Siklus Sampah Organik Di Rumah

12 Comments


 

Bagi keluarga kecil yang memasak sendiri makanannya, maka "produk sampingan" dari aktifitas memasak ini adalah sampah bahan makanan. Bisa akar Cesin, kulit bawang, cangkang telur, daun sawi yang jelek, dan berbagai sampah bahan makanan lainnya.

Pada awalnya istri suka memasukkan semua sampah tersebut di kantong plastik bekas belanja sayur dari tukang warung sayur. Alhasil setiap harinya kami "memproduksi" dua sampai tiga plastik besar sampah. Setiap harinya lho ya.

Jika misalnya rata-rata berat sampah dalam 1 plastik itu 1 Kg aja, berarti dalam sehari kami membuang 3 Kg sampah. Berapa Kg dalam sebulan? dalam setahun? tinggal di kalikan saja.

Perumahan tempat saya tinggal, itu ada kurang lebih 250-an unit rumah. Jika kita ambil rata-rata produksi sampahnya sama dengan yang saya hasilkan, jumlah sampah yang diproduksi perumahan tempat saya tinggal itu 750 Kg per hari.

Dalam radius 1 Km saja dari rumah saya, itu ada sekitar 4 perumahan. Seterusnya hitung aja deh sendiri ^_^

Yang jelas, produksi sampah di lingkungan kita itu dalam seharinya, jika kita totalkan bisa ton-tonan.

Kembali lagi ke rumah saya. Kebetulan istri saya senang bercocok tanam. Di halaman rumah banyak ditanam berbagai pohon bunga dan tanaman consumable seperti cabe, katuk, sampai pohon saga.

Awalnya setelah membaca suatu artikel, istri saya memanfaatkan cangkang telur sebagai tambahan nutrisi untuk pohon bunga Kemuning kesayangannya. Setelah beberapa waktu berlalu, pertumbuhan bunga Kemuning lebih bagus daripada sebelum diberi cangkang telur.

Selanjutnya malah keterusan, selain cangkang telur, semua bahan-bahan limbah sayuran dari memasak, tidak lagi dibuang ke tempat sampah tapi dibuang ke pot-pot tanaman.

Ternyata pot-pot tanaman tidak cukup untuk menampung sampah-sampah organik yang dihasilkan oleh dapur kami. Karenanya kami kemudian membuat sebuah lubang di tanah untuk menampung sampah-sampah organik tersebut.


Lubang ini tidak besar, cuma seukuran genteng rumah lah, dalamnya sekitar se-lengan. Tapi meskipun relatif kecil, sudah sekitar 5 bulan jadi tempat penampungan sampah organik, lubang itu tidak penuh-penuh.

Kami memang tidak sengaja mengkomposkan sampah organik tersebut, dalam artian setiap periode waktu tertentu mengambil kompos hasil pembusukannya. Jadi lubang sampah tadi kami jadikan sebagai tempat pembuangan sampah organik saja. Tapi rupanya ini membawa manfaat tersendiri, karena tanaman-tanaman di sekitar lubang tersebut menjadi tumbuh lebih subur.

Dari aktifitas "buang sampah di halaman" ^_^ (tapi dalam pengertian positif ya), alhamduillah sebagian kebutuhan dapur dapat terpenuhi. Kalau pohon cabe sudah berbuah, maka ketika mau bikin sambel, cabenya tidak perlu membeli, cukup memetik dari halaman. Begitu pula dengan kencur, daun katuk, dan anggota keluarga yang terbaru, buah Pare.

Selain itu istri makin senang dengan tanaman-tanaman bunganya yang tumbuh sehat. Kadang saya geli sendiri ketika istri mengajak bicara tanaman-tanaman kesayangannya itu. Tapi sepertinya berkat curahan kasih sayang dan nutrisi yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur.

Tadi saya cerita bahwa sebelumnya kami buang sampah segabruk, segala jenis sampah dikumpulkan dalam kantong plastik lalu dibuang ke tempat sampah untuk nanti diangkut oleh tukang sampah.

Nah, setelah kami memilah sampah, dimana sampah organik dijadikan "makanan bergizi" buat tanaman-tanaman, maka produksi sampah kami berkurang drastis. Kalau pada awalnya sehari bisa 3 kantong plastik sampah, maka sekarang kami buang sampah non-organik mungkin dua hari atau tiga hari sekali. Karena ternyata, sampah plastik kami sangat sedikit.

Menyadari hal itu, kembali deh saya itung-itungan. Seandainya saja setiap rumah di perumahan saya melakukan hal yang sama, betapa bermanfaatnya. Maksudnya, ketika kita memisahkan sampah organik dengan non-organik. Kemudian "mengkonsumsi" ulang sampah organiknya dengan cara diberikan ke tanaman, betapa kita bisa mengurangi sampah dengan signifikan!

Saya aja kan yang tadinya memproduksi 3 plastik sampah dalam sehari, setelah dipilah, jadi hanya membuang sampah 2 hari sekali. Kalau mau itung-itungan diatas kertas nih, yang tadinya membuang 6 Kg sampah dalam 2 hari, menjadi hanya 1 Kg saja, bahkan mungkin kurang, karena yang saya buang itu plastik-plastik aja.

Tapi kemudian saya kepikiran lagi, alhamdulillah halaman saya masih ada tanahnya, sehingga bisa membuat lubang pembuangan sampah organik. Bagaimana dengan rumah yang tidak ada tanahnya, baik karena sempit ataupun karena sudah disemen semua?

Saya ada percobaan kecil-kecilan untuk mengelola sampah organik ini. Saya coba untuk membuang sampah organik ke galon yang sudah tidak digunakan lagi. Jadi semua potongan sayur, kulit pisang, dll, dimasukkan ke galon. Pada awalnya galon tersebut tidak saya tutup, dibiarkan terbuka begitu saja. Tapi makin lama, seiring membusuknya sampah organik, terlihat banyak belatungnya. Ngeliatnya jadi kurang enak. Jadilah saya tutup, dan memang kemudian di dalam galon tidak kelihatan ada sesuatupun yang bergerak.

Jadi untuk rumah yang tidak punya tanah sehingga tida bisa membuat lubang untuk menampung sampah organik, sepertinya bisa menggunakan galon bekas. Selain itu bisa juga menanam tanaman di pot, dan sampah organiknya disimpan di pot-pot tersebut.

Baiklah, demikianlah sharing saya tentang siklus sampah organik di rumah saya. Dimana sampah-sampah organik, tidak dibuang, tapi dimanfaatkan sebagai pupuk organik buat tanaman bunga dan tanaman dapur, yang bisa dikonsumsi lagi.

Semoga bermanfaat.





You may also like

12 komentar:

  1. apapun caranya trnyta bisa ya, apalagi memanfaatkan barang-barang termasuk yg gak terpakai. Salfok sama galon yg trnyta bisa mnjd tempat pembuangan sampah organik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak. Kita bisa menempuh banyak cara untuk mengurangi sampah ^_^

      Hapus
  2. aku samam mamahku lagi aktif dan semangat banget mengolah sampah rumah tangga, buat sampah organik bisa diolah seperti apa yang kamu review dalam blog ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, saya tidak sendiri. Mari kita "tularkan" program ini mbak ^_^

      Hapus
  3. Iya juga ya, untuk keluarga yang ga punya lahan gimana ya? Apa ga kepikiran buat di sebuah pot keramik gitu bro Irpan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya browsing-browsing, ternyata ada juga yang jualan semacam Ember atau tempat khusus buat mengkomposkan sampah organik. Ini bisa jadi solusi buat rumah yang tidak ada tanah terbuka-nya

      Hapus
  4. Kalau ngomongin sampah organik menarik banget, deh. Jadi inget pas zaman dulu masih duduk di bangku sekolah dan belajar hal ini. Kalau rajin dan tau caranya, sampah organik ini bisa bermanfaat banget ya, Mas. Makasih udah sharing. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak ^_^.
      Dibeberapa tempat, bapak/ibu yang biasa menyapu jalan, suka sengaja mengumpulkan daun-daun pohon yang jatuh. Itu nanti dibuat kompos, lumayan buat penghasilan tambahan.

      Hapus
  5. Ngumpulin sampah organik sama saja menyuburkan bumi ya dan turut serta dalam zero waste. Unik juga tuh ngumpulin sampah organiknya di galon, perlu dicoba.

    BalasHapus
  6. Waaah nice idea.. iya daripada cuma jadi berton ton sampah mending dimanfatin jadi pupuk organik yaa.. lebih bermanfaat dan mengurangi sampah..

    BalasHapus
  7. Sampah organik nih bisa diolah jadi kompos jadi bagus yaa mengurangi sampah. Penerapan zero waste ini bagus yaaa karena kalo dibiarkan bisa jadi masalah yang berbahaya juga untuk lingkungan

    BalasHapus
  8. Ini biasanya dilakukan ibuku kak, kl saya blm pernah menerapkan ini krn tempat kontrakan gak ada lahan khusus buat nimbun sampah organik, tapi menarik jg nih pakai galon bekas. Thanks banget sharingnya kak

    BalasHapus

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.