Berburu
Manusia berjenis kelamin laki-laki, secara biologi dibekali dengan fisik yang kuat dan naluri Agresif Protektif. Naluri ini digunakan untuk berburu dan melindungi kumpulannya.

Peradaban berkembang, namun perlengkapan hidup berupa naluri ini tetap dibawa oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi.

Hanya saja alam sekitar manusia berubah. Lingkungan hidupnya bukan lagi hutan yang penuh binatang buas ataupun hewan buruan. Lingkungannya berubah seiring berkembangnya kehidupan manusia, dari berburu, bercocok tanam, membentuk kumpulan, kemudian kerajaan, berkembang terus hingga peradaban canggih seperti sekarang ini.

Naluri Agresif Protektif ini tetap mengalir dalam darah laki-laki, dan dalam perkembangannya, naluri ini mewujud dalam bentuk baru. Ketika manusia membentuk kelompok (suku dan kerajaan), maka naluri ini disalurkan dalam bentuk peperangan.

Penyebab peperangan bermacam-ragam. Dari upaya memperluas wilayah sampai hal-hal yang mungkin dianggap sepele, namun bisa memicu peperangan besar.

Ketika dua kerajaan bertempur, satu bertindak sebagai penyerang dan satu lagi bertahan, dan di lain waktu, posisi mereka berganti yang tadinya menyerang menjadi bertahan dan yang bertahan menjadi menyerang.

Ketika berlangsungnya peperangan, naluri Agresif Protektif ini mendominasi alasan dari tindakan saling bunuh para tentara dari kedua belah pihak.

Di masa sekarang, peperangan tidak mudah untuk diwujudkan, namun naluri tersebut tetaplah ada.

Karenanya naluri ini mengambil bentuk baru lagi. Ketika peperangan antar dua kerajaan atau negara semakin jarang terjadi, maka naluri Agresif Protektif laki-laki berubah lagi.

Kali ini wujudnya berbentuk fanatisme terhadap sesuatu yang dilakukan secara kumpulan.

Contoh yang paling kentara dari bentuk ini adalah fanatisme supporter klub sepakbola. Naluri Agresif Protektif yang berwujud fanatisme ini bisa menjadi sangat brutal dan tak jarang mengakibatkan kematian.

Hooliganisme
Perkelahian supporter sepak bola. Sumber: list25.com
 Tindakan fanatisme supporter klub sepakbola yang keluar batas ini biasanya disebut Hooliganisme. Sejatinya Hooliganisme (perilaku mengganggu atau melanggar hukum) mengiringi sejarah olah raga paling terkenal sejagat raya ini. Menurut catatan, peristiwa hooliganisme tertua terjadi pada tahun 1349 di Inggris, negri darimana Sepakbola berasal. Meski pada saat itu yang disebut sepak bola, jauh dari sepak bola yang kita kenal sekarang.

Pada masa itu, dua kelompok berhadapan, mereka akan berebut "bola" terbuat dari kandung kemih Babi. Tiap kelompok akan berusaha menendang bola ke gereja kelompok musuh. Permainan ini bisa dikatakan tidak mengenal aturan, dan pasti berakhir dengan perkelahian. Hal ini membuat Raja Edward III, Raja Inggris kala itu, melarang permainan ini.

Waktu berjalan sejarang berulang, hooliganisme berujung maut terjadi di berbagai negara di seluruh belahan dunia. Daftarnya bisa dilihat di: https://en.wikipedia.org/wiki/Football_hooliganism

Yang jadi pertanyaan kemudian adalah:
Bagaimana sikap Agresif ini bisa terbentuk?

Bahan dasarnya adalah naluri Agresif Protektif tadi. Kemudian dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa sistem penerimaan dari kumpulan/kelompok. Untuk bisa bergabung dengan suatu kelompok, maka orang harus menerapkan nilai-nilai yang dianut kelompok tersebut. Yang tak jarang nilai-nilai tersebut membolehkan atau bahkan mendukung dilakukannya tindakan kekerasan.

Selain itu, ketika seseorang melakukan tindak kekerasan, apa yang dilakukannya ini memberikan semacam perasaan: "ini lho tujuan saya hidup". Bahkan lebih dari itu ada semacam rasa puas telah menyalurkan naluri Agresifnya. Selain itu, pelaku kekerasan biasanya akan mendapatkan pengakuan, status, bahkan posisi dalam kumpulannya.

Geng Motor
Geng Motor. Sumber: thedailybeast.com

Hal yang kurang lebih sama yang merupakan wujud penyaluran naluri Agresif Protektif ada dalam kumpulan adalah Geng Motor.

Di beberapa daerah di Indonesia, bahkan di banyak negara di Dunia, banyak terdapat kumpulan orang-orang yang biasa disebut Geng Motor.

Dan Geng Motor ini biasanya konotasinya negatif. Ketika orang membicarakan geng motor, hampir bisa dipastikan pembicaraannya adalah seputar tindakan kekerasan, tindakan melanggar hukum, atau hal-hal yang merugikan lainnya.

Bagi masyarakat, keberadaan geng motor ini menjadi sumber keresahan. Namun bagi anggota-anggotanya, geng motor merupakan sebuah wadah untuk mereka menyalurkan naluri Agresif mereka.

Penyaluran yang positif.
Naluri Agresif Protektif adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri seorang laki-laki. Karenanya, potensi Agresif pastilah ada dalam diri seorang laki-laki.

Supaya naluri ini tidak keluar dalam wujud yang merugikan, maka laki-laki haruslah menyalurkannya ke hal-hal yang positif.

Naluri ini menjadi sumber energi. Dan akan menjadi "aman" kalau energi yang ditimbulkannya "dikuras" untuk hal-hal yang positif.

Salah satu caranya adalah dengan menikah. Dengan menikah, seorang laki-laki mendapat tanggung jawab untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Maka dia harus mencari nafkah. Proses mencari nafkah ini, bisa menjadi cara untuk "menguras" energi yang ditimbulkan oleh naluri Agresif Protektif.

Bagaimana kalau belum siap menikah?
Bisa dengan berolah raga yang cukup berat, kalau perlu sampai olahraga yang ekstrim. Tantangan yang berat, bisa menguras energi seorang laki-laki sehingga dia tidak kepikiran untuk melakukan tindakan Agresif.

Contohnya bisa olahraga Naik Gunung, Lari Marathon, Triathlon, dan olah raga berat lainnya.

Atau bisa juga, olahraga yang digelutinya adalah olah raga beladiri, dan dia menjadi atlit tanding. Sehingga jika si laki-laki punya energi Agresif yang sedemikian besar, bisa disalurkan di arena pertandingan.
Pertandingan olah raga beladiri.

Apapun metodanya, apapun caranya, naluri Agresif Protektif ini haruslah disalurkan kepada hal-hal positif dan bermanfaat. Jangan sampai disalurkan ke hal-hal yang merugikan orang lain atau lingkungan.

Well, kepada para Lelaki, what do you want to be?
Aplikasi Handphone. Credit: Club RACC

Sudah menjadi naluri manusia untuk bertahan hidup. Dan perwujudan dari naluri ini adalah upaya manusia mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.

Masalah yang dihadapi manusia, kian hari kian kompleks. Pada jaman purba mungkin masalahnya adalah seputar makanan, pakaian, tempat berteduh dan berlindung dari binatang buas.

Untuk mengatasi semua itu, manusia mengembangkan berbagai peralatan. Mulai dari kapak, tombak, panah, pakaian kulit binatang, gua, rumah, pertanian, peternakan, dst.

Di era sekarang, masalah yang dialami manusia jauh lebih kompleks lagi. Bukan saja seputar makanan, pakaian dan tempat berlindung. Masalah yang dihadapi manusia modern semakin rumit, meski terkadang rumitnya itu sebenarnya untuk hal yang sederhana.

Contoh daru "rumit untuk hal sederhana" adalah berpindah tempat, misalnya dari rumah ke sekolah atau ke tempat kerja. Keperluanya sederhana yakni berpindah tempat. Namun masalahnya jadi rumit, karena harus ada kendaraan, kendaraannya susah, mahal, berjubel, lama, ada copet, belum lagi di jalan macet, dsb.

Contoh lainnya misalnya makanan. Keperluannya sederhana yakni makan. Namun masalahnya jadi rumit, karena harus masak, membeli bahan makanan pakai uang, uangnya didapat dari mana? Pekerjaan susah. Ketika dapat uang, harga bahan makanan mahal, gas mahal, belum lagi untuk ke pasarnya harus naik angkot, lama lagi, biaya lagi, rumit.

Tuhan melengkapi manusia dengan akal pikiran. Dengan akalnya ini, manusia bisa mengatasi masalah yang dihadapinya. Dengan akalnya manusia membuat berbagai peralatan yang membantunya menjalani hidup dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.

Di era teknologi sekarang ini, alat bantu manusia lebih dari sekedar api, tombak, dan roda kayu. Alat bantu manusia sekarang ini tentunya sudah berteknologi tinggi.

Alat bantu yang sangat banyak digunakan masyarakat kita sekarang ini adalah gadget, khususnya Handphone (Hp). Hp yang saya maksud disini adalah Hp jenis smartphone yang kita bisa install berbagai aplikasi didalamnya.

Hp dengan bermacam aplikasi didalamnya bisa membantu menyelesaikan berbagai hal dalam hidup. Sebut saja mengirim pesan, mencari informasi, memesan sesuatu hingga melakukan transaksi jual beli, dan banyak lagi.

Tentang Aplikasi Hp
Bagi kebanyakan orang, aplikasi Hp adalah sesuatu yang canggih yang hanya bisa dibuat oleh perusahaan besar. Padahal sebenarnya tidak begitu.

Siapapun bisa membuat aplikasi Hp. Adapun yang dibutuhkan adalah pengetahuan dan keterampilan untuk menyusun kode-kode program yang nantinya menjadi aplikasi Hp.

Namun kode-kode program ini hanyalah alat. Sebagaimana alat bantu manusia lainnya, kode-kode program ini ada dan digunakan untuk membantu manusia mewujudkan idenya dalam mengatasi masalah yang ada. Disinilah letak nilai dari sebuah aplikasi Hp. Bagaimana aplikasi tersebut mengatasi masalah manusia.

Sebagai contoh, applikasi Hp yang paling banyak digunakan orang adalah aplikasi pengirim pesan WA (WhatsApp).

Jika dilihat dari sisi teknis, aplikasi WA ini sama seperti aplikasi Hp lainnya, yakni sebuah program yang terdiri dari ribuan/jutaan baris kode program yang disusun menjadi 1 aplikasi.

Namun jika dilihat dari sisi fungsi, manfaat dari WA ini banyak sekali, dan saya tidak perlu memaparkannya lagi. Silahkan membuat sendiri daftar dari manfaat aplikasi WA.

Dari sini kita menjadi tahu, bahwa sebuah Aplikasi Hp bisa memberikan nilai tambah yang begitu besar pada kehidupan manusia. Dan karenanya, sebagian dari kita pun ada yang tertarik untuk juga membuat sebuah aplikasi Hp.

Tahap membangun Aplikasi Hp.
Ketika kita ingin membuat sebuah aplikasi Hp, sebaiknya kita berangkat dari sebuah ide. Akan lebih baik jika idenya adalah ide yang mengatasi sebuah masalah. Masalah apa saja. Coba kita perhatikan lingkungan di sekeliling kita, ada masalah apa? atau ada kebutuhan apa?

Setelah diketahui masalah tersebut, kemudian coba kita cari solusinya.

Setelah kita dapatkan solusinya, baru kita rancang bagaimana solusi tersebut bisa menggunakan alat bantu Hp dan applikasinya.

Secara garis besar, tahap membuat aplikasi Hp itu adalah:
  1. Ide/solusi
  2. Menjabarkan ide/solusi tersebut menjadi alur proses.
  3. Membuat rancangan arsitektur teknis dari alur proses tersebut.
  4. Mulai meyusun kode-kode program aplikasi
  5. Melakukan test internal
  6. Menerbitkannya ke publik
Lama waktu membuat aplikasi Hp itu bervariasi, tergantung dari kompleksitas yang ada di dalam apps tersebut. Semakin banyak fungsi yang terkandung dalam aplikasi, semakin lama waktu yang dibutuhkan.

Apalagi kalau si applikasi tersebut terkoneksi ke sistem lain seperti Payment Gateway (sistem pembayaran online), layanan dari Aplikasi lain, dll. Proses pembuatannya bisa lebih lama lagi.

Untuk Aplikasi yang berdiri sendiri yang didalamnya ada map (peta), user ID yang bisa berinteraksi satu-sama lain, proses pembuatannya bisa 2-3 bulan. Belum lagi nanti dalam perjalanan pembuatannya ada saja penyesuaian-penyesuaian. Itu bisa menjadikan proses pembuatan menjadi lebih lama lagi.

Tentang Startup
Istilah Perusahaan Start Up sebenarnya bermakna luas. Berlaku untuk usaha jenis apapun. Namun dalam percakapan sehari-hari, pengertian perusahaan start up sering dimaknai perusahaan yang baru berdiri, yang bergerak di bidang teknologi.

Bagi perusahaan start up yang akan membuat aplikasi Hp, biasanya terkendala dengan masalah resource (sumber daya manusia). Terutama siapa yang akan mengerjakan pembuatan kode-kode programnya (Programmernya).

Karenanya kalau kita membaca sejarah, beberapa pendiri perusahaan start up, biasanya orang yang mengerti pemrograman. Meski memang banyak juga yang tidak.

Untuk menyiasatinya, kita bisa memilih dari beberapa alternatif dibawah ini:
  • Kita ajak programmer untuk menjadi bagian dari tim kita. Sebaiknya teman yang sudah kita kenal dan siap kerja tanpa bayaran/bayarannya kecil.
  • Kita gunakan jasa freelancer, di website seperti Freelancer.com, Fiverr.com, dll. Namun ini beresiko. Ide kita bisa dicuri.
  • Menggunakan jasa perusahaan Developer Profesional yang punya perjanjian NDA (Non Disclosure Agreement), intinya dia tidak akan mencuri ide kita. Namun ini biasanya mahal biayanya.
Kalau Start Up kita ini minim modal, maka yang bisa kita lakukan adalah mencari teman programmer yang bisa kita ajak bekerjasama.

Kemudian kita buat dulu prototype aplikasinya. Minimal mewakili atau menunjukan ide solusi yang kita tawarkan.

Setelah prototype jadi, baru kita mencari investor yang bisa kita yakinkan untuk menanamkan modalnya pada aplikasi yang sedang kita buat.

Dengan dana dari investor inilah kita bisa mengembangkan aplikasi kita sepenuhnya, sesuai dengan rancangan yang telah ditetapkan. Atau dengan beberapa pengembangan yang diperlukan.

Kepada teman-teman yang saat ini punya ide yang ingin diwujudkan menjadi sebuah aplikasi Hp, semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit informasi.

Selamat berkarya ^_^
Temu Blogger dengan Dinas Kesehatan RI

Keluarga adalah komponen dasar dari sebuah bangsa. Ketahanan suatu bangsa tergantung dari ketahanan keluarga.

Ada banyak faktor dari keberhasilan sebuah keluarga. Ada faktor ekonomi, faktor sosial dan faktor kesehatan.

Di bidang kesehatan, ada banyak isu seputar kesehatan pada lingkup keluarga. Namun diantara semuanya, yang paling banyak adalah seputar perempuan, ibu, dan anak.

Kita ambil dari tahap sebelum sebuah keluarga terbentuk alias pra nikah.

Manusia mulai masuk masa matang, siap untuk bereproduksi, untuk perempuan adalah di usia diatas 18 tahun.

Secara medis, usia wanita dari 0-18 tahun masih kategori anak. Mengapa demikian. Karena pada rentang usia ini, tubuh seorang perempuan masih dalam proses pertumbuhan.

Dalam kaitannya dengan reproduksi, bagian tubuh perempuan yakni rahim, pada rentang 0-18 tahun masih belum bisa (secara medis) untuk mengandung. Karena masih banyak komponen-komponen rahim yang belum tumbuh secara sempurna.

Kalau sampai terjadi kehamilan pada usia 18 tahun atau bahkan dibawahnya. Maka kehamilan ini sangat beresiko. Karena rahim sang ibu yang masih secara medis dikategorikan anak karena masih tumbuh, belum siap untuk mengandung.

Yang terjadi kemudian apa?

Paling mudahnya begini. Ketika seorang anak perempuan dibawah 18 tahun mengandung, maka ketika dia makan, asupan gizinya akan lebih banyak diserap oleh sang ibu. Karena dia sebenarnya masih dalam tahap pertumbuhan.

Dengan demikian, janinnya akan mengalami malnutrisi alias kurang gizi. Apa jadinya kalau janin kurang gizi. Bisa dibayangkan kan. Bisa saja ketika lahir janin tersebut sakit-sakitan atau malah cacat.

Dengan demikian, seorang perempuan usia 18 tahun atau kurang, tidak disarankan untuk menikah. Kalau pun karena satu dan lain hal harus menikah, maka harus dijaga jangan sampai hamil. Baru boleh hamil kalau sudah usia 19 tahun keatas.

***
Paparan perihal kesehatan reproduksi diatas saya dapatkan pada acara Temu Blogger bersama Dinas Kesehatan Republik Indonesia. Acara yang bertempat di Hotel Savoy Homann, Bandung ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan RI, dalam rangka mensosialisasikan kampanye keluarga sehat.

Acaranya sengaja diadakan pada tanggal 22 Desember, bertepatan dengan hari ibu. Sehingga topik yang dibicarakan pun dititik beratkan pada ibu dan perempuan pada umumnya.

Ada banyak data dan contoh kasus seputar kesehatan perempuan yang dipaparkan.

Selain masalah batas minimal kehamilan yang dipaparkan diatas, ada satu hal yang lebih ditekankan lagi yakni kesetaraan gender.

Pengertian kesetaraan gender ini bukan persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Oh iya, kita harus membedakan dulu antara jenis kelamin dengan gender. Kalau jenis kelamin = keadaan biologis (alat kelamin) kalau gender itu lebih ke mindset dan norma masyarakat (tugas, tanggung jawab, dsb).

Karenanya ketika membahas kesetaraan gender bukan persamaan laki-laki perempuan tapi lebih ke rasa keadilan.

Apa hubungannya dengan kesehatan keluarga?

Keluarga yang sehat lahir dan bathin bisa timbul dari kondisi kesehatan fisik dan psikologis anggota-anggotanya. Ketidak setaraan gender (ketidakadilan) akan menyebabkan gangguan pada kesehatan anggota keluarga, khususnya kesehatan bathin, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi kesehatan fisik.
Cardigan blibli com
Cardigan Merah.
Sumber: blibli.com

Langit masih berwarna kelabu, meski kini pucat saja tidak sepekat tadi. Awan nampak kelelahan setelah sebagian besar kandungan airnya dicurahkan kebawah. Rintik gerimis seolah enggan menyudahi sesi hujan sore ini. Sementara beberapa jam yang lalu langit seakan murka, dengan geraman guntur yang bersahutan dengan bentakan halilintar. Kini angkasa sudah tenang kembali. Semburat Jingga pucat membayang di ufuk Barat, pertanda senja semakin dekat.

Dari balik jendela kamar, Carmen duduk termenung bertopang dagu. Pada meja kecil dihadapannya, sebuah kotak paket dari toko online telah terbuka. Disamping kotak tersebut terlipat rapi sebuah Cardigan Merah.

Matanya tertuju pada ujung kelopak Mawar yang bergoyang tertiup angin. Titik-titik gerimis membasahi Bunga Mawar itu, membuatnya tampak segar dan menambah kecantikannya.

Meski matanya lekat menatap bunga Mawar, namun pikiran Carmen tidaklah berada dikamar. Angannya mengembara pada masa ketika dia masih SMA...

***

Jalan hidup membawa Ryan kembali ke kota kelahirannya, Semarang. Dia ditugaskan oleh pimpinannya mengelola kantor cabang perusahaan di Semarang.

Hari-hari dia jalani seperti biasanya. Mengatur karyawan, mengatur operasional, menangani keluhan klien, beramah-tamah dengan orang-orang penting setempat, dll. Sampai pada suatu hari, dia meeting dengan salah satu vendor, supplier bunga.

Meeting dengan klien maupun vendor adalah pekerjaannya sehari-hari. Mendengar komplain klien, adu tawar harga dengan vendor, dan sebarek tetek bengek lainnya adalah tugasnya. Namun vendor bunga yang satu ini memberinya kejutan yang sangat. Bukan karena ada masalah orderan atau keuangan. Semua lancar-lancar saja. Masalahnya justru ada pada si perwakilan supplier bunga tersebut. Dia adalah Carmen, kekasihnya waktu SMA dulu.

Pertemuan yang tidak disangka-sangka ini membuat keduanya sama-sama terkejut. Baik Ryan maupun Carmen, sama-sama dilanda gelombang perasaan campur aduk yang tak terhingga.

Selama meeting mereka mencoba untuk professional. Meski untuk itu keduanya berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosi yang bergejolak. Meeting pun usai, Carmen kembali ke kantornya dan Ryan menemukan kembali meja kerjanya. Keduanya menyudahi hari dengan hati yang kusut masai.

Karena tuntutan pekerjaan, keduanya menjadi sering bertemu. Suasana yang awalnya rikuh, kini lancar mengalir. Seolah riangnya masa SMA teralami lagi oleh mereka. Sementara itu jauh didalam hati mereka berdua ada ruang bercat pucat yang kini kembali merona.

Suatu hari Ryan mendapat tugas dari pusat untuk melakukan survey lokasi untuk mendirikan kantor cabang baru di Sulawesi. Proses survey ini bisa memakan waktu beberapa hari bahkan bisa sampai dua mingguan.

Ryan berangkat dengan rasa enggan. Bukan karena pekerjaannya susah, namun karena ada alasan lain. Besok adalah hari ulang tahun Carmen, sementara dia harus berangkat hari ini.

"Andai saja aku bisa berangkat besok sore atau lusa. Huh", gerutu Ryan dalam hati.

Sambil merapikan barang bawaanya, dia berpikir bagaimana caranya supaya dia bisa tetap merayakan ulang tahun Carmen.

Sampai ketika dia memegang jaketnya. Selintas kenangan manis memberinya ide.

Segera diambilnya hp. "Beli Cardigan Wanita", itulah yang diketiknya. Ryan pun kemudian mengklik salah satu link yang muncul dari hasil pencarian Cardigan Wanita ini. 

Diantara sekian banyak model Cardigan pada halaman yang tampil itu, perhatiannya tertuju pada satu model, yang entah siapa yang membuatnya, bisa sedemikian mirip, plek plek sama, baik model maupun warnanya dengan sebuah Cardigan yang selalu menghiasi ruang kenangan.

Segera dia memilih Cardigan tersebut, kemudian menyelesaikan transaksinya dan mengisi alamat pengirimannya. Kantor Carmen. Dia atur pengirimannya supaya besok pagi sampai ke kantornya Carmen.

Setelah itu, baru Ryan bisa berangkat dengan lega.

***
Hari masih pagi, matahari masih malu-malu  meninggalkan garis cakrawala untuk tampil ke tengah langit. Ryan berjalan menyusuri lorong "belalai gajah" yang berakhir di pintu pesawat yang akan membawanya ke Makassar.

Sambil berjalan dia mengirim pesat kepada istrinya di rumah. "Sayang, mas baru mau naik ke pesawat nih. Hati-hati di rumah ya. Mudah-mudahan pekerjaan di Makassar gak lama, dan mas bisa segera pulang kembali."

***
Gerimis terakhir jatuh beberapa menit yang lalu. Carmen masih berada di masa lalu, menjalani kembali kenangan indah masa SMA. Cardigan Merah yang terlipat rapi di atas meja seolah menjelma menjadi layar lebar yang menayangkan film romantis paling manis dalam sejarah manusia.

Tak lama pintu kamar terbuka, seorang gadis kecil masuk sambil membawa hp. "Mama, ini papa nih, nanya mau dibawain apa dari Hongkong?"

Carmen tersenyum, menerima hp tersebut kemudian mencium pipi anak perepuannya yang menggemaskan itu.

"Terima kasih anak mama yang cantik. Hmm minta dibeliin apa ya?".

"Halo papa, gimana di Hongkong..."
Cidadap Eco Village Padalarang
Kampung Cidadap, Padalarang

Ini adalah bulan ketujuh saya tinggal di Bandung. Meski dulu pada waktu STM saya juga tinggal di Bandung selama tiga tahun, namun wajah Bandung sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan dengan Badung 19 tahun yang lalu.

Pada akhir dekade 90-an, Bandung masih "datar", belum banyak mall dan gedung bertingkat. Seingat saya, satu-satunya gedung bertingkat di Bandung itu adanya di Alun-alun, yakni gedung BRI.

Btw, dulu saking gak pernahnya memasuki gedung bertingkat, saya sampai kepikiran untuk datang ke gedung itu, bilang ke satpam bahwa saya ingin naik ke atap gedung. Saya membayangkan bahwa kalau bisa ke atap gedung setinggi itu, pasti serasa di film-film. he..he...

Waktu berlalu, jalan hidup membawa saya kembali ke Bandung, setelah 19 tahun tinggal di "Barat". 3 tahun di Tangerang dan 16 tahun di Jakarta.

Bandung kini memang lebih cantik dan semarak. Namun cantiknya sudah cantik "make up" bukan lagi cantik alami. Well, bukan berarti saya tidak suka, tentu saja saya suka kecantikan, baik make up maupun alami. Tapi...

Btw, ini ngomongin Bandung ya, jangan mikir kemana-mana ^_^

Memang masih banyak tempat alami di Bandung, karena Bandung dikelilingi oleh gunung-gunung. Di Utara ada kelompok gunung Tangkuban Perahu, di selatan kelompok gunung Patuha, di Barat kawasan karst Padalarang dan di Timur kelompoknya gunung Manglayang. 

Di kaki gunung masih banyak pedesaan dan kampung-kampung. Kalau berkunjung ke kampung-kampung ini, saya bisa merasakan suasana yang masih alami. Keramahannya, hidangannya, dll.

Nah, kunjungan saya terbaru ke kampung itu beberapa hari lalu. Tepatnya ke kampung Cidadap, yang  ada di Padalarang. Kampung Cidadap ini bisa dibilang dekat dengan keramaian kota. Malah tak jauh dari Cidadap terdapat sebuah pabrik besar.

Namun demikian, jika kita berkunjung kesini, kita bisa merasakan suasana desa yang asri. Pesawahan membentang. Rumah-rumah penduduk berderet. Dan dibelakang menjulang bukit karst yang oleh penduduk setempat disebut Gunung Hawu.
Cidadap Eco Village Padalarang Bandung
Jalan Desa di  Cidadap Eco Village

Ada yang unik dari kampung Cidadap ini, yakni di halaman-halaman rumah penduduk, jarang ada ruang kosong. Halaman-halamannya banyak ditanami tanaman produktif, seperti sayuran, cabe, dll. Ada juga yang menghias halamannya dengan tanaman bunga-bunga yang indah.

Taksiran saya sih tanaman tersebut untuk dikonsumsi sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dapur sendiri.

Saya mendapat informasi dari kang Ganjar, seorang tokoh penggiat di Cidadap. Rupanya, kampung Cidadap ini merupakan sebuah desa yang mengusung konsep Eco Village. Program Eco Village ini secara resmi dimulai pada bulan Juni tahun 2017 lalu.

Adapun program-programnya diantaranya adalah Bank Sampah, Penghijauan Halaman Rumah, dan pemberdayaan UKM.

Adapun produk UKM sementara ini berupa Karpet berbahan dasar limbah plastik bekas kemasan makanan. Ada juga produk gantungan kunci dari limbah kayu olahan.
Kampung Berseri Astra Cidadap Eco Village
Spanduk Kampung Berseri Astra

Di beberapa tempat saya menemukan spanduk berlogo "Kampung Berseri Astra". Ketika saya bertanya ke kang Ganjar, apa peranan Astra. Kang Ganjar mengutarakan bahwa Kampung Berseri ini merupakan program CSR ASTRA yang ingin memberdayakan kampung-kampung di seluruh Indonesia.

Konsep pemberdayaan dan pengembangan kampung ini mengintegrasikan 4 program yakni:
  1. Kesehatan
  2. Pendidikan
  3. Lingkungan
  4. Kewirausahaan

Program kampung Berseri Astra ini mentargetkan supaya masyarakat dengan perusahaan bisa berkolaborasi dalam upaya mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, cerdas dan produktif. Dengan demikian tarah hidup masyarakat di kampung tersebut lebih meningkat.

Oh, pantesan, Cidadap ini meski kampung namun sudah menjalankan konsep pengelolaan yang modern.

Ketika melihat gunung Hawu yang menjulang gagah seolah menjaga kampung Dadap, saya jadi kepikiran pariwisata. Saya pun bertanya pada kang Ganjar, apakah di Kampung Cidadap ada objek wisatanya.

Tepat seperti dugaan saya, gunung Hawu merupakan objek wisata. Adapun objek wisata di gunung Hawu adalah menjajal adrenalin dengan berbaring di hammock di ketinggian.

Jadi Pengelola wisata gunung Hawu, memasang hammock diantara pucak-puncak runcing karst. Para pengunjung dipersilahkan menjajal keberaniannya meniti tali menuju hammock yang ada di udara. Setelah sampai, pengunjung bisa sekedar berbaring disana dan foto-foto. Namun tentu saja semua aktifitas ini menerapkan standar keamanan dan keselamatan yang tinggi.

Meski kelihatan sepele, berada di ketinggian puncak dengan jurang berdasar batu karst menganga dibawah, tentu membutuhkan keteguhan hati dan mental yang teruji. Sepertinya ini kurang cocok buat orang yang sakit jantung atau takut ketinggian.

Untuk menjajal hammock di puncak tebing ini, para pengunjung dikenakan biaya 150rb.

Tak jauh dari Cidadap terdapat tempat wisata lainnya. Kalau yang ini sudah terkenal sejak dulu, yakni Situ Ciburuy. Keindahan situ Ciburuy ini sampai bisa menginspirasi seorang seniman menciptakan lagu berjudul Bubuy Bulan, yang di salah satu bagian liriknya menceritakan keindahan dan keunikan dari Situ Ciburuy

Kampung Berseri Astra, Cidadap Eco Village, merupakan kampung yang menerapkan sistem pengelolaan modern. Namun demikian ada beberapa hal yang bagi saya rada mengganjal. Hal-hal tersebut adalah:
  • Kurangnya papan penunjuk jalan. Untuk mencapai Cidadap harus menggunakan "GPS" alias Gunakan Penduduk Setempat alias bertanya he..he...
  • Belum ada sentra informasi.
  • Ekspose media masih kurang

Namun demikian Cidadap Eco Village ini mudah-mudahan menjadi langkah awal dari upaya mewujudkan semangat pemberdayaan kampung-kampung Indonesia. Semoga seiring berjalannya waktu, konsep pengelolaan kampung modern ini menular ke kampung-kampung di sebelahnya, bahkan lebih luas lagi.

Aamiiinnn
Go-Talk ITB
Go-Talk

Saya berkesempatan mengikuti acara Go-Talk yang diselenggarakan oleh Gojek bekerjasama dengan ITB, dalam rangka program Go-Academy. Acara ini berlangsung pada hari Jum'at, 30 November 2018, di kampus ITB.

Hadir sebagai pembicara adalah Iqbal Faraby dan Giovanni Sakti Nugraha, keduanya adalah alumni ITB.

Berikut adalah catatan dari materi yang disampaikan oleh kedua pembicara:

Pembicara pertama
Iqbal Faraby

Cikal bakal Gojek sudah berdiri sejak tahun 2009. Namun pada saat itu, sistemnya masih call center, dan pelanggannya masih corporate. Jadi perusahaan yang butuh transport, telpon ke nomor call center go-jek, lalu kemudian dikirim kendaraan kesana.

App Gojek diluncurkan tahun 2015, dan dalam 3 tahun telah berkembang sebesar 6.600 %. Awalnya hanya go-ride, go-mart dan go-send. Namun hingga tahun 2018 ini Gojek sudah berkembang sangat pesat. Gojek  melakukan ekpansi ke 4 negara: Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Service Gojek juga sudah banyak, bahkan untuk kebutuhan operasionalnya, Gojek mengakuisisi 3 perusahaan Fintech yakni Midtrans, Kartuku, dan Mapan.

Sekarang ini sistem Gojek  menangani sekitar 3jt order perhari. Dari sisi teknis terjadi 350jt API calls per detik.

Operasional dan lalu lintas data sebesar ini, tentulah membutuhkan sistem, baik hardware maupun software yang skala besar pula. Dalam menangani operasional teknis sebesar itu, Gojek melakukan 3 pendekatan:
  • Tech and tools
  • Metodologi
  • Engineering culture

Tech And Tools
System Gojek menerapkan arsitektur microservices. Applikasi layanan Gojek dipecah-pecah menjadi banyak sekali microservices, alias layanan-layanan yang secara teknis independen. Sistem microservices ini digunakan supaya ketika ada satu layanan yang bermasalah, sistem Gojek tetep jalan.

System Gojek menggunakan Nginx sebagai load balancer. Dibelakang nginx baru server-server microservices. Ada sekitar 500 services yang membentuk Gojek. 500 services ini dimaintain oleh 300 orang engineer.

Setiap harinya, para engineer melakukan ratusan push/hari. Push ini bisa berupa upgrade sistem maupun bug fixing.

Adapun perubahan-perubahan yang dipush tersebut harus lulus melalui 3 tahap terlebih dahulu, yakni:
  • Tahap 1. CI/DI Gitlab
  • Tahap 2. Server Staging
  • Tahap 3. Server Production

Server Gojek menggunakan Linux, yang berjalan pada sekitar 20.000 CPU. Memanfaatkan Kubernetes sebagai container dan scaling managementnya.

Dari diagram arsitekturnya bisa dikelompokan menjadi beberapa komponen:
  • Services
  • Worker
  • Stream Processing (kafka)
  • Database

Gojek menerapkan cara 3D Microservices Scaling:
  • Functional Decomposition
  • Data partitioning
  • Horizontal scaling of individual services
Setiap services memanfaatkan software yang berbeda-beda, namun umumnya menggunakan software opensource. Software-software tersebut diantaranya:
  • Go
  • Rails
  • Java
  • Scala
  • Clojure
  • Python
  • Postgre
  • Rocksdb
  • Hazel cast
  • Rabbitmq
  • Redis
  • dll

Methodology
Adapun methodology development yang digunakan Gojek adalah Agile. Sistem Gojek didevelop secara bagian (chunk) yang kecil. Setiap chunk, ditest dan divalidasi dulu. Baru dideploy. Kemudian lanjut ke chunk berikutnya.

Engineering Culture
Selain hal-hal yang sifatnya teknis, Gojek juga mengembangkan budaya kerja sendiri. Budaya kerja inilah yang menjadikan Gojek seperti sekarang ini.

Poin-poin budaya kerja tsb diantaranya:
  1. Everyone writes code. At Gojek, writing code is not low level task, it's at very core of what we do. Leader who code are better on judges of technical skill in people.
  2. Everyone needs to walk the talk
  3. Leaders are grown not made
  4. Every decision is right at the time it made. Blameless postmortem. Ketika terjadi kesalahan, yang dilakukan adalah: Apanya yang salah? bukan Siapa yang salah? lalu dicarikan solusinya
  5. Working in tech mean learning all the time. Engineer is a forever student.
  6. Pair programming and TDD (Test Driven Development). TDD ini bisa mencegah terjadinya defect.
  7. Be Confident and stay humble
Engineer di Gojek harus memahami Intelectual Humility (https://en.wikipedia.org/wiki/Intellectual_humility). Selain itu mereka harus mau belajar dan terus belajar, dan kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.

Selama ini Gojek senantiasa "mengambil/menerima".  Yang dimaksud mengambil disini adalah, Gojek menggunakan segala macam software open source yang bisa dikatakan gratis.

Sebagai wujud tanggung jawab moral, Gojek pun kemudian "memberi". Gojek membuat beberapa tools yang selama ini digunakan oleh para engineer Gojek untuk memudahkan pekerjaannya. Tools-tools tersebut kemudian dijadikan open source supaya bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.

Tools-tools open source Gojek ini bisa dibuka di:
http://www.github.com/Gojektech

selain itu ada beberapa karya Gojek juga bisa dimanfaatkan oleh umum:
http://www.github.com/Gojekfarm
http://www.github.com/go-squads
http://blog.Gojekengineering.com
http://slides.com/qblfrb

***
Pembicara kedua
Giovanni Sakti Nugraha

Membuka pembicaraannya dengan sebuah pengakuan bahwa dia adalah seorang hacker. Hadirin merespon dengan wah,wow dan sejenisnya. Namun Gio segera meluruskan, bahwa hacker yang dia maksud bukan dalam pengertian salah kaprah yang sudah terlanjur dipahami masyarakat dewasa ini.

Dalam pengertian populer, hacker adalah seorang yang bisa memasuki sistem komputer teraman sekalipun dan melakukan apapun yang dia mau.

Adapun Hacker yang dimaksud Gio disini adalah orang yang suka ngoprek hal-hal baru yang ada hubungannya dengan teknologi.

Gio menunjukkan sebuah cover buku pada slide presentasinya. Buku tersebut berjudul The Cathedral and The Bazaar, karya Eric S. Raymond. Dengan penjelasan singkat Gio menyampaikan bahwa dengan sistem Bazaar pun, kita bisa mengambil nilai bahkan making money out of it.

Itulah yang membuat Gojek, dalam membangun sistemnya secara teknis, menggunakan produk-produk open source.

Meski memang sistem Bazaar ini mempunyai beberapa kekurangan, diantaranya:
  • No Warranty
  • Effort maintenance
  • Unwritten responsibility to community
Namun Gojek tetap menggunakan produk Open Source; dan untuk menanggulangi kekurangan diatas, maka Gojek menghire engineer-engginer yang bisa mengikuti culture kerja seperti yang telah dipaparkan diatas.

Gio kemudian menceritakan bagaimana Gojek "membayar" program-program open source yang dimanfaatkannya selama ini. Adapun cara membayarnya adalah, program-program atau tools-tools yang selama ini digunakan Gojek untuk membantu engineernya mendevelop sistem Gojek, itu dijadikan program open source.

Dengan demikian, program-program tersebut bisa diakses oleh umum, bahkan sampai ke source codenya.

Meski memang tidak begitu saja dishare ke orang. Setiap program yang dijadikan open source akan melalui proses penyaringan terlebih dahulu. Dari setiap program tersebut akan dipilah dulu, mana bagian yang benar-benar rahasia dapur Gojek (proprietary), mana yang boleh diakses oleh umum.

Beberapa Contoh tools yang digunakan engineer Gojek kemudian dijadikan open source adalah:
  • Need robust http client for Go Language, that can handle our scale-> heimdall
  • Need automate infrastructure related task, make it self service -> proctor 
  • Need centralize loging paltform to manage loging across all of Gojek service-> BaritoLog
  • We need platform single sign on -> gate-sso
Mengapa Gojek mau meng-open source-kan tool-tool mereka?

Disamping sebagai "bayar utang budi", ternyata ada alasan cukup lucu yang dikemukakan oleh Gio. Yakni, ketika seorang developer akan merelease kode yang open source, dia akan membuatnya sesempurna mungkin. Karena kode tersebut akan dilihat oleh orang banyak, dari semua level keterampilan. Si developer akan malu kalau kode buatannya ketahuan banyak kekurangannya.

Padahal si Developer tidak akan sehati-hati itu kalau membuat kode untuk lingkungan internal perusahaan.

Pemaparan tentang alasan developer ini memancing tawa riuh dari para hadirin.

Kemudian Gio mengutip quote dari buku The Cathedral and The Bazaar, "Given enough eyeballs all bugs are shallows." Karenanya di Gojek ditanamkan culture untuk selalu kolaborasi, kolaborasi dan kolaborasi.

Memasuki sesi tanya jawab, diantara peserta yang sebagian besar masih mahasiswa ini ada yang bertanya, bagaimana tipsnya supaya bisa diterima kerja di Gojek.

Baik Iqbal maupun Gio mempunyai jawaban yang senada, yakni pelamar harus punya portfolio.

Caranya adalah dengan membuat account di github, lalu upload program-program yang pernah kalian buat. Selain itu sebaiknya menjadi kontributor di salah satu project open source. Pada project apapun.

Namun biar effort kita nggak sia-sia, buatlah program/project, atau bergabunglah di project open source, yang kita memang menggunakannya sehari-hari. Jangan buat program atau gabung di project yang kita tidak gunakan. Karena itu hanya membuang-buang energi kita saja.

Selain github, ada juga website codetriage.com. Pada website ini kita juga bisa berkontribusi di salah satu project open source.

Bicara masalah spesialisasi bahasa pemrograman, Gojek tidak mematikan potensi seorang engineer dengan membuatnya jadi spesialis satu bahasa saja. Semua Engineer diberi kebebasan untuk mengembangkan diri, karena potensi orang itu tidak terbatas. Tinggal si engineernya sendiri, apakah mau mengembangkan diri atau tidak.

Point lainnya seputar budaya kerja adalah:
  1. Learning
  2. Professionalism

Dalam menangani masalah, ada 3 hal yang harus diketengahkan:
  1. Grip
  2. Problem solving
  3. Collaboration
Tagline Gojek adalah social impact, jadi solusi apapun yang dibuat Gojek haruslah dilandasi oleh semangat social impact, bagaimana produk yang saya buat ini bisa berpengaruh atau memberikan nilai positif pada masyarakat.

Pertanyaan lainnya adalah seputar monitoring sistem.

Ada yang disebut dengan Pillar of Capability, yakni:
  • Monitor
  • Log
  • Trace
Ketiga komponen ini harus ada pada setiap system yang harus selalu online. Salah satu contoh tracer yang digunakan di Gojek adalah Jaeger.

Ada lagi pertanyaan tentang serverless product
Gio dan Iqbal menyatakan bahwa saat ini Gojek sedang mengeksplor tentang serverless product ini dan dimasa mendatang bisa saja Gojek mengaplikasikan konsep serverless product ini.

Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.