GANEFO

GANEFO 
Pesta olahraga yang melibatkan banyak cabang olahraga bagi Indonesia mempunyai dua makna:

  1. Pertama berkaitan langsung dengan pesta olahraga itu sendiri, yaitu pemecahan rekor dari cabang-cabang yang dipertandingkan. 
  2. Kedua, makna yang tersirat di baliknya, yaitu memperlihatkan kepada bangsa lain bahwa bangsa Indonesia juga memiliki kemampuan untuk mengadakan pesta akbar dalam cabang olahraga. 

Maka penyelenggaraan Asian Games IV, GANEFO, SEA Games, Asian Games 2018, dan lain-lain tidak lepas dari kerangka dua makna tersebut.

Berbagai ajang olahraga berskala intemasional telah diselenggarakan di Indonesia dan memperoleh sukses besar sebagai tuan rumah. Islamic Solidarity Games adalah salah satu ajang itu, yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan pada 22 Oktober 1 November 2013. Ajang olahraga internasional  yang untuk ketiga kalinya diadakan ini, diikuti 43 negara-negara Islam, dengan mempertandingkan 18 cabang olahraga. Indonesia berhasil meraih peringkat pertama dengan mengumpulkan 105 buah medali: 36 emas, 35 perak, dan 34 perunggu.

GANEFO - Ajang Tandingan Olimpiade
Games of the New Emerging Forces (GANEFO) diselenggarakan di Jakarta pada 10 — 22 November 1963. Kegiatan ini diikuti 51 kontingen dengan sekitar 2.700 atlet. Negara-negara peserta GANEFO dikenal sebagai the New Emerging Forces (NEFO), yaitu "bangsa-bangsa yang tertindas dan bangsa-bangsa yang progresif revolusioner menentang imperialisme dan neokolonialisme". Ide penyelenggaraan GANEFO dilontarkan Presiden Soekarno setelah Indonesia keluar dari International Olympic Committee (IOC), sebagai balasan terhadap skorsing IOC dalam Olympiade Tokyo, 1964. Ternyata politik tidak bisa dipisahkan dari olahraga, walaupun doktrin IOC dengan tegas menyatakan pemisahan antara keduanya.

Indonesia kala itu menjadi juara umum ketiga, di bawah Cina dan Uni Sovyet, dengan mengantongi 17 emas, 24 perak, dan 30 perunggu. GANEFO kedua rencananya akan diselenggarakan di Kairo, Mesir pada 1967, tetapi karena pertimbangan politik maka dipindahkan ke Phnom Penh, Kamboja, pada 25 November 6 Desember 1966. Selanjutnya GANEFO tidak pernah diselenggarakan lagi.

Asian Games 1962 - Prestasi  Tertinggi di Asia
Mengantongi 51 medali, terdiri dari 11 medali emas, 12 medali perak, dan 28 medali perunggu dengan jumlah 290 atlet putera dan puteri adalah puncak pencapaian tertinggi keikutsertaan Indonesia pada Asian Games, yakni pesta olahraga bangsa-bangsa Asia. Hal itu terjadi ketika Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Asian Games ke-4 pada tahun 1962 di Jakarta. Sampai sekarang kesuksesan prestasi itu tidak dapat diulangi lagi. Ajang itu diikuti oleh 18 negara dengan mempertandingkan 13 cabang olahraga dan mendudukkan Indonesia sebagai urutan kedua di bawah Jepang.

Awalnya dari pesta olahraga negara-negara Asia Kecil, Far Eastern Championship Games (The Orient Championships) pada 1934 di Manila, kemudian berubah namanya setelah Perang Dunia Il menjadi Asian Games. Kota New Delhi, India, menjadi tempat diadakannya pertama kali pada bulan Maret 1951 dengan diikuti oleh 14 negara. Jepang telah beberapa kali menjadi kampiun Asian Games sampai 1978, dan sejak tahun 1982 Cina memegang hegemoni pesta olahraga bangsa Asia ini.

Pekan Olahraga Nasional (PON)
Olahraga telah menjadi suatu conditio sine qua non bagi bangsa Indonesia, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Di tengah suasana perjuangan mengusir penjajah yang berusaha menduduki kembali Tanah Air, Indonesia menyelenggarakan PON yang pertama pada tanggal 8 - 12 September 1948 di Solo, Jawa Tengah.

Saat itu, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) juga berkedudukan di Kota Solo, hal ini pula yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan Solo sebagai tuan rumah PON. PON pertama ini menjadi titik perjuangan untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia masih dapat menyelenggarakan acara olahraga dalam skala nasional, meski wilayah Republik Indonesia saat itu dipersempit akibat Perjanjian Renville (1948). Setelah masa-masa-sulit tersebut, PON diselenggarakan secara teratur setiap empat tahun sekali dengan kondisi yang semakin baik dari waktu ke waktu. Hingga kini, Jakarta sebagai ibukota negara tercatat pernah menjadi tuan rumah sebanyak sembilan kali.

Paralympic Games - Kaum Difabel Pengharum Nama Bangsa
Dalam Paralympic Games, ajang  olahraga untuk kaum yang menyandang keterbatasan aktivitas, Indonesia memulai debutnya pada tahun 1976 di Toronto, Kanada. Sepanjang keikutsertaannya, Indonesia berhasil meraih 16 medali, yaitu 4 emas, 3 perak dan 9 perunggu. Medali terakhir berupa perunggu diraih oleh David Jacobs dalam cabang tenis meja putera perorangan pada London Paralympic Games 2012. Pesta ini diikuti 4.200 atlet dari 165 negara, di mana upacara pembukaannya menjadi acara yang paling banyak disaksikan di seluruh dunia.

Selain itu ada Far East and South Pacific Games for the Disabled (Fespic Games) yang pertama kali diadakan pada 1975 di Jepang. Indonesia menjadi penyelenggara Fespic Games ke-4 pada 1986 di Surakarta, Jawa Tengah. Ajang ini diikuti oleh 19 negara di Asia Pasifik dengan jumlah peserta sebanyak 834 atlet. Sejak 2010, Fespic Games berganti menjadi Asian Para Games. Di tingkat Asia Tenggara, pada ASEAN Para Games 2015 yang berlangsung di Singapura, Indonesia menduduki posisi kedua di bawah Thailand, setelah pada kejuaraan sebelumnya tampil sebagai juara umum.

Berbagai Ajang Tinju - Melambungkan Nama Bangsa
Dunia tinju telah lama melambungkan nama Indonesia dalam kancah olahraga internasional. Peran Pertina untuk tinju amatir dan KTI untuk profesional, sangat besar. Waktu itu berbagai kejuaraan masih sering diadakan mulai dari Sarung Tinju Emas (STE), Kejurnas Tinju, PON, dan utamanya adalah ajang tinju internasional Piala Presiden, yang pada tahun 1976 Indonesia berhasil menjadi juara umum dengan meraih lima medali emas.

Ajang tinju yang membuat nama Indonesia terkenal ke seluruh dunia adalah ketika Indonesia menampilkan juara dunia tinju kelas berat Muhammad Ali bertarung non-gelar melawan Rudi Lubbers dari Negeri Belanda pada 20 Oktober 1973. Ali 'menyiksa' lawannya selama 12 ronde dalam pertandingan di Istora Senayan, Jakarta. Publik dan pers Indonesia menyebutkan bahwa pertandingan ini sebagai pertandingan ekshibisi, namun kenyataannya adalah penandingan resmi, walau tidak untuk memperebutkan gelar.

Semarak Ajang Atletik - Berlari Sampai Finish
Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta menjadi tonggak bersejarah bagi cabang atletik, ketika beberapa atletnya berhasil menyabet medali emas, perak, dan perunggu. Hal ini tidak lepas dari peran PASI sebagai induk cabang atletik dengan pembinaan yang terukur dan berjenjang di tingkat daerah. Namun, dibutuhkan waktu puluhan tahun hingga Olimpiade Los Angeles 1984, ketika Purnomo Muhammad Yudhi menjadi satu-satunya sprinter Asia yang berlomba di semifinal lari 100 meter.
Belakangan ini, Indonesia banyak menyelenggarakan lomba lari jarak jauh berskala internasional dimulai dengan Jakarta 10K, Bali 10K, termasuk lari marathon dan ultramarathon. Pada 25 Oktober 2015 diadakan lomba lari Mandiri Jakarta Marathon 2015 dengan berbagai kategori lari, yang membuat masyarakat non-atlet ikut berpartisipasi.

Untuk kategori marathon elite runner, sebagai puncak perlombaan, dijuarai oleh pelari Kenya. Berbagai lomba lari yang diadakan di Indonesia terbilang sukses dalam penyelenggaraannya, di mana banyak atlet dari mancanegara datang dan membayar biaya pendaftaran. Jumlah hadiah uang bagi pemenangnya juga menggiurkan.

Peristiwa di Ajang Bulutangkis - Piala Thomas Lepas
Turnamen Piala Thomas tahun 1958 menjadi awal kejayaan Indonesia merajai bulutangkis beregu putera dunia. Indonesia mengalahkan juara bertahan Malaysia dengan skor 6-3. Setelah itu Indonesia telah menguasai ajang Piala Thomas ini sebanyak 13 kali. Dalam final tahun 1967 di Jakarta, Indonesia dinyatakan kalah 3-6 dari Malaysia akibat ulah penonton yang dianggap mengganggu konsentrasi pebulutangkis Malaysia. Peristiwa ini dikenal sebagai "Peristiwa Scheele", di mana Herbert Scheele sebagai wasit kehormatan memutuskan pertandingan dilanjutkan di tempat netral, yang ditolak oleh Indonesia.

Dalam Piala Sudirman, turnamen bulutangkis beregu yang digagas untuk mempersatukan dua organisasi IBF dan WBF, Indonesia pernah meraih piala itu satu kali ketika awal diadakannya pada tahun 1989 di Jakarta. Untuk bulutangkis beregu puteri, Indonesia menjuarai Piala Uber sebanyak tiga kali. Selanjutnya, berbagai kejuaraan bulutangkis kelas dunia kerap diadakan di Indonesia seperti kejuaraan dunia, Super Series, dan lain sebagainya untuk memberikan pengalaman demi meningkatkan prestasi atlet-atlet bulutangkis Indonesia.

Ajang Beladiri Dunia - Mau Yang Impor atau Yang Asli
Dalam Kejuaraan Dunia Wushu yang diselenggarakan di Jakarta (2015), dengan hampir seribu pesena dari 70 negara, Indonesia berhasil menyabet 16 medali, yaitu 7 emas, 3 perak, 6 perunggu dan menduduki posisi kedua setelah Cina. Bagi Wushu, raihan emas seolah-olah menjadi tradisi dalam beberapa dekade belakangan ini. Demikian halnya dengan Karate, yang telah berbicara banyak tidak hanya di tingkat Asia, bahkan dunia dengan menjadi juara dunia pada kejuaraan yang diselenggarakan International Amateur Karate-do Federation (IAKF) ataupun World Union Karate-do Organization (WUKO) sejak tahun 1980-an. Prestasi yang membanggakan juga disumbangkan oleh Judo, Taekwondo, dan lain-lain.

Olahraga beladiri Pencak Silat sebagai olahraga asli Indonesia juga telah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Pesertanya semakin berkembang. Prestasi Indonesia di cabang ini sudah tidak diragukan lagi, karena atlet-atlet yang dikirim Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) beberapa kali menjadi Juara Umum dalam Kejuaraan Dunia Pencak Silat di mancanegara.

Proliga Indonesia - Tidak Hanya Spike yang Keras
Permainan bola volley sudah dikenal sejak masa penjajahan Belanda. Akan tetapi, Organisasi Persatuan Bola Volley Seluruh Indonesia (PBVSI) baru terbentuk pada Januari 1955, lebih belakangan dari partisipasi bola volley dalam PON ke-2 tahun 1951 di Jakarta.
Sejak Asian Games 1962 dan Ganefo 1963, perkembangan bola volley makin meningkat denganb anyaknya klub-klub yang bermunculan di seluruh Indonesia.

Prestasi bola volley putera Indonesia cukup membanggakan karena bisa berbicara di tingkat Asia Tenggara, beberapa kali menjadi kampiun, hanya pada SEA Games 2015 Indonesia meraih perunggu. Proliga, kompetisi antar klub yang diadakan sejak 2002, di mana klub bisa mendatangkan pemain asing dari Cina, Brasil, Kuba, membawa pengaruh positif bagi prestasi bola volley nasional. Selain bola volley indoor, juga dikenal bola volley pantai dengan prestasi-prestasi yang membanggakan untuk tingkat Asia dan Asia Pasifik.

Kompetisi Bola Basket - Bukan Sekadar Menjaringkan Bola
Bola basket sudah dikenal  di Indonesia sejak zaman penjajahan, bahkan pada PON pertama di Solo 1948, olahraga ini telah dipertandingkan secara resmi. Persatuan Basketball Seluruh Indonesia lahir pada Oktober 1951 , namanya kemudian berubah menjadi Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) sejak 1955.

Perbasi bertugas menyelenggarakan kompetisi antar klub se-lndonesia, tapi baru pada dekade 80-an, kompetisi yang teratur dapat berjalan ketika berlangsung Kobatama (Kompetisi Bola Basket Utama) di bulan April 1982. Setelah Kobatama, muncul kompetisi professional Indonesian Basketball League (IBL) yang bergulir sejak 2003. Tujuh tahun kemudian, pada 2010 muncul National Basketball League (NBL) sebagai pengganti IBL. Sekarang ini, prestasi bola basket Indonesia di kancah  internasional belum diperhitungkan. Diperlukan suatu kompetisi yang berjenjang dan pembinaan  yang berdisiplin untuk bisa menghasilkan prestasi yang hebat.

Arena Surfing Sungai Kampar - Bono Surfing
Biasanya para pencinta olah raga air permukaan, melakukan surfing-nya di gelombang laut, namun uniknya di muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, para penggemar olah raga ini bisa menunggangi gelombang tinggi dari sungai. Masyarakat setempat menyebutnya, 'Bono'.

Bono adalah fenomena alam berupa gelombang atau ombak tinggi yang terjadi akibat benturan tiga  arus air dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan, dan Sungai Kampar, Riau. Akibat benturan ini, timbul gelombang setinggi 4—5 meter dengan kecepatan sekitar 40 km/jam, susul menyusul dan tidak pecah sampai puluhan kilometer panjangnya menuju arah hulu. Kemunculannya ditandai dengan suara gemuruh yang hebat.

Bono terbesar biasanya terjadi ketika musim penghujan, saat debit air Sungai Kampar cukup besar, yaitu sekitar bulan November dan Desember. Pada waktu itulah para peselancar, baik  lokal, nasional maupun dari mancanegara ramai mendatangi lokasi terjadinya bono. Peristiwa itu  tentu saja mengundang banyak wisatawan untuk menyaksikannya. Bahkan kini gelombang bono masuk  ke dalam 27 tujuan wisata nasional.

Ajang Pendukung Kepariwisataan - Olahraga Melintasi Laut dan Darat
Sejak diluncurkan pada 2001, Sail Indonesia berupaya memperkenalkan dan mempromosikan potensi pariwisata dan budaya bahari Indonesia kepada dunia. Diawali dengan lomba perahu layar antara Darwin, Australia Utara menuju Bali, Sail Indonesia menjadi acara tahunan dengan
rute pelayaran dan tema yang berbeda- beda, seperti Sail Bunaken (2009), Sail Banda (2010), sail Komodo (2013), Sail Raja Ampat (2014), dan terakhir Sail Tomini (2015).

Tour de Singkarak di Sumatera Barat menjadi lomba balap sepeda tingkat internasional sejak dilaksanakan pada 2009. Meski pembalap tuan rumah belum pernah juara, sejak awal
penyelenggaraannya, tour ini telah mengundang animo masyarakat untuk menyaksikan balapan ini, bahkan tahun 2015 mencetak jumlah penonton kompetisi balap sepeda terbanyak kelima di dunia, yaitu 550.000 orang sebagaimana dilansir Union Cycliste Internationale (UCI). Seiring dengan
kejuaraan ini, industri pendukung menuai hasil. Kegiatan-kegiatan ini membuka peluang bisnis sekaligus mempromosikan pariwisata Indonesia kepada dunia.

***

Sumber: Museum Olah Raga Indonesia, TMII

Jangan dilewatkan juga membaca yang ini:




Museum Olah Raga TMII
Foto-foto sepak bola di Museum Olah Raga, TMII

Sudah lama sepakbola menjadi  olahraga terpopuler di dunia. Setiap kali dipertandingkan, terlebih Piala Dunia dan Piala Eropa, selalu menyedot perhatian. Media sosial sering dimanfaatkan klub untuk memperkenalkan, mempromosikan, dan berinteraksi dengan para penggemar. Bahkan beberapa Fans Club memiliki pertemuan rutin, di antaranya nobar (nonton bareng) jika klub favorit mereka berlaga; lengkap dengan atribut khas yang harus dibeli sendiri.

Masyarakat pun fanatik pada klub lokal  mereka. Lahirlah sebutan akrab untuk para pendukung klub, seperti Jakmania (Jakarta), Bobotoh (Bandung), dan Bonek (Surabaya). Fanatiknya masyarakat pada sepakbola juga tidak lepas dari peran stasiun televisi yang menyiarkan pertandingan jangsung atau pertandingan tunda liga-liga sepakbola lokal dan dunia.

Fenomena lain pun dilakukan oleh kebijakan pemerintah. Untuk mengangkat prestasi sepakbola Indonesia.  Sejak 2010 beberapa pemain asing di klub-klub dinaturalisasi. Hingga 2015, tercatat sudah belasan pemain mengikuti program tersebut.

Sejarah Sepakbola
Olahraga sepakbola dikenal sejak zaman purba. Menurut bukti ilmiah, pada masa Dinasti Han (sekitar abad ke-2 SM) di China, dikenal semacam sepakbola  yang disebut tsu chu (xu ju). Permainan itu untuk melatih fisik para prajurit, berupa latihan menendang bola kulit dan memasukkannya ke jaring kecil. Pemain hanya boleh menggunakan kaki, dada, punggung, dan bahu.

Di Jepang, sejak 500-an tahun lalu, dikenal permainan menggiring bola dari kulit hewan yang disebut "kemari”.  Di Yunani dikenal dengan nama "epyskiros" dan di Romawi "harpastum." Kemungkinan orang Romawi membawa permainan itu ke Inggris. Permainan yang mirip juga ditemukan di Mesir Kuna.

Pada tahun 1314, Raja Edward Il dari Inggris melarang olahraga ini karena banyaknya tindakan kekerasan brutal tanpa aturan, namun Raja Edward Ill mencabut larangan tersebut (1369). Permainan ini kembali dilarang oleh Ratu Elizabeth I (1572), sampai akhirnya Raja Charles Il pada 1680 mencabut larangan tersebut.

Tahun 1863, Football Association (FA) akhirnya resmi berdiri di London. Asosiasi inilah yang kemudian menata dan membuat peraturan permainan sepakbola untuk penyelenggaraan kompetisi di Inggris.

Sejarah Sepakbola di Indonesia
Sejarah Sepakbola Indonesia
Sejarah Sepakbola Indonesia
Sebuah jurnal Belanda (1870) mewartakan, segerombolan orang di Batavia menendang-nendang bola rotan pada sebuah tanah lapang. Selanjutnya HCC Clockener Brousson menulis, voetbal telah dimainkan mahasiswa School Tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Waterlooplein, Batavia, pada 1892.

Klub sepakbola pertama di Batavia, Bataviasche Cricket-En Football Club Rood-Wit, berdiri pada 1893. Pada awal 1900-an banyak bond (kiub) didirikan oleh orang-orang Belanda yang kemudian bergabung dalam Nederlandsche-lndische Voetbal Bond (NIVB). Masyarakat pribumi kemudian mendirikan Vorstenlandsche Voetbal Bond (WB) pada 1923 dan Javasche Voetba/ Bond (JVB) pada 1924 di Surakarta, serta Indonesische Voetba/ Bond (IVB) di Surabaya pada 1927.

Bond-bond yang sudah ada ditambah Perserikatan Sepakbola Mataram (PSM), Voetba/bond Indonesia Jakarta (VIJ), dan Bandungsche Indonesia Voetbal Bond (BIVB) sepakat mendirikan Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia pada 19 April 1930. Di tahun yang sama, dalam Kongres I di Solo, namanya diubah menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Soeratin Sosrosoegondo terpilih meniadi Ketua PSSI.

Logo PSSI
PSSI

Sejarah Kompetisi Sepakbola
Setahun Setelah PSSI terbentuk, kompetisi sepakbola amatir diselenggarakan (1931). Sepakbola juga  dipertandingkan sejak PON pertama (1948). Untuk pembinaan, mulai 1965 diselenggarakan kompetisi untuk pemain yunior di bawah 19 tahun; memperebutkan Piala Suratin.

Babak baru sepakbola Indonesia dimulai ketika muncul klub profesional Pardedetex (1972), yang merekrut sejumlah pemain nasional, seperti Sucipto Suntoro, Iswadi Idris, dan Abdul Kadir.
Pardedetex-lah yang kemudian mensponsori Piala Marah Halim, mengusung nama Marah Halim Harahap, Gubernur Sumatera Utara periode 1967-1978. Awalnya Piala Marah Halim hanya diikuti kesebelasan perserikatan dari Tanah Air, namun kemudian tim-tim mancanegara pun diundang.

Pada 1979, PSSI mulai menyelenggarakan kompetisi bersifat semi profesional, yaitu Liga Sepakbola Utama (Galatama). Kemudian pada 1994 PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia (Ligina). Pada 2008, PSSI melaksanakan Liga Super Indonesia sebagai liga sepakbola antarklub profesional pertama di Indonesia.

Kita Pernah di Piala Dunia
Indonesia Piala Dunia 1938
Indonesia di Piala Dunia 1938
Sepakbola Indonesia pernah berprestasi internasional. Pada 1938 tim Indonesia, yang masih bernama Hindia Belanda, tampil di Piala Dunia Prancis. Meskipun kalah 6-0 dari tim Hongaria, namun menjadi tim Asia pertama yang tampil di Piala Dunia.

Pada Olimpiade Melbourne, Australia (1956), kesebelasan Indonesia berhasil masuk perempat final bertemu Uni Soviet, yang merupakan kesebelasan papan atas dalam persepakbolaan dunia. Indonesia berhasil menahan Uni Soviet dengan skor 0-0, namun dalam pertandingan ulang dua hari kemudian, tim Indonesia kalah 4-0.

Pada era 1954 hingga 1972 kesebelasan Indonesia sangat disegani di tingkat Asia. Berbagai prestasi —paling tidak juara ke-3— pernah ditorehkan PSSI, seperti pada Asian Games di Jakarta, President Cup di Korea Selatan, Pesta Sukan di Singapura, King's Cup di Thailand, dan Merdeka Games di Malaysia. Prestasi sepakbola Indonesia anjlok sejak 1973 hingga 1983, meskipun berikutnya menjuarai SEA Games (1987 dan 1991). Setelah 1990-an prestasi Indonesia menurun tajam.

Perkembangan Terkini Sepakbola 
Futsal Indonesia
Futsal
Di Kejuaraan AFC Wanita pada 1977, tim nasto sepakbola wanita Indonesia ikut untuk pertama kalinya dan langsung menduduki peringkat ke-4. Dari beberapa tahun kemudian bergulir kompetisi antark klub yang  disebut Liga Sepakbola Wanita (Galanita). Namun kompetisi harus terhenti di tahun 2009, karena Galanita kesulitan dana pembinaan sehingga mereka harus membubarkan diri.

Varian lain dari sepakbola adalah futsal, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, futbol dan sala. Futsal adalah permainan sepakbola di dalam ruangan. Setiap tim beranggotakan lima orang. Futsal memiliki aturan baku FIFA, tetapi bebeda dari sepakbola. Futsal mulai dikenal di Indonesia sekitar 1998-1999, dan mulai dipertandingkan pada Liga Futsal Indonesia sejak 2006.

Sepakbola jenis lain yang dimainkan di pantai atau tempat berpasir adalah sepakbola pantai atau beasal. Di Indonesia, sepakbola pantai baru pepuler di Ba!i. Pada tahun 2015 di Jakarta, terbentuklah resmi Asosiasi Street Soccer Indonesia (ASSI). Namun hingga kini sepakbola jalanan belum memiliki aturan baku FIFA.

Sumber: Museum Olah Raga Indonesia, TMII
***
Baca juga:
Suasana Museum Olah Raga Indonesia, TMII:




Sri Sultan Hamengku Buwono IX 
Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Tokoh Olah Raga Indonesia - Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Dari Sang Raja Untuk Olahraga 
Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dilahirkan di Ngasem (Yogyakana) pada 12 April 1912. Beliau adalah Raja Keraton Yogyakarta ke-9 dan mantan Wakil Presiden RI ke-2. Sri Sultan terpilih menjadi Ketua Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) pada tahun 1946, demikian juga ketika KORI diubah menjadi KOI (Komite Olimpiade Indonesia) pada tahun 1950, dan ketika PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia) melebur menjadi satu dengan KOI pada tahun 1952. Ketika pada tahun 1966 induk-induk cabang olahraga membentuk KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), Sri Sultan lagi-lagi terpilih menjadi ketua.

Eksistensi Sri Sultan Hamengku Buwono IX di kancah olahraga internasional juga diakui dengan ditunjuk sebagai anggota International Olympic Committee (IOC). Pengabdian Sang Raja Yogya berakhir pada 2 Oktober 1988, saat wafat dalam usia 76 tahun.



M.F. Siregar 
M. F. Siregar
Tokoh Olah Raga Indonesia - M. F. Siregar
Dedikasi Si Pelari 
Mangombar Ferdinand Siregar, lahir 11 November 1928 di Jakarta. Mantan atlet cabang olahraga atletik untuk nomor lari 1.500 dan 5.000 meter Pekan Olahraga Nasional pertama ini, sangat aktif sebagai pembina olahraga renang, polo air, bulutangkis, dan juga sebagai organisatoris di KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Dia pernah menjadi Komandan Pusat Latihan Renang Asian Games di Jakarta (1962), Wakil Sekjen KONI Pusat (1967-1971), Sekjen KONI Pusat (1971-1986), Ketua Umum PB PRSI (1983-1987), Ketua Bidang Pembinaan PB PBSI (1992), Anggota Dewan Kehormatan KONI Pusat (1999-2003), dan sekjen PB PBSI (2004-2008).

Beliau pernah juga menjabat sebagai Anggota Dewan Federasi SEA Games, Presiden ASEAN Swimming Federation, dan Wakil Ketua Organisasi OlahragaAsia Pasifik-Oseania.


Soeratin 
Soeratin
Tokoh Olah Raga Indonesia - Soeratin
Pengabdian Sang Perintis 
Ir. Soeratin Sosrosoegondo perintis organisasi sepakraga --sebelum diubah menjadi sepakbola-- di masa Hindia Belanda, pada 1930. Pria kelahiran Yogyakarta, 17 Desember 1898 ini berkeliling Pulau Jawa untuk menemui beberapa tokoh dan penggemar sepakraga. Pada 19 April 1930, tokoh-tokoh dari beberapa kota berkumpul di Yogyakarta untuk mendirikan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia), yang mulai melakukan kompetisi secara rutin sejak 1931.
Soeratin menjadi ketua umum dari 1930 sampai 1940. Setiap tahun ia terpilih kembali. Jasanya dalam persepakbolaan nasional diabadikan dalam sebuah kompetisi sepakbola junior U-19 tingkat nasional, yang diberi nama Piala Suratin. Tokoh yang mengabdikan separuh hidupnya pada sepakbola ini, meninggal dunia pada 1 Desember 1959.


Drs. Sudirman 
Sudirman
Tokoh Olah Raga Indonesia - Sudirman
Diabadikan Sebagai Piala 
Drs. Sudirman, lahir pada 29 April 1922 di Pematangsiantar, Sumatra Utara. Beliau adalah salah satu pendiri PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dan menjadi ketua umumnya selama 22 tahun (1952-1963, era Sukarno; dan 1967-1981, era Suharto). Perannya dalam pembinaan cabang olahraga bulutangkis sangat besar. Para era kepemimpinannya, banyak pemain bulutangkis yang dikirim ke ajang All England, dan berjaya di sana. Berjasa dalam penyatuan dualism organisasi bulutangkis dunia, namanya diabadikan sebagai piala dunia beregu dunia antar negara, Sudirman Cup.

Wakil Presiden IBF (sekarang BWF) ini, meninggal pada 10 Juni 1986 dalam usia 64 tahun.

Sumber:
Museum Olah Raga, Taman Mini Indonesia Indah
Pada masa kejayaannya, dunia olah raga Indonesia menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan Asia bahkan dunia. Atlit-atlit Indonesia dari berbagai cabang olah raga, mampu berkiprah dan berprestasi di berbagai ajang kejuaraan tingkat dunia.

Hal ini bisa kita ketahui dari rekaman dan catatan yang ada di museum Olahraga, yang terletak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di museum ini, kita bisa memasuki masa lalu ketika Indonesia masih menjadi kekuatan yang diperhitungkan bahkan disegani di berbagai cabang olah raga. Sepak bola, Tinju, Menembak, Panahan, Lari, dan banyak lagi.

Nama-nama besar seperti Donald Pandiangan, Sutjipto Soentoro, Lely Sampoerno, dll, bisa mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Berikut beberapa legenda olahraga Indonesia yang namanya terukir pada sejarah Indonesia, dan tercatat di museum Olah Raga, TMII.

Legenda Sepakbola Indonesia 
Legenda Sepak Bola Indonesia - Iswadi Idris
Legenda Sepak Bola Indonesia - Iswadi Idris

Para Maestro Si Kulit Bundar 
Kalau prestasi sepakbola Indonesia belum sampai pada prestasi puncak, namun sejumlåh pemainnya dikenal memiliki bakat dan ketrampilan yang handal. Andi Ramang yang lahir tahun 1924 dikenal sebagai penyerang yang bisa menendang bola dari segala posisi. Pada 1958 dalam sebuah pertandingan melawan Cina, ia menjebol gawang lawan dengan tendangan salto. Ramang masih turut memperkuat timnas PSSI saat menjadi juara di Asian Football 1971 di Qatar.

Nama lain yang melegenda adalah Soetjipto Soentoro alias Gareng. Pemain kelahiran 1941 ini pernah berkali-kali melewati para pemain belakang SV Werder Bremen, Jerman dan melesakkan tiga gol secara berturut-turut, yang membuat pelatih nasional Jerman (Barat) Herr Brocker memuji dan menawarkannya bermain untuk klub SV Werder Bremen. Kemudian ada Iswadi Idris, pemain kelahiran 1948 yang menjadi pemain pertama Indonesia yang dikontrak oleh klub asing, yaitu Western Suburbs, Australia pada tahun 1974. Iswadi juga terpilih menjadi kapten timnas sejak awal 1970 sampai 1980. Iswadi bersama pemain seangkatannya Soetjipto Soentoro, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale, pernah dijuluki "kuartet tercepat Asia".

Legenda Pelari Indonesia
Legenda Lari Indonesia - Purnomo Muhammad Yudhi
Legenda Lari Indonesia - Purnomo Muhammad Yudhi
Melesat Secepat Kilat 
Diawali oleh Mohammad Sarengat pada era 1960-an, lelaki kelahiran tahun 1939 ini adalah seorang dokter. Pada saat Asian Games 1962 di Jakarta, Sarengat meraih dua medali emas nomor lari 100 meter dan 110 meter gawang, sekaligus mencetak rekor Asia untuk lari 100 meter dalam catatan waktu 10,5 detik. Rekor Sarengat itu baru pecah 25 tahun kemudian oleh Purnomo Muhammad Yudhi dengan waktu 10,3 detik. Lelaki pengagum Sarengat yang lahir tahun 1962 ini merupakan pelari pertama di Asia yang berhasil masuk semifinal Olimpiade, menempati urutan 11 pada Olimpiade 1984 di Los Angeles, AS. Selain perorangan, Purnomo bersama Christian Nenepath, Ernawan Witarsa dan Johanes Kardiono juga masuk semifinal nomor beregu estafet 4 x 100 meter pada ajang yang sama.

Setelah Purnomo, sprinter Mardi Lestari mengukir prestasi yang tak kalah fenomenal dibanding kedua seniornya. Mardi yang lahir tahun 1968 mendapat julukan manusia tercepat se-Asia setelah berhasil menembus semifinal Olimpiade 1988 di Korea Selatan, bersaing dengan Ben Johnson, pelari top dunia. Selain ketiga pelari di atas, ada Carolina Rieuwpassa dan Lourina Henriette Maspaitella alias Henny Maspaitella yang merupakan atlet wanita era 70 dan 80-an yang merintis prestasi internasional di Asia Tenggara.

Legenda Bulutangkis
Legenda Bulutangkis Indonesia - Ferry Sonneville
Legenda Bulutangkis Indonesia - Ferry Sonneville
Bintang-bintang Perintis Kejayaan 
Jika bulutangkis dianggap olahraga yang paling banyak mengharumkan nama Indonesia, maka empat legenda berikut inilah yang telah merintisnya. Mereka mengawali kejayaan bulutangkis Indonesia pada era tahun 50-an. Ferry Sonneville adalah pemain Indonesia pertama yang menjuarai sejumlah turnamen bulutangkis internasional. Sedangkan Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara adalah orang Indonesia yang pertama yang menjadi juara All England di tahun 1959 dan Ferry Sonneville menjadi pemenang kedua. Hok juga meraih medali emas di Asian Games 1962.
Ferry Sonneville dan Tan Joe Hok termasuk tim yang merebut pertama kali Piala Thomas tahun 1958. Di bagian putri ada Minarni Soedaryanto dan Retno Koestiyah. Minarni menjadi Wanita Indonesia pertama yang menjadi juara bulutangkis di Asian Games (1962) dan finalis All England (1968). Retno bersama Minarni juga merupakan ganda putri Indonesia pertama yang merebut emas di Asian Games (1962) dan juara di All England (1968). Keduanya juga termasuk tim bulutangkis putri Indonesia yang pertama kali menjadi runner-up Piala Uber (1969).

Legenda Anggar
Legenda Anggar Indonesia - Zus Undap
Legenda Anggar Indonesia - Zus Undap
Anggar Membawanya Tenar 
Olahraga yang digelutinya memang kurang populer di Indonesia. Namun bagi E.A.A. Poerawinata alias Zus Undap, hal itu justru membuat namanya menjadi dikenal banyak orang. Wanita kelahiran Sukabumi tahun 1934 ini disebut-sebut sebagai atlet anggar perempuan pertama di Indonesia. la telah bertanding anggar mulai dari PON III (1953) hingga PON IX (1977), mengumpulkan 13 medali emas dan 10 medali perak.

Pada tahun 1960 Zus Undap sudah ikut bertanding di Olimpiade Roma meski tidak memperoleh medali. Ketika GANEFO diadakan di Jakarta tahun 1963, ia mendapatkan medali emas di kelas floret putri. Setelah mengakhiri kariernya sebagai atlet, Zus Undap aktif melatih para juniornya. Ia menetap di Sukabumi dan mengajar olahraga di sebuah SMA di kota itu. Ketika ia harus melatih atlet anggar nasional di Jakarta, Zus Undap rela setiap hari pulang pergi Jakarta—Sukabumi, agar kedua tugasnya sebagai guru dan pelatih tetap dapat ditunaikan.

Legenda Menembak
Legenda Menembak Indonesia - Lely Sampurno
Legenda Menembak Indonesia - Lely Sampurno
Sang Ratu Tembak
Lely Koentratih alias Lely Sampoerno belajar menembak dari suaminya, Setyo Sampoerno, seorang perwira TNI AU yang gemar berburu. Wanita kelahiran 1935 ini adalah atlet wanita penembak pertama di Indonesia. Ketika Asian Games 1962 di Jakarta, Lely menjadi satu-satunya atlet wanita penembak dan berhasil merebut medali perak. Padahal saat itu baru sekitar 2 tahun ia belajar menembak. Sejak itu Lely merajai pertandingan menembak di tingkat nasional, termasuk PON yang telah tujuh kali ia ikuti. Emas pertama dari gelanggang internasional ia peroleh dari Kejuaraan Menembak Asia 1977 di Korea Selatan. Sejak itu emas demi emas diraihnya dari berbagai kejuaraan antarbangsa.

Dengan prestasinya itu tak heran Lely dipercaya menjadi juri pertandingan menembak di Olimpiade Barcelona 1992 dan Olimpiade Atlanta 1996. Tahun 2012 Pemerintah RI memberi penghargaan Tanda Jasa Nararya kepada Lely Sampurno. Namanya juga diabadikan pada ajang kejuaraan nasional menembak khusus putri dan junior: Lely Sampoerno Cup.

Legenda Angkat Besi 
Legenda Angkat Besi Indonesia - Charlie Deptios
Legenda Angkat Besi Indonesia - Charlie Deptios

Samson Indonesia, Si Pemecah Rekor Dunia
Tidak pernah menjadi juara dunia, tetapi memecahkan rekor dunia. ltulah Charles Depthios atau Charlie Depthios. Pria kelahiran 1940 ini adalah atlet angkat besi Indonesia yang pertama kali memecahkan rekor dunia. Di tingkat nasional, berkali-kali ia memecahkan rekor nasional sejak 1960. Sebagian besar atas namanya sendiri.

Charlie adalah satu dari enam atlet Indonesia yang dikirim pada Olimpiade Mexico (1968). Saat itu ia memang gagal berprestasi. Namun di PON Vll/1969 Surabaya, pada angkatan clean and jerk, Charlie berhasil mengangkat beban seberat 127,5 kg di kelas terbang. Angkatan itu melampaui rekor dunia sebelumnya atas nama lifter Khaisisin dari Rusia, dengan 126,5 kg. Olimpiade berikutnya di Muenchen, Jerman (1 972), Charlie ikut lagi. Lagi-lagi, ia menorehkan rekor dunia di nomor yang sama dengan barbel seberat 132,5 kg. Sayangnya, prestasi itu ia buat pada extra lift (angkatan keempat), sehingga tidak diakui sebagai rekor olimpiade.

Legenda Tinju Indonesia
Legenda Tinju Indonesia - Syamsul Anwar Harahap
Pejuang Gigih di Atas Ring
Dekade 70-an merupakan masa keemasan tinju Indonesia, khususnya tinju amatir. Pada masa itu, Indonesia memiliki sekaligus lima petinju juara Asia, yakni Wiem Gomies, Syamsul Anwar Harahap, Ferry Moniaga, Frans VB, dan Benny Maniani. Mereka layak disebut sebagai legenda tinju Indonesia. Di ranah profesional, Wongso Suseno tercatat sebagai petinju professional Indonesia pertama. Prestasi Wongso adalah juara internasional di kelas welter, di antaranya Juara OPBF (Oriental Pacific Boxing Federation) 1975 dan juara WBA Intercontinental 1976.

Wiem Gomies dua kali menjadi juara Asian Games, yakni pada 1970 dan 1978. Syamsul Anwar Harahap adalah petinju yang 123 kali menang dari 139 pertandingannya dan tak pernah kalah KO. Prestasi Ferry Moniaga belum bisa disamai petinju Indonesia lain. la nyaris meraih medali di pentas Olimpiade Munich 1972 karena masuk pada babak perempat final Olimpiade, meski akhirnya kalah angka. Sementara itu Frans van Bronkhorst (Frans V.B.) adalah juara tinju Asia tahun 1973, sedangkan Benny Maniani yang asal Papua meraih emas Asia tahun 1978.

Legenda Catur Indonesia
Legenda Catur Indonesia - H. Ardiansyah
Legenda Catur Indonesia - H. Ardiansyah
Pecatur Yang Masyhur
Ardiansyah adalah pemain catur Indonesia yang terkenal pada masanya. la memiliki kemampuan taktis kelas dunia dan fantasi yang luar biasa. Lahir di Banjarmasin, 5 Desember 1951, Ardiansyah tercatat lima kali menjuarai Kejuaraan Nasional, yaitu tahun 1969, 1970, 1974, 1976, dan 1988. Gelar Master Nasional dan Master Internasional diperolehnya pada tahun 1969 dan tahun 1986 ia meraih gelar Grand Master.

Pecatur populer lainnya adalah Utut Adianto. la lahir di Jakarta, 16 Maret 1965. la bermain catur sejak usia enam tahun. Debut internasionalnya dimulai ketika menjadi juara kedua pada kejuaraan catur dunia di bawah usia 16 tahun, di Puerto Rico. Utut mendapatkan gelar Master Nasional pada tahun 1982. Kemudian ia meraih gelar Grand Master (GM) saat berusia 21, dan menjadikannya GM termuda di Asia Tenggara saat itu. Pada tahun 1986 itu, ia juga mendapatkan medali perak papan tiga Olimpiade Catur Dubai. Selanjutnya medali emas papan satu di Olimpiade Catur Istambul pada tahun 2000. Utut juga pernah meraih Super Grand Master dengan ELO rating melebihi 2600, dan menempati peringkat 39 dunia.

Legenda Tenis Indonesia
Legenda Tennis Indonesia - Yolanda Sumarmo
Legenda Tennis Indonesia - Yolanda Sumarmo
Dari Yayuk Sampai ke Angelique
Yayuk Basuki tentu saja menjadi legenda tenis Indonesia. la adalah atlet tenjs professional Indonesia pertama yang pernah mencapai babak perempat final Wimbledon pada tahun 1997. Peringkat tertinggi yang pernah dicapanya adalah posisi ke-9 untuk bagian tunggal dan ke-9 untuk bagian ganda. Selain Yayuk Basuki, nama besar tenis Indonesia juga disandang oleh Angelique Wijaya yang pernah meraih juara pertama yunior di Wimbledon pada tahun 2001.

Di bagian putri  dikenal pula petenis berprestasi angkatan 70-an dan 80-an seperti Suzanna Anggarkusuma, Laita Sugiarto, Lanny Kaligis dan Yolanda Sumarno. Sedangkan di bagian putra nama-nama seperti  Yustedjo Tarik , Tintus Ananto Wibowo, Atet Wiyono, Gondowijoyo, Hardiman, Wailan Walalangi, dan Harry Suharyadi adatah para pendulang emas pada masanya. Kwartet  Yustedjo Tarik, Hadiman,  Atet Wiyono dan Gondowijoyo pernah menyapu bersih medali emas putra pada Asian Games 1978 di Bangkok.

Legenda Keluarga Atlet
Legenda Keluarga Atlet Indonesia - Daniel dan Nemo Bahari
Legenda Keluarga Atlet Indonesia - Daniel dan Nemo Bahari
Legenda Keluarga Atlet Indonesia - Keluarga Nasution
Legenda Keluarga Atlet Indonesia - Keluarga Nasution
Kompak di Rumah dan di Gelanggang
Satu keluarga memiliki profesi yang sama adalah hal yang langka. Begitu pula di dunia olahraga. Tidaklah banyak di mana satu keluarga semuanya menjadi atlet, tertebih pada cabang olahraga yang sama dan berprestasi. Di arena renang ada keluarga Nasution dengan sang ayah, Radia Murnisal Nasution, sebagai pelatihnya. Putra-putrinya yang menjadi atlet renang nasional adalah: Elfira Rosa Nasution, Maya Masita Nasution, Elsa Manora Nasution, Kevin Rosa Nasution dan si bungsu Muhammad Akbar Nasution.

Keluarga Bahari amat dikenal di arena tinju nasional. Mereka adalah Daniel Bahari, sang ayah sekaligus pelatih. Keempat anak laki-lakinya yang menjadi petinju adalah Pino Bahari, Champ Bahari, Nemo Bahari, dan Daudy Bahari. Semuanya menjadi petinju yang memiliki prestasi, khususnya si suiung Pino Bahari yang pernah meraih medali emas pada Asian Games Beijing 1990. Lalu ada keluarga Mandagi, terdiri dari Theo Mandagi, Robbie Mandagi, Alfred Mandagi, dan Chrisye Mandagi. Mereka ikon olahraga terjun payung di Indonesia dan berjasa dalam mengembangkan olahraga tersebut. Mereka telah mengantongi rekor penerjunan lebih dari 2.800 kali, namun kisah hidup mereka berakhir tragis, meninggal saat sedang melakukan terjun payung.

Legenda Memanah Indonesia
Legenda Memanah Indonesia - Donald Pandiangan
Donald Pandiangan
Dia sudah berusia usia 25 tahun saat pertama kali belajar memanah. Akan tetapi tiga tahun setelah itu Donald Djatunas Pandiangan alias Donald Pandiangan, menjadi juara PON 1973 di Surabaya. Pemuda Batak kelahiran tahun 1945 terus tekun berlatih, sehingga dalam Kejuaraan Dunia Panahan 1975 di Australia, ia masuk dalam 12 besar dunia. Bahkan pada PON 1977 di Jakarta, ia berhasil melampaui rekor dunia 70 meter ronde FITA

Menjelang Olimpiade Moscow tahun 1980, Donald yakin akan menjadi atlet Indonesia pertama yang dapat membawa pulang medali Olimpiade. Betapa tidak, rekor dunia sudah ia pecahkan tiga tahun lalu. Tapi harapan tinggal harapan. Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Pemerintah Indonesia protes dengan membatalkan keikutsertaan Indonesia di Olimpiade Moscow. Hati "Robin Hood Indonesia" hancur seketika.

Delapan tahun kemudian barulah ia agak terhibur tatkala membawa tim panahan putri asuhannya meraih medali perak di Olimpiade Seoul. Donald tutup usia di Jakarta pada tanggal 20 Agustus 2008.

Para Pelatih Legenda
Sinyo Aliandoe
Legenda Pelatih Olah Raga Indonesia - Sinyo Aliandoe
Di Balik Sukses Sang Atlet
Di balik kesuksesan atlet, ada orang atau tokoh yang berperan besar mengantar atlet menjadi juara. Dialah sang pelatih. Indonesia memiliki sejumlah pelatih yang menjadi legenda, karena dedikasi mereka yang tinggi. Di arena bulutangkis ada nama Tahir Dijde yang telah membawa timnas butu tangkis tiga kali merebut Piala Thomas (1973, 1976, 1979), serta juara di Kejuaran Dunia BWE Tangan dingin Tahir telah melahirkan banyak bintang bulutangkis.

Di sepakbola ada Endang Witarsa alias Liem Soen Joe, ia adalah seorang dokter gigi yang mengabdi sebagai pelatih sepakbola selama 55 tahun, sejumlah klub dan tim nasional pernah merasakan tangan dinginnya. Selain itu ada Tony Poganik, pelatih asal Yugoslavia yang kemudian menjadi WNI. Tony melatih timnas PSSI selama 10 tahun (1954 — 1964). la dianggap sebagai pencetus penerapan sepakbola modern di Indonesia. Tm yang ia latih berhasil menahan imbang tim Rusia di Olimpiade 1956 di Australia. Kemudian Sebastian Sinyo Aliandoe atau Sinyo Aliandoe, dikenal sebagai pelatih sepakbola yang jago mengolah strategi permainan. Lalu ada Wiel Coerver, pelatih asal Belanda yang melatih tim PSSI di era pertengahan 70-an. Meski anak-anak asuhannya urung mendapat prestasi gemilang, namun Wiel Coerver dinilai banyak membantu hak-hak para pemain, terutama dalam hal kesejahteraan.

Legenda Balap Indonesia
Tinton Suprapto
Legenda Balap Indoensia - Tinton Suprapto
Ada sejumlah nama yang dapat disebut perintis balap mobil di Indonesia, seperti Henky Iriawan, Beng Soeswanto, Jan Darmadi, Dolly Tinton, Indra Nasution, dan lain-lain. Namun demikian Tinton Suprapto-lah yang namanya masih bergaung dalam urusan balap mobil di Indonesia. Namanya memang identik dengan dunia otomotif Indonesia.

Sebenarnya, lelaki kelahiran 1945 ini mengawali kariernya sebagai 1 pembalap motor, karena memang itulah hobinya tatkala remaja, selain bertinju. Tahun 1963, Tinton sempat mengikuti sebuah lomba pacu motor nasional dan menang.

Menjelang akhir dekade 60-an, hobi balap roda duanya mulai dialihkan ke balap roda empat. Tahun 70-an Tinton bersama kawan-kawannya kerap berlatih karting (gokart) di jalan Bypass Jakarta. Semenjak itulah Tinton dikenal sebagai pembalap mobil dengan segudang prestasi. Tahun 1985 ia memutuskan tak lagi membalap dan beralih menjadi promotor tinju, olahraga yang dulu ia gemari, dengan mendirikan sasana tinju yang bernama Tonsco. Akan tetapi kemudian, ia dipercaya mengurus Sirkuit Balap Sentul. Dua anak lelakinya, Ananda Mikola dan Moreno mengikuti jejaknya sebagai pembalap mobil handal.

Sumber:
Museum Olah Raga, Taman Mini Indonesia Indah.
***
Museum Olah Raga Indonesia TMII
Hall of Fame Museum Olah Raga Indonesia, TMII
Baca juga:
Suasana Museum Olah Raga Indonesia, TMII:


Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.