaksesnya, apapun, sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang timbul akibat media sosial. Di filme TSD, petinggi-petinggi raksasa media sosial yang diwawancara, menuturkan bahwa mereka melakukan pembatasan penggunaan Hp pada anak-anaknya, dengan tujuan melindungi mereka. So, kalau orang yang membuat media sosial aja menjaga anaknya dari dampak negatif sosmed, apalagi kita. Betul?

Baik, demikianlah [bukan]resensi film The Social Dilemma dari saya. :)

Mudah-mudahan dapat menggugah kesadaran kita semua akan dampak negatif dari media sosial.

Kalau ingin tahu lebih detail, silahkan tonton aja filmnya.

Mari bijak bermedia sosial.

***
Tertarik dengan psikologi wanita & pria? silahkan baca:

Wanita itu Pasif Aktif
Naluri Agresif Protektif Laki-laki

***
Kredit foto dari atas ke bawah:
- film The Social Dilemma
- like and share facebook page
- film The Social Dilemma

 



Kebun Sayur
Kebun Sayur
Suatu hari saya berkunjung ke rumah sanak famili di Pelag, yang berada di kaki gunung Puntang, Garut, Jawa Barat. Garut sudah sejak lama menjadi sentra Industri pertanian, mulai dari sayuran seperti Kol, Wortel, Kentang, Tomat, dsb, sampai tanaman Akar Wangi sebagai bahan untuk membuat parfum.

Dalam pembicaraan diketahui bahwa para petani di sana sedang dirundung susah. Hal ini terjadi karena meski sekarang sudah masuk musim panen, namun harga-harga jatuh. Harga Kol misalnya, hanya 600 rupiah per Kg-nya, dan Tomat hanya 200 rupiah per Kg.

Dengan harga segitu, jangankan untuk menutup modal menanam yang sudah dikeluarkan dari sejak mengolah tanah sampai menjelang panen, biaya untuk kuli angkut dari ladang ke kendaraan pengangkut aja nggak nutup.

Akhirnya ada beberapa petani yang memilih "nyilep" hasil pertaniannya. Nyilep atau disilep adalah mengubur hasil pertanian dan menjadikannya pupuk. Hal ini dilakukan karena meskipun dipaksa dipanen, biaya proses memanen ini tidak terbayar oleh harga jual. Konon lagi biaya modal selama menanam.

Mengetahui betapa petani terpaksa nyilep, hati saya sakit. Betapa hasil jerih payah para petani tidak ada harganya. Selain itu betapa besarnya kemubaziran yang terjadi.

Nyilep ini sama saja dengan mubazir, karena bahan makanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan, akhirnya hanya dikubur yang sama saja itu dengan membuangnya.

Namun untuk kemubaziran yang terjadi ini, saya tidak menyalahkan petani, karena bagaimanapun ini keputusan paling logis yang bisa diambil.

Namun apakah tidak ada solusi untuk ini?

Dalam perjalanan pulang saya merenung, mencari-cari apakah ada solusi untuk ini?

Akhirnya setelah sekian hari merenung dan berpikir, saya merumuskan 3 langkah untuk membantu para petani mengatasi masalah panen ini. 3 langkah ini adalah:
  1. Informasi
  2. Transaksi
  3. Delivery

Informasi
Para petani menginformasikan mengenai waktu panennya kira-kira tanggal berapa, dan volume panennya, kira-kira berapa Kg (kwintal/ton).

Informasi ini dikirim ke sentra informasi. Maunya sih ada satu website/aplikasi yang bisa menjadi semacam "Papan Pengumuman". Namun kalau tidak ada, untuk sementara bisa pake sosial media semacam facebook group/page, dll.

Apa manfaat dari informasi ini?

Dengan adanya informasi mengenai ketersediaan suatu produk pertanian jauh-jauh hari, maka pihak konsumen yang membutuhkan produk tersebut bisa memetakan pemenuhan kebutuhannya ini.

Contoh paling gampang misalnya: Ada orang yang mau hajatan. Rencananya mau nikahin anak semata wayangnya pada tanggal 7, bulan depan. Kemudian dari informasi di "Papan pengumuman" dia jadi tahu bahwa di kecamatan tetangga, ada petani yang akan panen wortel sekitar tanggal 1-5, dengan volume sekitar 3 ton. Maka si empunya hajat bisa menghubungi petani, dan memesan 1 kwintal wortel untuk kebutuhan hajatan.

Ya, di sistem ini kita utamakan pemenuhan konsumsi untuk wilayah yang paling dekat dulu, bisa dalam lingkup antar desa, antar kecamatan se kabupaten, antar kabupaten yang berdekatan, dalam provinsi, baru lintas provinsi, dan Ekspor.

Transaksi
Untuk Transaksi online seperti ini, maka faktor keamanan adalah faktor yang sangat sangat penting. Karena pada transaksi inilah potensi kejahatan berupa penipuan bisa terjadi.

Namun sebelum ke masalah keamanan, kita bahas mengenai penetapan harga jual terlebih dahulu ya.

Berdasarkan penuturan bapak petani famili saya itu, harga produk pertanian ditentukan oleh pasar, dan dalam hal ini para tengkulak dan bandar di pasar yang memegang kebijakan akan memberi harga berapa pada suatu produk hasil pertanian.

Saya yakin mekanisme penentuan harga secara resmi, tentu ada peraturannya dari pemerintah. Namun kenyataan di lapangan, ya.. seperti itulah.

Nah, dalam rangka saling tolong-menolong dalam kebaikan, maka masalah penentuan harga ini, mari kita tentukan dengan seadil-adilnya.

Maksudnya, petani menghitung berapa modal yang harus dikeluarkan dari sejak mengolah tanah pertama kali, sampai memanen dan mengangkut hasil panennya ke mobil pengangkut. Kemudian ambillah untung dengan sewajarnya. Ya... bagaimanapun petani punya anak istri yang harus diberi makan dan disekolahkan bukan? wajarlah kalau mengambil untung.

Dari hasil perhitungan tersebut, keluarlah harga per kilogramnya.

Harga ini juga disebutkan pada saat sang petani mengirimkan informasi rencana panen ke "Papan Pengumuman".

Ok, lanjut ya. Nah untuk transaksi ini, selain komponen harga produk, yang perlu dihitung adalah komponen harga/biaya pengiriman (Delivery). Dan ini ditentukan oleh kurir yang mengirimkan produk ke konsumen. Dan dalam penentuannya ini lagi-lagi harus dilandasi oleh niat saling tolong-menolong dalam kebaikan, bukan didorong nafsu kerakusan.

Setelah diketahui harga produk dan biaya pengirimannya, barulah bertransaksi, antara konsumen, petani, dan pengirim/kurir.

Disinilah sistem keamanan mengambil peran.

Pada transaksi-transaksi yang dilakukan secara online, sudah tak terhitung banyaknya kejadian kejahatan penipuan yang dilakukan oleh pembeli maupun pedagang.

Ada yang pembeli yang tertipu, dia sudah transfer uang pembelian, namun barang tak kunjung dikirim oleh penjual. Ada juga Penjual yang tertipu, barang sudah dikirim, namun uang tidak pernah ditransfer oleh pembeli. Malah kurir juga ada aja yang menipu, terutama jika mengirimkan barang-barang berharga, seperti Hp, misalnya. Ada terjadi kasus kurir yang mencuri barang kiriman berupa hp. Demikianlah, transaksi Online itu banyak sekali potensi kejahatannya.

Bagaimana kita mengatasi masalah keamanan ini?

Solusinya adalah dengan menggunakan Escrow. Escrow adalah pihak ke-3 yang dipercaya untuk memegang uang transaksi. Jadi pada suatu transaksi yang dilakukan secara online, pihak penjual dan pembeli (dan kurir) menunjuk Escrow untuk memegang uang transaksinya.

Ketika kesepakatan jual beli sudah terjadi, si pembeli memberikan uang ke Escrow. Escrow lalu memberitahu penjual bahwa si Pembeli sudah membayar, tapi uang tersebut ditahan di Escrow. Penjual pun kemudian mengirimkan barangnya, dan tidak lupa memberitahu Escrow, bahwa barang sudah dikirimkan, melalui seorang kurir. Escrow pun memberitahu pembeli, bahwa barang sudah dikirimkan oleh penjual.

Ketika barang sudah diterima, Pembeli memberitahu escrow bahwa barang sudah diterima dan kondisi barang sesuai dengan kesepakatan. Setelah mendapat informasi ini, maka Escrow kemudian membayarkan uang transaksi yang tadi dibayarkan oleh Pembeli, ke Penjual dan Kurir.

Demikianlah kira-kira alur proses dari Escrow, sebagai penjamin keamanan sebuah transaksi.

Pertanyaannya, untuk transaksi pembelian produk pertanian ini, yang jadi Escrow-nya siapa?

Terus terang saya belum kepikiran ^_^'

Andai bank-bank yang ada, membuat suatu layanan sejenis Escrow ini, tentu akan sangat membantu. Atau memang sudah ada? bank yang membuka layanan Escrow ini? kalau sudah ada mohon diberitahu ya.

Yang dimaksud disini adalah solusi Escrow Retail, kalau bank yang bertindak sebagai Escrow sih udah ada, tapi itu untuk bisnis skala besar, saya juga kurang begitu mengerti tentang bank Escrow skala besar ini.

Yang saya bahas disini adalah layanan bank yang jadi penjamin keamanan transaksi retail dengan mejadi pihak ketiga (Escrow).

Sebenarnya untuk urusan transaksi ini, kalau mau menggunakan e-commerce yang sudah ada juga bisa. Misalnya mau pake si merah, si hijau, ataupun si warna lainnya bisa aja. Namun untuk mengkombinasikannya dengan sistem "Papan Pengumuman" tadi, harus ada usaha khusus yang fokus menggabungkan keduanya.

Nah, Sampai disini, ada yang terinspirasi untuk membuat start up "Papan Pengumuman Hasil Pertanian"?

Monggo silahkan, segeralah diwujudkan, biar petani segera terbantu...

Ok, lanjut ya, ke bagian ketiga yakni Delivery.

Delivery
Pada Sistem "Papan Pengumuman" ini memungkinkan terjadinya transaksi produk hasil pertanian, dari konsumen level keluarga, Penjual Sayur keliling, sampai Saudagar Besar. Dari yang membeli hanya 1 Kg, sampai ton-ton-an.

Setelah transaksi terjadi, tahap berikutnya adalah pengiriman hasil pertanian dari petani ke pembeli.
Pengiriman ini bisa dilakukan oleh kurir. Dan karena jenis transaksinya mulai dari kelas Teri sampai kelas Dinosaurus, maka pihak yang jadi Kurir-nya pun tentunya beragam, mulai dari modal "ingkig" (jalan kaki) sampai truk tronton yang bisa muat berton-ton.

Karenanya sistem papan pengumuman ini harus bisa diakses oleh semua orang dengan berbagai cara. Mulai dari mengakses lewat laptop, tablet, smartphone, sampai telpon si Nitnit yang cuma bisa nelpon dan sms doang pun bisa mengakses informasi yang ada di "Papan pengumuman".

Malah kalau perlu, di balai Desa, Serambi Mesjid, atau tempat umum lainnya, disediakan TV layar lebar untuk manampilkan "Papan Pengumuman" ini, sehingga orang yang tidak punya akses ke alat komunikasi seperti telpon, smartphone dan komputer, tetap bisa mendapatkan informasinya.

Gimana caranya?

Well, kalau itu sih porsinya para start-up-er untuk mewujudkannya. Monggo silahkan dibuatkan solusinya. 😃

Untuk sekarang, sementara kita fokus di alur bisnisnya aja dulu ya.

Sistem delivery produk pertanian ini kurang lebih seperti ojol sih. Jadi ketika ada kebutuhan untuk mengirimkan 10 Kg Tomat dari Kp. Ciharashas ke Kp. Sekeloa misalnya, maka kurir bisa mengambil orderan itu dengan ongkir yang sesuai.

---
Baiklah, demikianlah kira-kira... usulan solusi yang saya kepikiran, untuk membantu masalah petani ini.

Yang perlu saya tekankan kemudian adalah, betapa bergunanya informasi tentang jenis produk, waktu panen dan lokasi panen ini. Karena dari sini bisa terpetakan ketersediaan bahan-bahan makanan dan hasil pertanian lainnya. Dan ini bisa diakses oleh siapa saja.

Kalau sudah terpetakan, maka kita bisa melakukan pemerataan penyerapan hasil panen supaya tidak ada lagi hasil bumi para petani yang disilep dan mubadzir. Semuanya bisa terserap dengan harga yang pantas.

Satu hal lagi.

Suatu keluarga mungkin hanya membutuhkan 3 Kg wortel seminggu. Namun didekat rumahnya, ada panti Asuhan yang dihuni oleh 100 orang anak yatim. Maka untuk memenuhi kebutuhan gizi panti asuhan tersebut, keluarga tadi memesan 50 Kg wortel, mengambil 3 Kg untuk dirumah dan menyumbangkan Wortel yang 47 Kg-nya ke Panti Asuhan tersebut.

Dari contoh kejadian ini, maka di sistem "Papan Pengumuman" tadi pun bisa dilengkapi juga dengan fitur "sedekah", dimana pihak-pihak yang membutuhkan bahan makanan bisa memposting kebutuhannya, dan kaum dermawan bisa memenuhi kebutuhan tersebut melalui sedekahnya.
Masya Allah...

***
Whew, panjang juga ya 😊.

Ok, takutnya lupa lagi, kita buat ringkasannya ya:
1. Informasi: Sistem "Papan Pengumuman" (website/mobile app), kalau belum ada, sementara menggunakan facebook page/grup.
2. Transaksi: Escrow (bank, perusahaan jasa rekening bersama, e-commerce)
3. Delivery: sistemnya seperti ojol

Demikianlah ide saya, kalau ada kritik, saran maupun tambahan ide, dipersilahkan...

***
Ingin tahu lebih banyak tentang start up?
Bisa di baca pada artikel saya yang lain:

Langkah Awal Memulai Start Up


Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.