Jasa Titip Hasil Pertanian

2 Comments

 


Pada curhatan saya yang pertama, di tulisan Solusi Harga Panen Yang Jatuh tentang 3 ide membela Petani yakni:

  1. Informasi
  2. Transaksi
  3. Delivery

Saya kepikiran 2 hal terakhir yakni Transaksi dan Delivery. Kalau masalah Informasi ok lah ya, sudah banyak solusi.

Yang 2 ini yang rada-rada panjang ceritanya. Dan pada tulisan ini, saya akan bahas yang Delivery dulu.

Ok, Perihal Delivery ini panjang ceritanya karena yang mau kita lakukan adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak biasa. 

Apa itu?

"Transaksi pembelian hasil-hasil pertanian, LANGSUNG, dari Petani ke Rumah Konsumen".

Well, mungkin sudah ada ya satu dua website atau aplikasi yang mencoba melakukan ini, menghubungkan Petani langsung dengan Konsumen. Namun kondisinya masih jauh panggang daripada api. Para Petani masih menjadi korban.

So, kita tambah lagi aja lebih banyak lagi solusi yang berusaha menjembatani Petani dan Konsumen. Makin banyak pilihan solusi, lebih baik toh?

Ok, kita kembali dulu, kita ceritain cara konvensional.

Kalau yang berlaku sekarang kan mata rantainya cukup panjang tuh. Petani -> Tengkulak -> Pasar -> Tukang Sayur -> Rumah Konsumen.

Proses beberapa tangan ini mengakibatkan tata niaga pertanian jadi rentan terjadi ketimpangan. Harga jual di Petani murah, sedangkan harga beli di konsumen mahal. Kalau secara logika sih wajar lah ya, karena dari Petani sampai rumah konsumen, ada proses pengangkutan dsb, yang itu menaikkan harga jual komoditas.

Ya, kalau rentang perbedaan harganya wajar sih, kita masih bisa terima. Acapkali rentang perbedaan harganya jauh banget. Di Petani hanya berapa ratus rupiah perkilogramnya, sedangkan di konsumen harganya beberapa ribu rupiah.

Dan harga beberapa ratus rupiah di Petani itu tidak nutup biaya produksi Petani. Kasihan kan Petani jadi korban.

Nah, sekarang, bagaimana kalau kita mau memperpendek mata rantainya. Dari Petani langsung ke Rumah Konsumen, atau setidaknya dari Petani => Tukang Sayur => Rumah Konsumen. Mungkin nggak?

Mungkin saja, syaratnya kita harus melakukanya dengan cara yang baru.

Apa cara baru itu?

Jasa Titip Perorangan
Yang kepikiran sama saya adalah Jastip alias Jasa Titip. Istilah Jastip ini sebenarnya sudah biasa dilakukan oleh mereka-mereka yang pergi ke luar negeri, kemudian teman-temannya di dalam negeri nitip dibelikan sesuatu. Jastip ini ada yang gratis, karena yang nitip dan yang dititipin masih ada hubungan keluarga atau teman, ada juga jastip yang komersial, dia minta bayaran tertentu untuk jastip ini.

Nah, gimana kalau metoda jastip ini diterapkan juga di sistem penjualan Petani langsung ke rumah konsumen?

Jadi, misalnya gini, Pak Badu mau pulang kampung bawa mobil. Di kampungnya pak Badu ini kebetulan sedang musim panen tomat. Nah, pak Badu kemudian memberitahu tetangga rumahnya, samping kiri-kanan depan belakang, atau di WA grup RT, bahwa dia mau pulkam dan kalau ada yang mau nitip beli tomat, boleh.

Tersebutlah ada 10 orang yang tertarik dengan masing-masing membeli 5 Kg tomat, total jendral jadi 50 Kg tomat yang dipesan. Berat tomat 50 Kg ini sama dengan berat 1 orang dewasa yang kurus :). Jadi jika dimuat di mobil keluarga, gak terlalu berat lah ya.

Singkat cerita sampailah pak Badu ke kampung, dia menghubungi teman masa kecilnya yang kini jadi Petani di kampung, sebut saja namanya pak Karjo, yang kebetulan musim ini menanam tomat. Nah, Pak Karjo, dalam menentukan harga tomat, berpatokan pada modal yang sudah dia keluarkan, ditambah ongkos kuli angkut dari kebun ke rumah, dan untung sekian persen. Hitung punya hitung, misalnya harganya adalah Rp 3.000,-/Kg

Jadilah pak Badu membeli tomat 50 Kg dengan harga 3000/Kg.

Indah bukan? Petani dapat harga yang layak, konsumen juga dapat harga yang murah.

Ya, betul, tentu saja itu hanya ilustrasi sederhana dengan asumsi kondisi Ideal. Kenyataan di lapangan tidak semudah itu Ferguso. Banyak sekali komponen dan faktor yang berpengaruh dalam tata niaga pertanian.

Misalnya, pertimbangan produk harus cepat dijual, kalau ditunda-tunda produk akan busuk. Makanya Petani pake prinsip siapa cepat dia dapat. Siapa aja yang datang sama dia, angkut dah.

Mungkin ada juga Petani yang gak mau ribet, mesti nimbang kiloan. Yang enak kan, panggil tengkulak, terima duit, kipas-kipas deh. Biar Tengkulak dan anak buahnya yang sibuk panen dan ngangkut hasilnya ke mobil.

Dan ada banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Untuk 2 pertimbangan yang dicontohkan diatas, sebenarnya bisa disiasati dengan memaksimalkan sistem informasi.

Misalnya, biar produk langsung dan cepat terserap, maka jauh-jauh hari, sang Petani menginformasikan rencana panennya. Misalnya 2 minggu sebelum panen, pak Petani woro-woro, bahwa tanggal sekian sampai tanggal sekian, mau panen, siapa mau beli, silahkan hubungi pak Petani.

Sehingga ketika hari H panen, produk bisa langsung sold out. Gak ada itu kejadian produk busuk.

Begitulah, kalau kita mau ada perubahan, maka kita harus mau berubah juga. Betul?

Ok, mari kita bahas skenario yang lain. Kalau skenario pak Badu pak Karjo tadi, kalaupun terjadi, itu sifatnya insidental, maksudnya tidak bisa dijadikan rutinitas. Tidak semua orang mudik secara teratur, bawa mobil dan bersedia dititipin.

Tukang Sayur United
Skenario yang lainnya adalah penjualan dari Petani ke Tukang Sayur. Kalau tadi kan dari Petani langsung ke konsumen, kalau ini dari Petani ke Tukang Sayur. Sebenarnya polanya kurang lebih sama, ada satu orang yang pergi ke Petani langsung, dia kemudian menjadi semacam "koordinator" yang mengumpulkan pesanan para tukang sayur. Petani menjual dengan perhitungan yang tadi, dan si koordinator, dia menambahkan biaya perjalanan pada komponen harga. Sehingga kalau pake ilustrasi tomat tadi, misalnya komponen biaya perjalanan dibagi rata jatuhnya Rp. 1000/kg, maka harga tomat jadi 4000/kg di tukang sayur, kemudian tukang sayur menjualnya 5000/kg ke rumah-rumah. Ini contoh aja lho ya.

Lah kalau gitu apa bedanya dengan yang berlaku sekarang? bukannya sekarang juga seperti itu, Petani -> transport -> pasar/tukang sayur?

Well, secara alur memang terlihat sama, tapi coba perhatikan di sisi harga jual di bapak Petani. Kalau kondisi sekarang Petani seolah tidak ada kekuatan apa-apa dalam penentuan harga jual.

(+) "Pokoknya harga beli Kol Gepeng di Petani adalah Rp 500/kg"
(-) "Kata siapa?"
(+) "Ya sekarang harganya segitu, mau sukur, nggak mau ya udah."
(-) "Ya udah deh...." sambil hatinya sedih.

Padahal Petani kalau cuma ngitung modal duit yang dikeluarkan aja misalnya, harus menjual Rp. 1000/kg supaya balik modal. Ini modal duit aja, belum diitung tenaga yang harus dikeluarkan. Gak peduli panas dan hujan, memelihara tanamannya supaya tumbuh subur. Kondisi seperti ini jelas tidak adil buat Petani.

Lain halnya dengan skenario yang tadi, dimana Petani yang menentukan harga jual dengan menghitung modal ditambah keuntungan yang wajar sebagai ganti tenaga yang telah dikeluarkannya.   

Ok, secara konsep yakni jastip udah jelas lah ya. Untuk selajutnya gimana?

Semuanya berawal dari informasi.

Kalau ada yang mau melakukan yang skenario pak Badu tadi, informasikan dengan jelas di WA grup atau ngomong langsung. Dan untuk jastip model pak Badu ini, lingkupnya hanya untuk orang-orang yang dikenal saja sepertinya. Namun sekecila apapun peranan kita, tentu ada pengaruhnya. Kalau misalnya di suatu kota ada 1000 orang yang mudik ke berbagai daerah, dan masing-masing membeli 50Kg komoditas tani, sudah 50 ton hasil tani yang terjual dengan harga yang win-win. Petani menang karena harga jualnya layak, Konsumen juga menang karena dapat harga murah (harga Petani).

Mungkin ada yang berargumen, bahwa kita jangan melupakan hukum ekonomi, kalau barang lagi banyak harga jadi murah, tapi kalau barang sedang langka, harga jadi mahal.

Ya, itu bisa saja berlaku. Tapi manusia sekarang semakin buanyaak, dengan demikian kebutuhan akan bahan makanan juga sebenarna sangat buanyak, sebanyak apapun barang tersedia pasti terserap, sehingga level "kebutuhan" sebenarnya tetap tinggi. Nah kalau kebutuhan tinggi, maka harga jual juga harusnya layak bukan?

Untuk skenario koordinator tukang sayur, saya nggak tahu apakah ada WA grup khusus tukang sayur ^_^. Yang saya tahu di facebook ada beberapa fb grup komunitas tukang sayur. Mungkin bapak/ibu tukang sayur bisa berkoordinasi dengan sarana ini.

Diatas semuanya, kita semua peduli dengan para Petani, dan ingin melakukan perubahan demi kemajuan berasama. Karenanya mari kita melakukan perubahan sekecil apapun. Salah satunya adalah merubah alur distribusi hasil-hasil pertanian.

Ya, ini pasti akan ribet. Kalau yang berlaku sekarang kan enak. Petani tinggal serahkan ke tengkulak, konsumen tinggal nunggu tukang sayur lewat. Namun apa kemudian terjadi ya seperti yang berlangsung seperti sekarang ini. Dimana Petani menjadi korban.

Mari kita bela para Petani kita.



You may also like

2 komentar:

  1. aku gak ngerti urusan begini, hehe. soale krn ini kota kecil, kalo mau apa2 rumahku dekat dg pasar. bahkan utk ikan ada nelayan yg jual di dekat danau sipin sini, mau beli hasil kebun ada juga petani yg jual di pinggir2 jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah enak banget mbak, deket dengan sumber penghasil pangan. Kedepan kita harus punya ketahanan pangan yang sangat kuat, karenanya, posisi mbak ini ideal banget ^_^

      Hapus

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.