Sarung
Sarung

Sarung

Untuk ke-banyak-kian kalinya saya mengikuti shalat berjamaah. Dan untuk ke-banyak-kian kalinya saya berdiri di shaf yang bukan shaf pertama. Dan untuk ke-banyak-kian kalinya, orang yang berdiri di depan saya adalah orang yang mengenakan sarung. Dan seperti pada umumnya, orang tersebut memakai sarungnya dengan 'gaya bersarung', yakni merek sarung tampil dibawah diantara dua tumit.
Sambil sedekap dan menunduk, pada rakaat pertama itu pikiran saya melayang-layang.

Saya bertanya-tanya emang peraturan memakai sarung itu harus gitu ya, mereknya tampil diluar, dibawah diantara dua tumit? Kalau gak mengikuti 'aturan' seperti itu nggak apa-apa kan? terus kenapa orang ini dan sekian banyak orang lainnya yang menggunakan sarung, gayanya seperti ini?
Saya mulai suudzon :).

Orang memakai sarung dengan merek tampil di bawah itu biar kelihatan kali ya, hey lihat saya memakai sarung yang diiklankan di TV, atau, sarung saya mereknya "ibukota provinsi", atau, saya memakai sarung "Al-Mahal" karena selera saya kan tinggi, dsb, dll.

Meski badan tegak dan pandangan menunduk, angan saya melesat mengembara semakin jauh. Kali ini berkembang tidak lagi seputar sarung, tapi meningkat ke pakaian secara umum. Orang mengenakan sarung saja ada 'gaya' nya, apa lagi pakaian yang lainnya. Baju ada gaya nya, celana ada gayanya, rok, sepatu, tas, asesoris, rambut, jenggot, a, b, c, d. Semua ada gayanya. Dan dengan berlandaskan suudzon saya mengklaim, bahwa kadang-kadang orang tidak memakai akal sehatnya ketika mengikuti 'gaya'.

Contoh, secara akal sehat, di daerah puncak yang suhunya dingin, maka pakaian yang masuk akal adalah pakaian yang tebal atau yang menutup sebanyak-banyaknya bagian tubuh untuk melindunginya dari hawa dingin. Namun coba kita perhatikan, banyak para gadis dan wanita, dengan santainya mengenakan tank top, meski saat itu malam hari dan gerimis rintik-rintik. Kalau orang waras kan gak mungkin kayak gitu, ya nggak. Cuman masalahnya, para tank top-er yang saya klaim 'nggak waras' itu, banyak juga yang eksekutif muda, sekolahnya tinggi dengan segudang prestasi. Kalau begitu mereka waras dong :) Apanya yang salah ya ?

Nah setan sok pintar berhasil merasuki saya. Saat itu saya 'kesurupan' menjadi pengamat fashion nomor wahid. Saya ingat sepenggal adegan dalam sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' yang sempat diputar ulang beberapa waktu yang lalu di sebuah stasiun TV. Saat itu Sarah berkunjung ke rumah 'mak Nyak' dengan mengendarai mobil sedannya. Sarah menggunakan celana jeans. Celana jeans yang dikenakannya sangat longgar, tidak ketat mencetak bulat seperti sekarang. Seperti kita tahu, sinetron SDAS itu diproduksi pertengahan 90'an. Dan celana jeans 'gaya' saat itu, ya yang dikenakan si Sarah itu.

Jika kita suka melihat foto-foto klasik,film-film klasik atau film yang ceritanya berlatar 'jadul' entah itu 70'an, 50'an Perang Dunia ke II, 20'an, dan seterusnya ke belakang. Maka kita akan melihat 'gaya' berpakaian yang lain dari yang sedang tren sekarang ini. Misalnya gaya pakaian tahun 20'an di negara-negara barat (untuk urusan fashion, kita kan banyak berkiblat ke barat he..he..he..), untuk laki-laki tata rambut sisir rapi, wajah kelimis atau dihias kumis, dengan setelan jas dan dasi, dengan kepala memakai topi fedora atau homburg. Untuk wanita, gaun panjang ditemani berbagai asesoris dan hiasan rambut berupa berbagai model topi dan turban.

Coba bandingkan dengan sekarang. Untuk laki-laki sih mungkin gak begitu banyak perubahan. Namun untuk wanita, banyak sekali perubahannya. Kalau dulu wanita memakai rok panjang menutupi kaki, maka seiring berjalannya waktu maka rok itu makin menyusut naik keatas, mulai dari matakaki, betis, lutut, dan paha (semoga saja terus menyusut keatas tanpa batas he..he..he..).
Meski untungnya sekarang jamannya alternatif, untuk penyakit ada pengobatan alternatif, untuk mudik ada jalur alternatif, nah fashion juga ada fashion alternatif. Selain jalur utama yang menyusut-menyusut itu, sekarang mulai merebak fashion yang kebalikannya. Ada tank top ada blazer, ada mini skirt, ada gamis, dan banyak lagi pilihan.

Nah yang jadi pertanyaan adalah, mengapa orang-orang memilih 'gaya' yang lagi tren, meski secara akal sehat, agak gimanaa gitu. Apa seperti kisah sarung diatas ya, biar mereknya yang "Al-Mahal" dilihat orang? Kalau begitu apa wanita yang memakai celana pendek atau baju cowak yang kelihatan belahan dada dan lubang pusar plus renda CD nongol, juga begitu, biar 'milik-miliknya' kelihatan :) maaf maaf, mungkin itu contoh yang terlalu ekstrim kali ya, meski bukan nggak ada dandanan yang kayak begitu.

Apakah hukum kepatutan sekarang berada di tangan para designer dan trend setter mode. Kalau para desainer dan trendsetter bilang, rok mini plus tank top ditutup blazer elegan buat wanita karir, maka seluruh dunia teriak sama, rok mini patut bagi wanita karir. Kalau para desainer trend setter bilang, celana pendek itu keren, rame-rame mulai ABG sampe nenek-nenek pake celana pendek.
Gimana ya kalau para desainer trend setter bilang, Bikini dan G-String adalah busana elegan wanita aktif dan dinamis?

Ya.....Tren harus diikutin dong... ^_^




Pantun Ramadhan

Esok hujan sore pun hujan
Hujan membasah di dedaunan
Esok bulan rajanya bulan
Bulan yang penuh rahmat ampunan

Hujan timpa atap rumbia
Tentulah basah seluas muka
Karena saya hanya manusia
Tentulah banyak salah dan dosa

Kisah hujan slalu lestari
Anugrah indah negri bahari
Bulan ramadhan bulan yang suci
Mulailah kita dengan yang suci

Kata orang bijak bestari
Hujan anugrah dari Yang Tinggi
Sucilah hati sucilah diri
Maafkan semua salahku ini

Apakah lagi kisahnya hujan
Hujanlah lagi turut malamnya
Salah lah kita kepada Tuhan
Ampunlah kita sujud pada-Nya

Indahnya hujan indah dunia
Malam yang indah bagi mereka
Salah lah kita pada manusia
Ampunlah kita maaf sesama

Mohon maaf lahir dan bathiin.... :)


Sisa Makanan
Sisa Makanan


Sampah Sisa Makanan
Sepiring pisang rebus terhidang diatas meja, ditemani segelas teh hangat, satu toples kue ali, dan sepiring ketan goreng (orang setempat menyebutnya uli). Pagi itu udara di sekitar kaki Gunung Salak sangat sejuk dan segar. Keceriaan mengambang disinari cahaya matahari yang baru muncul dan dimeriahkan oleh kicau burung di dahan-dahan pohon. Hidup sungguh damai ...

Pisang yang direbus ini berasal dari pematang sawah yang padinya baru dipanen minggu lalu.

Pisang rebus hanyalah makanan kampung, yang sepertinya tidak ada nilai ceritanya. Beda dengan makanan dan minuman dari restoran atau cafe yang "sangat luar negri", yang setiap jenis makanannya membawakan cerita sendiri dan tentunya prestise tersendiri bagi yang memakannya.

Kira-kira mana yang akan kita ceritakan, ketika kita makan pisang rebus atau ketika kita menyeruput kopi di gerai kopi 'sangat luar negri'? Well... kayaknya kerenan yang gerai kopi 'sangat luar negri' itu ya :)

Tidakkah setiap makanan yang terhidang dihadapan kita itu membawa kisahnya tersendiri. Contohnya pisang rebus dan teman-temannya itu. Mereka merupakan wujud dari semangat para petani. Mereka, para petani itu, bangun pagi-pagi sekali, kemudian pergi ke sawah dan ladangnya, untuk menanam benih lalu merawatnya penuh perhatian sampai tiba saat dipetik buahnya.

Demi tanaman-tanamannya, petani tak peduli panas maupun hujan. Bagi para petani itu, matahari adalah kawan, hujan adalah hadiah, air memberi kehidupan, tanah menyediakan makanan, dan angin mengobati kelelahan. Alam merupakan asal dari semua makanan yang dihasilkan mereka.

Sungguh beda dengan orang kota, dimana matahari dihindari, hujan sumber bencana, tanah adalah kotor dan memalukan sehingga harus ditutupi beton, sedangkan angin telah bercampur dengan debu dan asap dan menjadi sumber bermacam penyakit. Seakan-akan alam telah menjadi musuh bagi orang-orang kota.

Btw, makanan 'sangat luar negri' juga tentu punya kisahnya tersendiri. Makanan itu tersaji berkat sebuah sistem. Sistem itu terbentuk dari hasil karya para pemikir. Para pemikir itu tentu juga telah melalui masa-masa sulit, baik ketika kuliah dulu ataupun ketika memulai usahanya. Mungkin waktu kuliah dulu, ada yang nyambi sebagai pelayan toko, waitress, dsb, untuk menambah biaya kuliah. Atau juga ketika bernegosiasi dengan pihak bank untuk meyakinkan mereka bahwa usahanya akan berhasil, dsb.

Nah, kalau setiap makanan tersebut punya 'kisah perjuangan'-nya masing-masing, pantaskah kita membuang-buangnya. Ketika makanan itu tidak enak menurut kita, atau kita lagi tidak mood, atau (ini yang menyedihkan) karena gengsi,saat orang lain makanannya sudah habis sedangkan kita belum, lalu kita berhenti makan dengan alasan kenyang. Makanan pun jadinya tersisa dan sudah 99,9% nasibnya akan berakhir di tong sampah.

Kita mungkin bisa berkilah: "gue beli makanan itu pake uang gue, seterah gue dong, mau dimakan kek, mau dikasih kucing kek, mau dibuang kek". Ya, itu 1000% betul. Kita sudah membeli makanan itu, dan kita berkuasa penuh terhadap makanan itu. Namun ini masalahnya. Perasaan berkuasa ini membuat kita melihat hanya dari lingkup sempit. Kita beli makanan, cicip-cicip, buang, lap mulut pake tisu, bayar, done. That's it, everybody happy. Pedagang senang, kita puas.

Namun kita lupa, bahan makanan tersebut hasil keringat para petani. Toko pedagang tersebut, hasil negosiasi alot dengan pihak bank. Waitress dan cleaning servicenya berasal dari keluarga biasa yang tidak punya uang banyak untuk bayar biaya kuliah, sehingga lulus SMA mereka langsung kerja jadi cleaning service.

Pada makanan yang kita buang tersebut, bersemayam semangat petani, pedagang, cleaning service dan semua pihak yang terlibat dalam proses penghidangan makanan tersebut.

Itu baru dari satu sisi. Disisi lain, makanan terbuang tersebut tentu menjadi sampah. Padahal Jakarta sudah sangat produktif kalau dalam hal menciptakan sampah. Tak kurang dari 6000 ton sampah dihasilkan penduduk Jakarta tiap harinya (http://www.tribunnews.com/2010/05/30/inilah-ancaman-sampah-jakarta-sehari-6-ribu-ton).
Makanan yang kita buang-buang tersebut tentunya menjadi bagian dari yang 6000 ton itu. Dan tidak cukup sampai disitu, makanan tersebut akan membusuk, dan tentunya menjadi sumber penyakit.

Ok lah, kita dan anggota keluarga kita tinggal di lingkungan yang nyaman, jauh dari tumpukan sampah. Anak-anak kita juga mengkonsumsi makanan bergizi, sehingga daya tahan tubuhnya baik dan tidak mudah terserang penyakit. So, mau sampah sebanyak apa juga gak ngefek ke keluarga kita.

Namun kita juga perlu menyadari, makanan kita yang terbuang dan membusuk, berakhir di tempat, dimana juga banyak manusia yang tinggal disekitarnya. Bibit-bibit penyakit yang timbul dari makanan busuk, menyerang anak-anak disekitarnya. Dan sudah tentu, anak-anak yang tinggal di sekitar tempat sampah bukanlah anak yang selalu memakan makanan bergizi, sehingga tahan penyakit. Dengan mudah mereka akan terserang berbagai penyakit. Dan... salah satu penyebabnya adalah makanan yang kita buang-buang.

So ?

Gue kan udah beli, suka-suka gue dong ...


Air minum kemasan
Air minum kemasan


Air Minum dalam Kemasan

Long weekend kemarin ceritanya saya sekeluarga rekreasi ke SnowBay, TMII. Alhamdulillah kami kebagian rejeki dari saudara yang dapet tiket gratis masuk SnowBay dari produk Buavita. Ketika mau berangkat, saya cek indikator bensin motor saya, ternyata ada di zona merah. Wah harus isi bensin nih. Jadilah diperjalanan mampir dulu ke pom bensin. Syukurlah motor tetap bisa diisi premium. Kirain sudah gak boleh karena ada kebijakan aneh. Saya mengisi Rp. 10rb. lumayan dapet 2,222 ltr bensin :)

Ketika menunggu saudara di titik pertemuan di daerah pasar rebo, saya membeli air minum kemasan ukuran 1 liter, 2 botol dan saya harus membayar Rp. 8rb. Saya pun menyerahkan uang Rp. 5rb-an dua lembar. Sambil menunggu kembalian, saya sempet mikir.... hemm... ternyata harga bensin satu liter sama harga air satu liter cuman beda 500 rupiah....

Berarti perusahaan-perusahaan minyak dan perusahaan air kemasan, kaya banget ya. Lha satu liter bensin sama satu liter air, harganya beda dikit. Padahal dulu mungkin gak kepikiran ya, air bisa hampir semahal minyak bumi.

Saya jadi inget sebuah video yang mengupas tentang bisnis air kemasan di Amrik. Video yang berjudul "The Story of Bottled Water". Saya pertama kali melihatnya di website http://www.inhabitat.com/2010/03/22/annie-leonard-releases-the-story-of-bottled-water-on-world-water-day/ , ketika peringatan hari air sedunia. Bisa juga di lihat di website resminya di: www.storyofbottledwater.org.

Video tersebut membeberkan tentang 'Manufactured Demand', bagaimana perusahaan air minum kemasan di USA berusaha mengalihkan pilihan orang, dari meminum air keran (Tap Water), menjadi membeli air minum kemasan (Bottled Water). Meskipun harga Bottled Water itu 2000 kali lebih mahal dari harga Tap Water. Namun dengan strategi yang jitu, mereka berhasil membuat orang membeli bottled water. Strategi tersebut adalah:
  • Scare us
  • Seduce us
  • Mislead us

Strategi yang pertama, mereka menakuti masyarakat. Mereka mengatakan bahwa air keran itu tidak higienis, dan hanya pantas dipakai untuk memasak dan mencuci saja.

Strategi yang kedua, perusahaan air minum kemasan merayu masyarakat, dengan menggambarkan pemandangan alam seperti pegunungan di kemasannya. Padahal air minum kemasan itu, sumber airnya ya Tap Water juga. Dan ini terbukti pada air minum kemasan merek "Aquafina" dan "Dasani". Dalam iklan satu halaman penuh baru-baru ini, Nestle menyatakan bahwa Air minum kemasan merupakan produk konsumsi paling peduli lingkungan. Ini tidaklah benar, karena sebenarnya air minum kemasan ini merupakan penghasil sampah, dari sejak pra produksi, sampai selesai dikonsumsi.

Bukti bahwa air minum kemasan itu produsen sampah yang sangat besar diantaranya:
- Setiap tahunnya, pembuatan botol plastik untuk mengemas air minum, membutuhkan energi dan minyak bumi yang banyaknya cukup untuk mengisi 1jt mobil. Itu baru di Amerika saja, bagaimana dengan seluruh dunia?

-Meminum air dalam kemasan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 menit saja, dan setelah itu botol plastiknya di buang. Nah, disinilah masalah dimulai. Dari semua botol plastik yang dibuang itu, hanya 20% saja yang dikumpulkan untuk di daur ulang (Recycle). Sisanya 80% masuk ke tempat pembuangan akhir sampah. Dan kalau terkubur, botol-botol plastik ini tidak akan terurai sempurna sampai 1000 tahun! kalaupun ada botol yang dibakar, tetap saja proses pembakaran ini menyebarkan gas-gas beracun ke atmosfir.
Nah botol yang 20% yang masuk daur ulang, sebenarnya mereka punya kisah tersendiri. Botol-botol plastik ini dikirim ke India. Annie Leonard, si narator dalam video ini, mengatakan bahwa dia datang sendiri ke India, ke sebuah perbukitan di wilayah Madras, untuk melihat tempat pembuangan botol plastik ini. Dan disana memang terdapat tempat pembuangan botol plastik tersebut.
Tujuan dari Recycle sebenarnya adalah memproses kembali botol plastik bekas menjadi botol plastik baru yang bisa dipakai kembali. Namun yang terjadi sebenarnya bukanlah Recycle namun Downcycle, dimana botol-botol tersebut hanyalah jadi sampah yang dibuang di negara lain. (jadi inget Indonesia, tempat pembuangan limbah berbahaya he..he..he..)

Nah cerita tentang botol plastik yang ke India tersebut tidaklah sampai di masyarakat. Dan ini merupakan strategi ke 3 perusahaan air minum kemasan, yakni misleading us.

Dan tiga strategi tersebut, Scare us, Seduce Us, dan Misleading Us, merupakan core part dari 'manufactured demands'.

Dalam suatu publikasi, Pepsi nyata-nyata mengatakan bahwa musuh terbesar adalah Tap Water. Mereka ingin kita yakin bahwa air keran itu kotor, dan air kemasan adalah alternatif terbaik. Memang di banyak tempat, kondisi air tidaklah bagus, sudah banyak terkontaminasi. Namun jika kita merunut lebih jauh, dari mana sih asalnya bahan berbahaya yang mengkontaminasi air itu? ya dari pabrik penghasil air kemasan salah satunya, termasuk pabrik-pabrik bahan lain yang tergabung dalam rantai produksi air minum kemasan.

Dalam video tersebut, annie leonard memberikan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk 'memerangi' manufactured demand air minum. yakni:
- Jangan minum air kemasan, kecuali air di tempat kita benar-benar tidak layak konsumsi.
- Bergabung dengan komunitas yang mencari solusi riil seperti,berinvestasi dalam infrastruktur publik. Di Amerika, Sistem Tap Water memperoleh alokasi biaya 24 Miliar Dollar. Namun demikian orang-orangnya yang hidup di kota-kota besar, tetap saja membeli air minum kemasan. Belum lagi jutaan dolar yang dikeluarkan untuk mengurus sampah botol plastik. Tidakkah lebih baik jika uang jutaan dolar tersebut dialokasikan untuk membantu orang-orang di luar sana yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih? atau digunakan untuk mendanai gerakan pencegahan polusi.
  • Meloby pemerintah setempat untuk mengaktifkan kembali air mancur tempat minum (drinking fountains)
  • Memboykot air kemasan, baik di tingkat sekolah, organisasi, bahkan kalau mungkin di seluruh kota.

Pada bagian akhir video ini Annie Leonard mengajak untuk menyadarkan orang-orang, dan kemudian menyelamatkan isi dompetnya, menjaga kesehatannya, dan lebih dari itu melindungi planet bumi.

Video tersebut memang menceritakan yang terjadi di Amerika. Dan dalam beberapa hal kondisi di Indonesia tidaklah sama dengan di USA. Contohnya air keran, you know what i mean laah. Jadi ya mau tidak mau, kita tetap mengkonsumsi air minum kemasan.

Meski demikian saya tetap saja narik nafas, ketika sadar bahwa harga satu liter air hampir sama dengan harga satu liter bensin.


Great power great responsibility
Great power great responsibility


With great power, comes great responsibility..., kalimat tersebut
merupakan sepenggal dialog dalam film Spiderman. Kalimat ini diucapkan
oleh Uncle Ben, paman dari si Spiderman-Peter Parker, sesaat sebelum
meninggal karena ditembak perampok. Rupanya paman Ben menyadari bahwa
keponakannya itu telah mengalami hal yang luar biasa. Dan di ujung
nafasnya, dia berusaha memberikan bimbingan kepada Peter, agar Peter
menyadari bahwa kekuatan besar yang dia miliki itu membawa konsekwensi
tanggungjawab yang besar pula.

Manusia sebagai mahluk hidup, dalam rentang kehidupannya tentulah
mengalami fase-fase pertumbuhan dan perkembangan. Dari bayi, anak-anak,
remaja, dewasa, tengah baya, tua, dan mati. Suatu proses yang pasti
dialami semua manusia, bahkan semua mahluk hidup. Untuk menandai
fase-fase tersebut, manusia mengembangkan suatu alat ukur yang menjadi
standar dan diakui oleh siapapun dimanapun. Alat ukur tersebut dinamai
umur. Umur didasarkan pada waktu yang telah dilalui oleh manusia
tersebut, selama hidupnya dari semenjak lahir sampai saat ini. Nah,
waktu itu sendiri oleh manusia ditandai dengan hitungan detik, menit,
jam, hari, minggu, bulan, tahun, dst. Dan untuk umur, manusia
menggunakan satuan tahun.

Kembali ke ucapannya paman Ben, bahwa semakin besar kekuatan seseorang,
maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Secara individu, manusia
seiring pertumbuhannya, kekuatannya pun semakin berkembang. Jika ketika
anak-anak hanya mampu mengangkat bantal misalnya, maka ketika sudah
dewasa dia mampu mengangkat beras sekarung. Itu contoh kekuatan fisik.
Ada lagi kekuatan nalar atau pikiran. Sewaktu anak-anak kita hanya mampu
menghitung 1-100 misalnya, atau penjumlahan dan pengurangan sederhana,
maka ketika dewasa, kita bisa melakukan penghitungan yang lebih
kompleks. Dua contoh tersebut merupakan bukti bahwa kita semua 'memiliki
kekuatan', dan tentu saja semakin besar kekuatan, semakin besar pula
tanggungjawabnya.

Contoh sederhana dari tanggung jawab tersebut, bisa kita lihat pada
bayi. Bayi, bisa dikatakan kekuatannya masih kecil, maka tanggung
jawabnya pun kecil sekali. Bayi tidak mungkin mengangkat satu sak semen
atau menyelesaikan soal mekanika kuantum, karena kekuatannya masih
kecil. Karenanya tanggungjawabnya pun kecil juga. Bayi hanya
bertanggungjawab menjaga kelangsungan hidup tubuhnya dengan bernafas,
makan, dan buang kotoran. Selain itu, tidak ada. Berpakaian menjadi
tanggung jawab orang tuanya, demikian juga membersihkan kotoran,
mengobatinya ketika sakit, dsb. Seiring bertambahnya usia, maka
tanggungjawabnya pun bertambah. Ketika anak-anak memelihara dirinya
sendiri misalnya, remaja membantu orang tua memelihara rumah, dewasa
membangun keluarganya sendiri, tengah baya memimpin RT atau jadi
direktur, dst.

Nah, kalau umur adalah alat ukur dari fase pertumbuhan manusia, maka apa
ya yang jadi alat ukur dari kekuatan dan tanggungjawab manusia? Apakah
ujian-ujian seperti UN? atau tes-tes psikologis dan tes IQ? atau
pendapat orang-orang disekitarnya? atau apa ya?

Soalnya banyak sekali kita temui, orang yang sudah banyak umurnya, namun
rasa tanggungjawabnya tidak sebesar umurnya. Atau sebaliknya.


Efficient Enterprise
Efficient Enterprise

An Efficient Enterprise. Tulisan ini pertama kali dibuat untuk lingkungan internal departemen tempat aku kerja. Meski demikian, kurasa gak ada salahnya aku juga berbagi dengan temen-temenku di blog.

****

Pada kamis, 1 April 2010, telah diselenggarakan acara " UNLEASH YOUR EFFICIENT ENTERPRISE", di Ballroom C, Hotel Shangri La, jakarta. Adapun penyelenggara utamanya adalah vendor Dell. Tujuan utamanya yakni untuk memperkenalkan beberapa solusi terbaru mereka. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri, banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari dari acara tersebut. Banyak hal-hal baru yang bisa menjadi tambahan wawasan, mulai dari sisi teknologi, sistem, management, sampai gaya presentasi :)

Acara dimulai sekitar jam 9.30, dan berakhir jam 14.30. Dari sekian waktu tersebut, cukup banyak hal-hal yang saya dapatkan. Yang kesemuanya membuahkan suatu ide yang ingin saya sampaikan di forum kita ini. Ide yang saya sebut dengan "Aftermath" :)

Kenapa Aftermath? jawabnya, Aftermath adalah keadaan setelah bencana. Dan sesuai dengan rumor yang sangat diragukan kebenarannya, bulan Desember tahun 2012, akan terjadi bencana besar yang melanda planet bumi ini.he..he..he.. Nah, ide saya ini merupakan suatu proses panjang selama 3 tahun, dan mudah-mudahan kalau dijalankan dan sesuai target, maka hasilnya bisa dilihat tahun 2013.

Baik, semuanya berawal dari Definisi "Efficient Enterprise", yang menurut pembawa presentasi terakhir, Mr. William Tan, Efisien adalah Hemat, Mudah, Cepat. Artinya, sistem informasi di perusahaan kita akan dikatakan efisien, kalau telah memenuhi ketiga kondisi tersebut. Biaya pengadaan dan operasionalnya Hemat, Penggunaan oleh user mudah, dan Responnya cepat. Untuk mencapai hal tersebut, memang akan sangat banyak sekali hal yang perlu digarap, baik dari sisi Hardware, Software, maupun Brainwarenya.

Nah untuk itu kita bisa menggunakan tiga buah metoda yang juga saya dapat dari acara 'Promosi' itu. Ketiga buah metoda tersebut adalah:

  • Standardized
  • Simplified
  • Automate

Yang pertama standardized, yang dimaksud adalah bagaimana proses-proses yang berlaku di sistem kita (sistem yang dimaksud adalah sistem bisnis perusahaan yang memanfaatkan Sistem Informasi/TI), dibuat standarnya.

Yang berikutnya adalah Simplified, saya kira ini akan ada hubungannya dengan 'Mudah' pada 3 kondisi efisien diatas. Bagaimana proses-proses tersebut dirancang semudah mungkin. Memang bagi orang-orang IT, kadang kala kesederhanaan yang tampil adalah hasil dari 'kerumitan' yang berlangsung dibelakang panggung. Meski demikian Simplified disini juga berlaku bagi kita, orang IT, bagaimana sistem yang kita kelola bisa sesederhana mungkin.

Sampai disini, perlu saya ingatkan, ini baru ide lho, bukan Working Instructions he..he..he.. jadi wajar saja kalau masih bersifat global. Seandainya ide saya ini diterima dan diimplementasikan, baru kita bersama-sama membahas Working instructionsnya.

Yang terakhir adalah Automate, maksudnya bagaimana agar proses-proses di sistem, dalam operasinya, sesedikit mungkin melibatkan kita orang IT. Kita hanya menjalankan fungsi kontrol dan perbaikan seandainya terjadi masalah.

Ketiga metoda tersebut, kita bisa menjalankannya melalui tiga tahapan, yakni:

  • Assesment
  • Design
  • Implement

Yang pertama sekali kita lakukan adalah Assesment, kita perlu menilai kembali proses-proses dalam sistem kita, mulai dari kebijakannya, alur prosesnya, dsb. Menurut saya, proses Assesment inilah yang memakan waktu cukup banyak, bisa 1-2 tahun.

Yang kedua adalah Design, berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh pada tahap assesment, kita bisa merancang bagaimana sistem kita kedepannya. Semisal ruang server dan semua yang ada didalamnya, berdasarkan assesment kita terhadap tata kelola ruang server dan semua sistem yang berjalan didalamnya selama ini, maka kita bisa merancang seperti apa ruang server kita untuk 5 tahun kedepan, atau bahkan untuk waktu yang lebih lama lagi.

Yang ketiga baru implement. Setelah design kita rancang, yang dalam perancangannya tidak hanya melibatkan bagian IT saja, tapi seluruh elemen sistem bisnis perusahaan, maka design tersebut kita implementasikan.

 
Avatar
Avatar


Film Avatar. Omaticaya, demikianlah mereka menyebut ras mereka sendiri. Mereka adalah salah satu mahluk hidup yang menghuni Pandora, sebuah benda angkasa sejenis bulan yang mengorbit sebuah planet. Planet tersebut berada tidak jauh dari tatasurya kita, tempat planet bumi yang dihuni oleh manusia. Omaticaya adalah Ras Fiksi yang hidup dalam film berjudul Avatar karya sutradara James Cameron.

Ketika kita menonton film Avatar, kita akan disuguhi keindahan pemandangan yang sangat warna-warni. Kita akan melihat berbagai macam mahluk hidup yang menghuni pandora, tanaman-tanaman yang memendarkan cahaya indah di malam hari, hewan mirip badak tapi kepalanya mirip kepala ikan hiu martil, pohon raksasa setinggi gedung pencakar langit, dan tentu saja pemandangan langit Pandora yang berhiaskan Planet induknya dan dihiasi dua saudara pandora, sama-sama satelit yang mengorbit planet.

Keasyikan menonton film yang satu ini, sepertinya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Seperti kata pepatah, gambar itu bisa bicara berjuta bahasa. Jadi mendingan lihat filmnya daripada baca ringkasannya. Adapun yang ingin saya sampaikan disini adalah, pesan moral yang saya tangkap dari cerita film ini.

Cerita utama dari film ini adalah kisah penduduk asli (Ras Omaticaya) yang berjuang mempertahankan diri dan lingkungannya dari upaya penjarahan dan pengrusakan yang dilakukan oleh pendatang (Ras Manusia). Manusia atau lebih tepatnya sebuah perusahaan tambang milik manusia, berusaha mengusir para Omaticaya dari tempat tinggal mereka, karena di dalam tanah di bawah tempat tinggal mereka itu, terdapat bahan tambang yang sangat berharga.

Sebagai penonton, yang tentu saja Ras Manusia, kita tetap membela Ras Omaticaya ini, kita berada di pihak mereka. Kita membenci Ras Manusia yang serakah dan tidak berperasaan. Kita tidak setuju dengan upaya para manusia mengusir Omaticaya dari tanah tempat tinggal mereka.

Padahal, hello... kita manusia kan? Kenapa kita harus memihak Omaticaya? apa yang menyebabkan kita berpihak pada mereka? jawaban sederhananya adalah karena Omaticaya berada di pihak yang benar. Kita akan dengan mantap menjawab bahwa kita memihak kebenaran. Omaticaya, meski mereka itu alien, mahluk asing yang tidak ada hubungan apapun dengan kita, tetap kita bela, karena mereka berada dipihak yang benar.

Hebat bukan ?

Sekarang mari kita bertanya lagi, apakah semangat membela pihak yang benar itu selalu kita terapkan dalam kehidupan kita? Bagaimana dengan nepotisme yang menjamur dimasyarakat kita. Banyak yang lebih mendahulukan keluarga dan saudara untuk menduduki suatu jabatan atau diangkat menjadi PNS misalnya, daripada orang lain. Meskipun orang lain tersebut lebih kompeten dibanding saudaranya itu. Atau ketika anak kita bertengkar dengan anak tetangga, kita pasti membela anak kita, tidak peduli apakah anak kita berada di pihak yang benar atau salah.

Jadi, kalau film itu fiksi apakah keberpihakan kita pada kebenaran juga fiksi?


Jimat
Jimat

Jimat. Dalam novel yang berjudul Maryamah Karpov, sang penulis Andrea Hirata menyisipkan sisi kepercayaan mistis yang dianut oleh masyarakat yang hidup di daerah kepulauan Belitung dan sekitarnya sampai Kalimantan dan semenannjung Malaka (Malaysia). Dalam novel tersebut diceritakan tentang jimat-jimat yang biasa dipakai oleh 'orang pintar' di kawasan itu, seperti buntut cicak bercabang dan sebagainya.

Jimat merupakan produk budaya peradaban manusia diseluruh dunia. Di Indonesia sudah jelas, mau di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dsb, semua mengenal jimat. Di belahan dunia lain pun, jimat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Di Cina dikenal "Hu", di Amerika terutama suku Indiannya, menggunakan tulang atau gigi atau bagian tubuh hewan lainnya sebagai jimat. Di India mungkin lain lagi, di Afrika mungkin beda lagi.

Jimat digunakan manusia sebagai 'penambah kekuatan'. Entah itu kekuatan tenaga, kekuatan tubuh terhadap penyakit, kekuatan pengaruh terhadap orang, dsb. Orang yang mengenakan jimat, rasa percaya dirinya menjadi berlipat, karena dia yakin, dia mendapat 'bantuan' dari sang jimat.

Di jaman sekarang ini, dimana masyrakat sudah "modern", kepercayaan orang-orang akan jimat sudah banyak berkurang. Bahkan mungkin di kita, orang yang memakai jimat itu akan ditertawakan. Pemakai jimat akan dianggap kuno, atau ketinggalan jaman bahkan dicap sesat.

Sekarang mari kita buat suatu analisa kecil-kecilan yang tidak ilmiah he..he..he. soalnya kalau mau ilmiah harus melakukan penelitian.

Analisa tersebut berangkat dari pertanyaan:
Apa itu jimat?
Apa saja yang termasuk kategori jimat ?

Mari kita jawab satu persatu.
Apa itu jimat?
Sederhananya, jimat adalah suatu benda yang dipakai oleh seseorang dengan kepercayaan bahwa benda tersebut bisa membawa pengaruh pada dirinnya atau pada lingkungan sekitarnya.

Apa saja yang termasuk kategori jimat?
Wah kalau ini jawabanya bisa sangat panjang. Soalnya jenisnya banyak dan tiap masyarakat punya jimat versi mereka masing-masing. Jadi di skip aja ya, soalnya kalau tulisan ini terlalu panjang, membacanya juga males. ya nggak?

***

Coba tebak, apa saja benda yang paling sering dipasang orang di kendaraannya? Ya, meskipun belum tentu di peringkat pertama, tapi benda yang paling sering dipasang orang di kendaraannya adalah Stiker TNI atau Polri. Kalo engga, emblem DPR atau sejenisnya. Kalo engga, tulisan "PERS" sama "FILM". Ya nggak?

Kira-kira, apa sih tujuan orang masang-masang stiker TNI/Polri atau memajang tulisan "PERS" atau "FILM" di kendaraan mereka? Kalau menurut saya sih, tujuannya biar 'menambah kekuatan' mereka. he..he..he.. kalau begitu, stiker TNI/Polri atau emblem DPR/Lembaga Negara atau tulisan "PERS" dan "FILM" tersebut bisa dikategorikan "Jimat" dong. Betul?

Berarti Masyarakat "modern" atau masyarakat "Tradisional" sama saja. Sama-sama senang memakai jimat, biar "kekuatannya bertambah". Cuma jenisnya aja beda, dan cara kerjanya beda.

Kalau masyarakat "Tradisional" menggunakan jimat yang cara kerjanya, mungkin, memanfaatkan kekuatan "Jin atau Syetan". Maka masyarakat "Modern" menggunakan jimat yang cara kerjanya, hmmm... cara kerjanya gimana ya?

Lagu
Lagu

Miyabi dan Mahadewi. Mari kita perhatikan cuplikan lirik lagu berujudul "Lakukan dengan Cinta" yang dinyanyikan group Maha Dewi featuring The Law dibawah ini:

Cinta cinta cinta
Lakukan dengan cinta bila kamu
Mau mau mau
Aku tak mau bila tanpa cinta

Rap:
It’s the time… It’s the time…
Don’t waste time, it’s making love time
Jangan buru-buru take your time
Kita kan lakukan pelan-pelan

Straight from the top to the bottom
Don’t worry baby, you know I got’em
Cinta yang tulus sepenuh hatiku
Jad sekarang ayo lakukan itu
Drop your clothes baby on the floor
From now on I’m gonna love you more

Bukannya aku mau
Mencari alasan
Mencari masalah
Untuk tak melakukannya
Untuk berkata tidak
Untuk berkata jangan
Untuk berkata nanti
Untuk berkata aku tak bisa
Ku tak mau

Reff:
Cinta cinta cinta
Lakukan dengan cinta bila kamu
Mau mau mau
Aku tak mau bila tanpa cinta

Rap:
Please say yes, baby don’t say no
I want you right now and not tomorrow
Yang kupunya cinta bukannya nafsu
Tapi kalou kau mau aku sih
Ayoo…

Jangan lagi kita buang waktunya
Sudah tiba untuk bercumbu
Suka sama suka apa yang ditunggu
Jadi sekarang ayo lakukan itu

Drop your clothes baby on the floor
From now on I’m gonna love you more


Cukup jelas bukan, lirik lagu ini berisikan ajakan untuk bercumbu bahkan sampai hubungan seksual (making love merupakan kata dalam bahasa inggris yang maksudnya adalah hubungan seksual).

Jika kita konfirmasi kepada pencipta lagu ini, sepertinya dia akan menjawab "ah itu kan tergantung interpretasi pendengar saja. Ini seni, dan dalam seni, kebebasan berekspresi sangat dijunjung tinggi". Atau jawaban-jawaban lain yang sifatnya mengelak dan merupakan pembenaran dari lagu 'tidak pantas' ini.

Jika kita menanyakan kepada pelantun lagu ini, yakni group Maha Dewi dan The Law, mungkin mereka akan menjawab, "kami tidak ada maksud apa-apa dengan lagu itu. Niat kami hanya menghibur". Atau jawaban-jawaban lainnya yang lagi-lagi mengelak dari tanggung jawab.

Jika kita menanyakan kepada para pendengar yang kebetulan menyukai lagu ini, sepertinya mereka akan menjawab, "buat saya sih nggak ngaruh ya, saya suka lagu nya, enak didengerin, penyanyinya juga cantik-cantik", atau jawaban-jawaban lainnya yang menunjukkan bahwa mereka suka lagunya, tidak perduli lirik lagu itu seperti apa.

Namun sadarkah kita bahwa lagu bisa menempel pada otak. Hal ini dikarenakan fenomena "earworm" dan "brain itch". Ketika kita mendengarkan sebuah lagu, maka bunyi-bunyian tersebut akan merangsang sebuah daerah di otak yang bernama auditory cortex dan bunyi-bunyian tersebut terekam disana. Para peneliti di Universitas Dartmouth melakukan percobaan dengan memperdengarkan sebagian lagu yang disukai, kemudian aktifitas daerah auditory cortex ini dipantau. ternyata, meski lagu yang didengar sebagian, otak melengkapi lagu tersebut dengan rekaman yang telah ada sebelumnya. Dan ketika pemutaran lagu tersebut dihentikan, ternyata otak tetap "menyanyikan" lagu tersebut. Untuk lebih lengkapnya tentang dua fenomena tersebut, silahkan baca artikelnya di http://health.howstuffworks.com/songs-stuck-in-head.htm/printable.

Otak adalah sentral dari kesadaran dan tindakan dari seorang manusia. Dan lebih dari itu dalam otak juga terletak 'alam bawah sadar' yang besar sekali pengaruhnya terhadap karakter dan tingkah laku manusia. Apa jadinya jika lagu "making love" seperti ini mengisi otak seseorang, dan lebih parah lagi jika sampai masuk ke alam bawah sadar.

***
Ahir-ahir ini Indonesia dihebohkan dengan berita rencana kedatangan pemain film porno Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi. Berita ini tak pelak mengundang berbagai reaksi. Ada yang menolak, ada juga yang tidak peduli. Ada juga yang jaim, pura-pura tidak tahu siapa itu Miyabi.

Pornografi menurut wikipedia adalah penggambaran atau pertunjukan secara terbuka dan terang-terangan dari hal-hal yang berhubungan dengan aktifitas seksual, untuk tujuan kesenangan. Dan sudah menjadi keniscayaan, hal-hal yang bisa menimbulkan kesenangan bisa menjadi objek bisnis yang menghasilkan keuntungan yang luar biasa.

Telepas dari apapun motivasi pihak yang mengundang kedatangan Miyabi ini, kedatangan seorang pemain film porno ke Indonesa adalah suatu tanda dari diakuinya pornografi sebagai sebuah hal yang biasa malah sebagai sebuah industri dan bisnis. Mengapa demikian? karena Miyabi adalah simbol dari pornografi. Ketika sebuah simbol ada di suatu daerah, maka hal yang diwakili oleh simbol tersebut, secara tidak langsung telah diterima oleh daerah itu.

"Bandung Lautan Asmara", sebuah film porno yang beberapa tahun silam menggemparkan negri ini, telah sukses menjadi pelopor film-film porno dalam negri. Orang-orang di negri ini dengan sukarela dan gembira, memproduksi film-film porno dengan peralatan sederhana, cukup sebuah handphone berkamera atau handycam biasa. Para pemainnya pun tidak perlu profesional. Pemain film-film porno ini mulai anak SMU, Mahasiswa, sampai Pejabat Pemerintah dan Anggota DPR.

Celakanya tujuan mereka membuat film porno tersebut bukan untuk bisnis tapi hanya kesenangan semata. Ini lebih bahaya daripada memproduksi film porno untuk tujuan bisnis. Kenapa? karena kalau sudah berhubungan dengan kesenangan, orang bisa melakukannya kapan saja dimana saja. Dan dalam pembuatannya tidak ada lagi peraturan dan perhitungan biaya produksi. Hal ini mengakibatkan film porno dalam negri tumbuh sangat subur. Sekarang ini tidak terhitung film-film porno durasi pendek yang sudah dihasilkan manusia penghuni negri ini.

Lebih parah lagi, film-film ini dengan bebas beredar, dari email ke email, komputer ke komputer dan lebih dahsyat lagi, dari handphone ke handphone. Film-film porno dalam negri bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari anak sekolah, tukang becak, kuli bangunan, karyawan kantoran, sampai orang-orang yang seharusnya dihormati dan diteladani.

Film adalah media audio visual. Dan film porno mempengaruhi otak dari dua arah, penglihatan dan pendengaran. Jika lagu, seperti yang dibahas di awal tadi, mempunyai efek yang sedemikian hebat pada otak, apalagi dengan film porno.

Dari kedua hal diatas, lagu 'tidak pantas' dan film porno, kita bisa menarik kesimpulan. Bahwa sekarang ini kondisi orang-orang indonesia yang suka mendengarkan lagu dan nonton film porno, otaknya perlu 'diwaspadai'. Yang terjadi bisa saja lingkaran setan. orang denger lagu-lagu 'making love', terus nonton film porno. mereka punya pacar. kemudian sama pacar mereka, membuat film sendiri. film tersebut diedarkan, ditonton banyak orang. penonton tersebut terpengaruh, dan penonton pun membuat film mereka sendiri. dan seterusnya.

Efek samping lainnya, makin sedikit 'perempuan orisinil' dinegri ini. Makin banyak wanita 'second hand'. Dengan kondisi yang seadanya. Lebih parah lagi kalau sudah melakukan aborsi. Kalaupun dikemudian hari mereka berhasil punya anak lagi, akan seperti apa janin yang berkembang di dalam rahim yang tidak sempurna lagi karena proses aborsi.


SELAMATKAN GENERASI MUDA INDONESIA !


Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.