cipika.co.id
cipika.co.id, nama websitenya nyerempet-nyerempet cipika-cipiki ya? ^_^ ya dunia belanja online di Indonesia sekarang semaki semarak dengan hadirnya "Mall Maya"baru bernama cipika.co.id. Disebut "Mall Maya" karena seperti Mall di dunia nyata, Mall Maya ini menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, kemudian mereka melakukan transaksi.

Tapi satu hal yang membuat belanja online masih diterima setengah hati oleh orang-orang, yakni kepercayaan. "Beneran nggak nih yang jualan? ntar duit udah gue transfer, barangnya kagak dikirim-kirim. Mau komplen, komplen kemana? tokonya nggak ketahuan dimana?". Itu satu hal, hal lainnya yang ada kaitannya dengan keamanan adalah: "Ok, gue mau nyimpen alamat rumah, alamat kantor, nomor hp, dan nomor kartu kredit di website belanja ini. Ada jaminan gak data-data gue  ini gak di-hack orang, dicuri, kemudian di sebarluaskan. Repot nanti. Apalagi kartu kredit, kalau dipake orang buat belanja-belanja gimana?"

Sehubungan dengan masalah keamanan ini, untuk cipika.co.id kita bisa merasa lega, karena "Mall Maya" ini berada dalam naungan Indosat


Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang bernama Dhamodara. Dia adalah penduduk Kota Raja. Suatu hari Dhamodara pulang dari tempatnya bekerja menaiki kudanya. Dia menyusuri jalananan Kota Raja, di jalan Tabib Satrio. Jalan ini ada dua arah, dan dibeberapa tempat terdapat belokan untuk memutar balik berganti arah.

Saat itu malam hari, memang Dhamodara pulang kerja agak telat saat itu. Dia hendak memutar balik, namun karena tempat memutar balik masih cukup jauh didepan, dia memilih tempat memutar yang tidak seharusnya, alias ilegal. Sebelum memutar, dia memperhatikan sekitar. Soalnya di tempat memutar illegal ini, biasanya ada prajurit Kerajaan yang berjaga dan menindak para pelanggar. Setelah melihat sekeliling dan tidak terlihat adanya prajurit Kerajaan, maka Dhamodara pun menarik tali kekang kudanya untuk memutar balik. Setelah masuk ke arah yang berlawanan, entah darimana datangnya, tiba-tiba didepan telah berdiri seorang prajurit Kerajaan. Dia melambaikan tangannya memerintahkan Dhamodara untuk meminggirkan kudanya
Alhamdulillah, pada pengajian bulanan kantor kemarin, temanya adalah “Ekonomi Syariah”. Adapun pembicaranya adalah Iggi Achsien, Komisaris Independen Bank Muamalat.
Iggi Achsien
Iggi Achsien
Pak Iggi ini belum 40 tahun, namun di usianya yang relatif masih muda ini, beliau sudah malang melintang di dunia perbankan khususnya Perbankan Syariah. Pengalaman beliau bisa dilihat di profilenya di linkedin.
Dengan cara penyampaian yang banyak canda, pak Iggi memberikan pencerahan kepada hadirin tentang apa itu Ekonomi Syariah, dengan lebih spesifik ke Bank Syariah.
Pengetahuan kita, orang awam tentang bla bla bla Syariah, biasanya adalah: Syariah itu nggak pake bunga tapi bagi hasil. Wicis itu bener, tapi belum lengkap. Pak Iggi pada kesempatan kemarin telah meletakkan batu pertama dari pemahaman kita tentang bla bla bla syariah. Dengan 3 hal, pak Iggi menjelaskan apa itu bla bla bla Syariah
Suatu hari di bulan desember 2012, saya melakukan kunjungan kerja ke Pulau Dewata. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Bali. Seumur-umur saya belum pernah ke Bali ^_^. 3 hari lamanya saya di sana, berangkat Jum'at pulang Minggu.

Hari itu hari terakhir saya di Bali dan saya harus sudah berada di Bandara jam 1 siang. Namun di waktu yang tersisa ini saya tidak mau melewatkan satu hal. Jam 7 pagi, dari tempat saya menginap di daerah Sanur saya segera menuju ke pantai Seminyak, untuk melakukan satu hal yang sangat saya inginkan yakni Selancar alias Surfing.

Berpose setelah berkali-kali digulung ombak pantai Seminyak
Pantai masih sepi pagi itu, saya segera menuju ke tempat penyewaan papan selancar. Disitu berjejer berbagai tipe papan dan saya memilih papan jenis longboard. Karena menurut teori, kalau baru mulai belajar itu sebaiknya menggunakan papan longboard dulu. Ya, beberapa minggu sebelum ke Bali itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari teori Surfing, baik dari artikel di website-website maupun video-video di youtube.

Ok, show time, kata saya dalam hati
Jika kita ingin merasakan suasana dan pengalaman Hiking, namun merasa belum siap untuk melakukan perjalanan berat yang biasa dialami ketika Hiking maka kita bisa mencoba Gunung Papandayan. Sebuah gunung berapi aktif yang berada di Kabupaten Garut. Letaknya kira-kira 250 Km ke arah Tenggara Jakarta.


Papandayan ini menyuguhkan pemandangan khas gunung api, yakni Kawah. Selain itu disana juga terdapat Camping Ground, Hutan Mati, dan padang bunga Edelweiss. Kesemua tempat itu letaknya berdekatan.

Orang-orang biasanya Camping dulu di Camping Ground yang bernama Pondok Salada, dari situ mereka akan menikmati pemandangan Hutan Mati yang Eksotis, yang terletak tak jauh dari Camping Ground, cukup berjalan sekitar 10 menit ke arah Timur.

Setelah puas foto-foto di Hutan Mati, tempat berikutnya yang tak kalah indah adalah Padang Bunga Edelweiss yang diberi nama "Tegal Alun". Jika di sketsa, posisi dari tempat-tempat tersebut kira-kira seperti ini:

Sketsa posisi tujuan wisata di Papandayan
Oh ya, Papandayan ini sangat cocok bagi pendaki pemula



Kalau orang ditanya liburan ke daerah yang dingin tapi deket Jakarta dimana? orang pasti menjawab Puncak. Namun sebenarnya selain puncak masih ada daerah yang tak kalah menarik untuk berlibur di daerah dingin, yakni di daerah kaki Gunung Salak.

Beda antara kawasan Puncak dengan kawasan kaki gunung Salak adalah "menu utamanya" ^_^. Kalau di Puncak menu utamanya adalah perkebunan teh yang luas, maka di G. Salak, menu utamanya adalah Curug alias Air terjun.

Di kawasan wisata kaki g. Salak ini banyak sekali Curug. Ada Curug Cigamea, Curug Seribu, Curug Ngumpet, Curug Pangeran, dan banyak lagi. Adapun fasilitas penunjangnya sangat lengkap. Di kawasan ini banyak disewakan Villa-Villa
"Keberadaan industri air kemasan bisa membawa berkah jika saja terjadi sinergi dan hubungan timbal balik."



Pada tanggal 17 Agustus 2014, genap 69 tahun sudah usia Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia, sebuah wilayah negara yang membentang di garis tengah planet Bumi ini. Negri yang terdiri dari beribu pulau yang kesemuanya memiliki tanah yang subur. Negri ini juga dihuni oleh penduduk yang banyak. Menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia itu sudah mencapai 237.641.326 jiwa (sumber: situs bps). Ini menempatkan Indonesia di posisi ke-4 jumlah penduduk terbanyak di dunia.

Jumlah penduduk yang hampir seperempat milyar ini merupakan potensi yang sangat besar yang bisa jadi modal untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang maju. Namun itu akan tercapai jika manusia-manusianya adalah manusia yang berkualitas.

Kualitas seorang manusia memang ditentukan oleh banyak faktor.


Pemandangan Kawah Ratu dilihat dari jalur pendakian G. Salak
Foto diatas adalah pemandangan Kawah Ratu (area yang tanahnya putih di tengah). Gimana? indah bukan?  Padahal tempat dimana saya berdiri untuk mengambil foto ini, tidak bisa dikatakan indah. Karena jika saya melangkah kedepan 2 langkah saja, tanpa ampun tubuh saya akan meluncur ke jurang yang sangat curam yang saya tak tahu berapa ratus meter dalamnya. Kecuali ada keajaiban, bisa dipastikan orang yang jatuh dari tempat ini akan berpindah alam ke alam Barzakh.

Alhamdulillah saya telah menginjakkan kaki di Puncak Salak 1, Gunung Salak. Gunung yang terletak di perbatasan Kab. Bogor dan Kab. Sukabumi ini menjulang setinggi 2.211 mdpl. Jika melihat tingginya, G. Salak memang lebih rendah dari tetangganya G. Gede (2.958 mdpl) dan G. Pangrango (3.019 mdpl). Namun kalau kita mendakinya, bisa dikatakan medannya lebih berat dari medan pendakian gunung tetangganya itu. Hal ini karena jalur pendakiannya yang benar-benar masih alami. Jalurnya masih berupa jalan setapak yang belum banyak dipolas-poles. Bekas-bekas jamahan tangan manusia di jalur hanyalah berupa patok-patok beton penanda jarak setinggi 1 meter yang di cat hitam hijau. Patok-patok ini ditanam setiap jarak 100 m.

Pada pendakian kali ini kami berdelapan: Saya, si 4 Sekawan, Reza, Wildan, Mufidz dan Yogi dan 3 orang lainnya masih terhitung saudara juga, Fahmi, Bahrul dan Kohar. Kohar adalah anggota rombongan yang paling muda, dia masih kelas 3 SMP. Sedang yang paling tua saya ^_^  Kami mendaki melalui pintu desa Gunung Menir. Karena kebetulan tempat ini tidak jauh dari kampungnya si 4 Sekawan. Untuk mencapai pintu ini kalau dari Stasiun Kereta Bogor, kita mesti naik angkot 3 kali lagi. Yang pertama dari Stasiun Bogor – Term. Bubulak. Terus nyambung angkot Term. Bubulak – Leuwiliang, turun di perempatan Cemplang. Nah dari perempatan Cemplang ini, tidak ada angkot yang bertrayek ke G. Menir, jadi mesti nyarter Angkot. Perkiraan ongkosnya 10rb-20rb/orang.

Mengisi perbekalan di salah satu Warung
Seturunnya dari angkot, kami masih harus berjalan kaki cukup jauh sampai dusun terakhir. Di sepanjang jalan desa banyak terdapat warung-warung. Disini kita bisa membeli berbagai kebutuhan,
Alunan lagu “Let It Go” yang dilantunkan oleh penyanyi pop Amerika, Demi Lovato begitu mendunia. Di penghujung tahun 2013 lagu ini menghiasi berbagai media mulai dari Radio, TV, Internet, di tempat-tempat keramaian, semuanya. Lagu ini merupakan salah satu lagu yang menjadi Original Soundtrack film animasi “Frozen”.

Ratu Elsa, karakter utama film "Frozen".
sumber: pixelpolish.blogspot.com
Lagu ini sebenarnya ada dua versi, yang satu dibawakan oleh Demi Lovato (bisa disimak disini), dan yang lainnya dibawakan oleh Idina Menzel (bisa disimak disini). Menzel sendiri adalah pengisi suara salah satu karakter utama dalam film Frozen, yakni Ratu Elsa.

Menurut catatan wikipedia, lagu “Let It Go’' versi Idina Menzel telah terjual sebanyak 3 juta copy
Kadang-kadang saya suka berkhayal bahwa saya ini reinkarnasi dari seorang Ksatria Abad Pertengahan (Medieval Age). Entah kenapa saya suka sekali melihat baju zirah dan berharap suatu saat bisa memiliki dan memakainya ^_^. Membayangkan mengenakan baju zirah lengkap dan menunggangi kuda, rasanya.... it's must be epic!

Ksatria berbaju zirah.
sumber: siscamardhian.blogspot.com

Tidak hanya suka melihat baju zirah, saya juga suka musik Celtic, terutama alunan flutenya. Ketika mendengar musik-musik Celtic benak saya membayangkan padang rumput dengan liukan sungai di kejauhan, yang disebrangnya berderet gunung-gunung yang puncaknya tertutup salju. Saya menunggangi kuda menyebrangi padang rumput tersebut. Angin semilir bertiup membelai surai kuda yang saya tunggangi. Sungguh damai...


Sepertinya, didorong oleh hal-hal tersebut saya sangat suka film bertemakan Abad Pertengahan: ksatria berkuda, perang kolosal, putri-putri cantik di menara Kastil, Kastil-Kastil yang dikelilingi tembok dan parit lebar, semuanya! Menurut saya abad pertengahan itu sungguh romantis sekaligus gagah. Ehm... itu kan gue banget ^_^

Abad Pertengahan tidak mungkin terulang kembali. Sekarang saya hidup di era millenium ketiga
Salah satu trek tanjakan di Papandayan

Temen-temen sekalian,
Foto diatas familiar banget kan? Saya begitu ketemu jalan seperti ini girangnya bukan main. Seneeeeng banget, sampe pengen loncat-loncat rasanya. Itu adalah jalan di jalur menuju “Pondok Saladah” camping ground di gunung Papandayan. Namun tracknya pendek, gak sampe 10 menit sudah habis ^_^.

Beberapa waktu yang lalu, secara tidak terencana saya ke Papandayan. Berawal dari telpon adik saya yang memberitahu bahwa bapak saya sakit. Saya pun pulang ke Garut. Alhamdulillah sakit bapak tidak parah dan sudah mulai membaik. 

Saya sampai ke rumah bapak hari Sabtu sore. Keesokan harinya saya berada di halaman belakang rumah sambil memperhatikan gunung Cikuray, dari dulu saya ingin mendaki ke puncak Cikuray, namun sampai sekarang belum kesampaian. Gak sempet melulu ^_^. 

Halaman belakang rumah bapak, Gunung Cikuray tampak jelas dari sini
Selagi asyik memperhatikan dan menerka kira-kira medan Cikuray seperti apa, tiba-tiba ada telpon masuk, rupanya dari kakak yang tinggal di Bandung. Dia mengatakan bahwa dia butuh Belerang. Mendengar kata Belerang, maka hal pertama yang terlintas dibenak adalah Kawah Papandayan.

Jadilah hari Minggu jam 11 siang saya ke Papandayan, naik motor Mio punyanya keponakan. Sendirian ^_^. Gak bawa apa-apa, cuma pake jaket parasit untuk naik motor, dompet & HP. Perjalanan dari rumah bapak saya ke Kawah Papandayan kurang lebih 50 menit. Kita mengikuti jalan utama, jalan Garut-Cikajang. Di alun-alun kecamatan Cisurupan, kita memasuki jalan ke kawah. Pada mulanya jalan bagus, namun setelah melewati desa terakhir, dan pemandangan berubah menjadi perkebunan sayur disambung hutan pinus, jalanan mulai rusak dibeberapa tempat. Di jalan menjelang pos, ada plang seperti foto dibawah:

Plang menjelang Kawasan Wisata Kawah Papandayan
Di belakangnya adalah kawah Papandayan, kawahnya luas, lebih luas dari kawah Gunung Gede.

Di pos terpampang baligo tariff masuk. Tarifnya relatif murah, Rp. 7500,- /orang. Namun buat Wisatawan Mancanegara, tarifnya 20x lipat. Saya sebenarnya tidak setuju bedanya sejauh itu. Jomplang banget. Huh!

Tarif masuk
Baligo itu ada di sisi kanan jalan, dan disisi kiri jalan, terletak loket pembayaran karcis. Saya pun membayar disana, Rp. 15rb (7500 orang + 7500 motor). Masuk ke tempat parkir, disitu banyak mobil pickup. Belakangan saya tahu bahwa mobil pickup itu adalah sarana transportasi utama, yang mengangkut pengunjung dari alun-alun kecamatan Cisurupan dibawah tadi, sampai ke kawah Papandayan ini. Ongkosnya 20rb/orang. Naik ojek juga bisa, ongkosnya 25rb
PASIF AKTIF adalah istilah yang biasa saya gunakan untuk menggambarkan perilaku perempuan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hal penampilan. Btw, ini murni opini pribadi yang tidak berdasarkan riset psikologis atau apapun. Jadi mohon jangan tanya saya dasar hukum penggunaan istilah itu ya ^_^

Maksudnya apa Pasif Aktif itu?

Kita ambil contoh seorang gadis yang masih single. Meski sekarang jaman Millenium ketiga, namun dalam urusan menyatakan rasa cinta, masih banyak yang menganut cara tradisional. Dimana biasanya laki-laki yang aktif “nembak” wanita yang disukainya. Sedang wanita terkesan netral, kalau si wanita suka ya diterima, kalau tidak suka ya ditolak.

Namun betulkah si wanita ini netral dan diam saja. Sepertinya tidak ya. Para wanita dilengkapi dengan naluri untuk selalu berpenampilan menarik. Dengan berpenampilan menarik, maka kehadirannya akan menarik perhatian banyak laki-laki, sehingga si wanita tinggal “memilih” laki-laki mana yang disukainya. ^_^

Wanita suka tampil menarik


Inilah yang saya maksud Pasif Aktif. Wanita terkesan pasif, tidak menyatakan rasa sukanya terhadap seorang laki-laki. Namun diam-diam, dia juga aktif membuat dirinya tampil menarik, sehingga bisa menarik perhatian laki-laki, khususnya laki-laki yang disukainya. Dan diharapkan laki-laki tersebut tumbuh rasa cinta kepadanya dan menyatakannya.

Namun ternyata naluri untuk berpenampilan menarik dan sikap pasif aktif ini, tidak sebatas untuk menarik perhatian pasangan saja. Karena dalam kehidupan sehari-hari pun wanita selalu ingin berpenampilan menarik, meskipun tidak bertujuan untuk mendapatkan pasangan.
Sayangnya banyak wanita yang mengikuti naluri ini dalam porsi yang sangat banyak, sehingga untuk ukuran tradisi Timur terlebih lagi untuk ukuran agama Islam, wanita yang berpenampilan terlalu menarik ini bisa jadi dinilai telah melewati batas.

Misalnya, seorang gadis yang mengenakan kaos ketat dan celana “Gemes” (istilah untuk celana pendek yang sampai pangkal paha), kemudian dia dengan ceria jalan-jalan ke Mall. Dijamin 1000% penampilannya itu akan menarik perhatian. Jangankan gadis yang cantik, gadis yang berparas biasa pun kalau memakai pakaian seperti ini, bisa membuat semua mata terutama mata lelaki, untuk meliriknya.

Gadis bercelana "gemes"

Masalahnya, di bulan puasa ini orang yang puasa harus bisa menjaga dirinya tidak saja dari hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasa. Salah satunya adalah melihat bagian-bagian tubuh wanita, selain wajah dan tangan (Aurat).
Nah ketika sang gadis bercelana gemes ini jalan-jalan di Mall, apa yang akan terjadi pada pengunjung Mall lainnya yang kebetulan puasa?

Dari sudut pandang si Gadis bercelana gemes, memang itu hak nya dia untuk mengenakan pakaian jenis apapun, hak nya dia untuk berpenampilan seperti apapun. Namun disisi lain, perilakunya ini membawa dampak pada orang-orang disekitarnya, terlebih sekarang banyak orang yang sedang berpuasa.

Selain itu, reaksi laki-laki yang melihat dirinya juga ada berbagai macam. Ada yang begitu melihat dia segera memalingkan pandangannya ke tempat lain, ada juga yang sebaliknya justru menikmati “keindahan” yang terpampang di depan matanya.

Baiklah, gadis bercelana gemes memang contoh yang ekstrim. Contoh lainnya adalah di tempat kerja. Busana kerja wanita-wanita juga dilandasi oleh undang-undang “naluri berpenampilan menarik” ^_^. Salah satu yang sedang nge-tren sekarang ini adalah busana kerja berbahan Sifon yang transparan.
Dengan mengenakan busana seperti ini, seorang wanita memang tampil formal, namun sekaligus sensual. Betapa tidak, meski modelnya kemeja kerja, namun bahannya yang transparan bisa memperlihatkan “jeroan” yang dikenakan sang wanita. Penampilan seperti ini justru lebih menarik daripada wanita yang benar-benar membuka bajunya dan hanya menyisakan “jeroan”. Lebih menimbulkan rasa penasaran.

Kemeja kerja transparan

Penampakan wanita dengan busana seperti ini, sungguh sungguh menjadi godaan berat terutama bagi para lelaki yang sedang berpuasa yang kebetulan adalah rekan-rekan kerja sang wanita berbaju Sifon. Lebih parah lagi, para lelaki ini tidak bisa menghindarinya, karena mereka di area kerja yang sama dan mereka akan bertemu dan bersama-sama selama jam kerja.

Kalau sudah begini, untuk urusan pahala Puasa yang bisa dilakukan hanya berserah diri pada Yang Maha Kuasa….. ^_^


***


Lapangan Suryakencana, Gunung Gede

Jejak Pendaki

Jika setiap helaan nafas adalah daun
maka perjalanan kami adalah hutan
Jika setiap langkah adalah kata
maka perjalanan kami adalah cerita
Jika tiap jejak yang tertinggal adalah embun
maka perjalanan kami adalah pagi yang sejuk

Tiada tanjakan kecuali disana ada persahabatan
Tiada rintangan kecuali disana ada persaudaraan
Seribu kami diikat semangat
Satu kami menuju Puncak
Alas kesempurnaan

Jika tiap tetes keringat adalah butir hujan
maka perjalanan kami adalah badai
Jika kelak berjumpa lagi
maka perjalanan itu adalah prasasti
yang berdiri tegak hingga mentari padam


Suryakencana, 25 Mei 2014

Generasi UN. sumber: masgregori.us


Beberapa waktu lalu jagat maya dan media Indonesia diramaikan oleh berita tentang seorang siswi sekolah tingkat SMA yang menantang menteri Pendidikan untuk mengerjakan soal UN Matematika. Dan dengan jawaban diplomatis, pak Mentri tidak menerima tantangan tersebut.

Peradaban manusia memang bisa dikatakan dibangun dengan matematika. Rumah, pakaian, kebun, jalan sampai peralatan perang dari jaman Manjaniq sampai Rail Gun dibangun dengan matematika alias hitung-menghitung. Elemen pembangun ini jadi ilmu yang wajib dikuasai atau setidaknya diketahui oleh setiap manusia di jaman sekarang.

Di Indonesia, ilmu Matematika jadi pelajaran wajib di setiap lembaga yang menamakan dirinya sekolah. Dan untuk mengukur sampai dimana ilmu ini dikuasai oleh generasi penerus, diadakanlah ujian-ujian. Hasil ujian berupa nilai dengan angka tertentu menjadi patokan seberapa besar keberhasilan sekolah “menginstall” ilmu matematika di setiap anak. Setidaknya begitulah persepsi para penyelenggara pendidikan sekarang ini.

Namun nilai tinggal nilai, yang lebih penting daripada nilai adalah apakah si anak bisa memahami dan menerapkan ilmu-ilmu matematikanya itu di kehidupan nyata.  Karena ilmu, apapun ilmunya adalah alat yang digunakan manusia untuk menjalani hidupnya. Sama seperti pisau dapur yang digunakan ibu untuk memotong sayuran, sama dengan cangkul yang digunakan ayah untuk mencangkul sawah. Ilmu seharusnya bisa digunakan dalam kehidupan.

Kembali ke soal UN, soal-soal UN Matematika sedemikian sulit, sehingga tidak satu pelajar pun di Negeri ini yang bisa menjawab seluruh soal dengan benar. Bahkan Nurmillaty Abadiah, sang penantang Menteri Pendidikan itu, peraih medali perak dalam International Competition and Assessments for Schools 2012 yang diadakan Educational Assessment Australia (EAA), hanya mampu mengerjakan 33 soal dari 40 soal yang diujikan. Setelah diusut, ternyata banyak soal-soal UN itu yang mencontoh soal PISA (The Programme for International Student Assessment) kalau tidak dibilang menjiplak.

Ada opini tentang penggunaan soal PISA di UN ini, yaitu supaya standar nilai PISA Indonesia bisa naik. Mengingat rangking PISA Indonesia jeblok. Namun sepertinya para pengurus negeri ini tidak mau susah dan ingin mengambil jalan pintas, dengan memberikan soal PISA di UN tanpa memberikan perisapan yang sebagaimana mestinya.

Ilmu matematika memang universal. Di manapun di planet ini, 1+1=2. Namun bagaimana cara mengajarkan ilmu itu dan sejauh mana daya pemahaman para pelajar, tiap daerah tentu berbeda-beda. Terlebih di Indonesia, dimana para pelajarnya harus menghadapi banyak sekali “pengalih perhatian” sehingga mereka tidak bisa fokus belajar. Pengalih perhatian ini bisa berwujud segala jenis hiburan, eksploitasi psikologis, dll. Akibatnya para pelajar ini terbuai dengan dunia yang…. memang itu masanya mereka, namun seharusnya mereka sadar bahwa ada yang lebih penting dari itu. Yang dimaksud adalah, misalnya begini: anak-anak usia SMP – SMA, secara biologis dan psikologis sedang memasuki masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Mereka mengalami pubertas. Puber identik dengan pacaran. Dan pacaran adalah aktifitas yang menguras semua energi dan perhatian mereka. Akibatnya tidak ada lagi energy yang tersisa untuk belajar. Sedangkan tuntutan sekolah dengan segala standar nilainya tidak bisa dihindari. Akibatnya para pelajar ini mengambil jalan pintas, yakni menyontek saat ujian.

Mereka melupakan satu hal, yakni mereka belajar untuk memperoleh “alat pendukung hidup” yakni ilmu. Ibu tidak bisa memotong sayur tanpa pisau dan ayah tidak bisa mencangkul sawah tanpa cangkul. Apa jadinya mereka tanpa ilmu?

Hal ini diperparah dengan para penyelenggara pendidikan yang sepertinya kehilangan pemahaman tentang apa gunanya ilmu. Mereka menyelenggarakan pendidikan tidak dilandasi dengan niat untuk membuat anak-anak berilmu, mereka menyelenggarakan pendidikan karena dari sanalah mata pencaharian mereka. Sehingga orientasi mereka bukanlah bagaimana membuat system pendidikan yang baik, namun bagaimana mereka mendapatkan harta dari system pendidikan yang diselenggarakanya. Jadilah pendidikan di Indonesia seperti sekarang ini, siswanya tidak fokus belajar, para penyelenggara pendidikan pun tidak peduli dengan kondisi para siswa tersebut.

Meski demikian ada sedikit “penghibur hati”. Bahwa kondisi siswa yang tidak paham Matematika, bukanlah masalah Indonesia sendiri. Di Negara lain pun mengalami hal yang sama, bahkan di Negara Adidaya seperti Amerika. Menurut berita di http://www.bbc.com/news/business-27442541, di beberapa Negara Bagian di Amerika, tingkat pemahaman para pelajar terhadap Matematika tidak lebih baik dari negara-negara lain di dunia. Di Negara Bagian Mississippi, Alabama dan Louisiana, pemahaman para pelajarnya setara dengan pelajar di Kazakstan dan Thailand. Bahkan di West Virginia, nilai matematikanya jauh dibawah negara-negara Eropa Barat, bahkan dibawah Korea Selatan dan Singapura.  

Karenanya, kita bisa sedikit tersenyum dan mengelak, bahwa pelajar tidak bisa Matematika bukan hanya terjadi di Indonesia saja, di Amerika juga sama.

Namun demikian, kondisi ini patut menjadi keprihatinan kita semua. Jika kualitas para pelajar kian hari kian menurun, akan bagaimanakah kondisi bangsa ini dikemudian hari? Jika ibu tidak punya pisau untuk memotong sayur, bagaimana bisa dia memasak. Jika ayah tidak punya cangkul, bagaimana ayah bisa mencangkul sawah dan kemudian menanam padi. Jika generasi penerus kita tidak punya ilmu, kehidupan seperti apakah yang akan mereka jalani kelak?


***


Peserta UN. Sumber: siap-sekolah.com

Hari ini siswa-siswi SMU sedang menjalani UN. Sebuah Ujian yang benar-benar menguji hasil belajar mereka dan lebih dari itu menguji mental mereka. Disebut menguji mental karena dari penampakannya saja, UN itu sudah menyeramkan. Bungkusan-bungkusan amplop besar berwarna coklat dikawal oleh pria-pria tegap bersenjata api laras panjang. Seolah itu adalah dokumen maha penting yang jika ada orang yang berani mencoba merebutnya akan ditembak ditempat ^_^.

Belum lagi soal-soal UN-nya sendiri, yang demi untuk bisa lulus ujian tersebut dengan nilai minimal saja, setiap siswa harus menjalani berbagai persiapan jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan yang masuk akal sampai yang religius bahkan tak jarang melakukan hal-hal berbau klenik. Persiapan masuk akal misalnya, para siswa selain mengikuti pembelajaran di jam reguler, ditambah juga dengan berbagai les dan bimbel. Yang religius misalnya mengadakan pengajian bersama menjelang ujian. Dan yang berbau klenik, ada siswa yang mandi air kembang, dsb.

Haruskah sebegitunya generasi penerus bangsa ini dalam mengarungi kehidupan? (Lebay mode on ^_^)

Bukankah hidupnya mahluk-mahluk penghuni planet bumi ini hanyalah untuk bertahan hidup dan regenerasi. Meski kemudian mahluk ciptaan yang lebih cerdas yang bernama manusia mendapat tugas lebih berat, yakni harus mengatur planet ini dan kelangsungan hidup mahluk-mahluk lainnya.
Jangan-jangan ini sumber masalahnya. Kelebihan manusia inilah sumber bencana bagi alam raya dan segala isinya.

Untuk menjalankan tugasnya sebagai pengatur, manusia dilengkapi akal dan juga nafsu. Keduanya berperan dalam tindak kehidupan manusia sehari-hari. Manusia melakukan sesuatu itu dipengaruhi oleh akal dan nafsunya. Well, Akal dan nafsu ini merupakan hal-hal yang ditinjau dari sudut pandang religi.

Jika ditinjau dari sudut pandang biologi, manusia dalam melakukan sesuatu itu berdasarkan hasil output dari proses yang berlangsung di dalam otaknya. Otaklah pusat kendali dari seorang manusia. Setiap tindakan manusia mulai dari yang sederhana seperti menggerakkan tangan dan berjalan sampai tindakan kompleks seperti berinteraksi dengan sesama manusia, membuat berbagai peralatan rumit, dsb, kesemuanya adalah hasil dari proses-proses didalam otaknya.

Dalam menjalankan suatu proses, otak membutuhkan input atau masukan. Masukan-masukan ini datang dari pengalaman sehari-hari si manusia tersebut. Segala sesuatu yang ditangkap panca inderanya menjadi masukan bagi otak, untuk kemudian di proses dan hasil proses itu menjadi output yang dilaksanakan oleh perangkat tubuh.

Kembali ke UN, kita coba hubungkan dengan proses dan otak. Seperti kita ketahui, manusia yang hidup di jaman sekarang, panca inderanya dijejali dengan banyak sekali masukan. Otak manusia seolah-olah kebanjiran masukan. Mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit, setiap detiknya dibanjiri ribuan informasi. Meski otak manusia adalah maha karya dari Sang Pencipta, namun dalam pengoperasiannya, otak tetap memiliki keterbatasan. Dan satu hal lagi, jika otak di beri masukan yang sama hampir setiap harinya dan melakukan proses yang hampir sama setiap harinya, maka ketika ada masukan yang berbeda, otak cenderung menomor duakan untuk memproses masukan yang berbeda ini dan menjalankan proses yang sama terlebih dahulu.

Apa jadinya kalau otak siswa-siswi yang sekarang sedang Ujian itu, sehari-harinya dibanjiri oleh masukan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Sehingga ketika sekarang otaknya dituntut untuk memproses hal-hal yang ada hubungannya dengan pelajaran, mampukah si otak mengeluarkan output yang sesuai?

Pelajar dan Smartphone

Banjir informasi penting yang tak perlu.
Di jaman dunia persilatan, seorang pendekar bisa menjadi sangat sakti berkat tapa brata yang dijalaninya. Mereka mengasingkan diri ke gua-gua, gunung-gunung dan hutan belantara untuk mencerap segala ilmu kesaktian. Dengan bersemedi di gunung yang tinggi, dia mencoba mencerna segala ajaran kitab pusaka, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Setelah sekian lama bertapa, setelah berhasil memahami isi kitab pusaka tersebut, sang pendekar turun gunung dan menjadi Pendekar Sakti Tanpa Tanding.

Di jaman dunia per-smart phone-an, masihkan kita bisa mengasingkan diri?
Bahkan sekalipun kita pergi ke angkasa, kita masih dapet sinyal dan bisa memantau time line mereka-mereka yang kita follow. Kalau begini keadaanya, bisakah kita mencerna isi kitab pusaka, jangankan yang tersirat, yang tersurat saja dulu. Bisakah?

Karena otak kita dibanjiri informasi yang menurut kita penting tapi belum tentu diperlukan, mungkinkah otak kita akan memberikan output sesuai kebutuhan?



Perang Bharata Yudha



Alkisah pada jaman dahulu tersebutlah seorang raja bernama Citrawiria yang bertahta di kerajaan Astinapura. Beliau berputra dua, Destarata dan Pandu. Sang Prabu Citrawiria meninggal di usia muda. Maka tahta pun diteruskan oleh anaknya. Karena Destarata, sang kakak, buta matanya sejak lahir, maka tahta pun diteruskan oleh Pandu.

Pandu memiliki anak 5 orang yakni Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mereka ini dikenal dengan sebutan Pandawa. Sedang Destarata mempunyai anak 100 orang, anak sulungnya bernama Duryodana dan paling bungsu bernama Dursala. Mereka ini dikenal dengan sebutan Kurawa.

Dari sinilah pertikaian antar saudara dimulai. Duryodana merasa tahta negri Astina adalah haknya, karena dia adalah anak dari putera mahkota Destarata. Sedang Yudhistira merasa naiknya Pandu, ayahnya, menjadi Raja adalah melalui jalur yang sah, bukan hasil tipu muslihat. Puncak perbedaan pendapat tersebut adalah sebuah perang dahsyat selama 18 hari di lapangan Kurusetra. Perang tersebut dikenal dengan nama “Bharata Yudha”.

Kita semua mengetahui bahwa para Pandawa itu orangnya baik-baik dan para Kurawa itu orangnya jahat-jahat. Ok, mungkin mereka memang begitu. Namun pernahkah kita sejenak memikirkan para prajurit kedua belah pihak, yang bertempur di garis depan dan mati paling dulu? Apakah prajurit blabla dari pihak Kurawa itu jahat? Apakah prajurit blibli dari pihak Pandawa itu baik? Siapa yang tahu?

Bagaimana kalau baik blabla maupun blibli hanyalah orang yang “mencari sesuap nasi”, mendapat gaji dengan menjadi prajurit?


Tanggal 9 April 2014 nanti, Indonesia akan menyelenggarakan “Bharata Yudha” di lapangan PEMILU. Saya tidak akan menunjuk siapa Pandawa siapa Kurawa, karena kayaknya semuanya mengaku orang baik-baik ^_^.  Masing-masing Pangeran dan Putri mengklaim paling baik dan akan memperjuangkan rakyat. Di arena PEMILU, mereka mengerahkan pasukannya masing-masing. Para pasukan inilah yang bertempur di garis depan.

Cerita-cerita seperti Tetangga tidak akur dengan Tetangganya karena beda partai. Satu orang dikucilkan dari pergaulan karena memilih lambang yang berbeda dll, dsb. Malah ada saja orang yang benar-benar bertengkar sampai berkelahi membela partainya masing-masing. Cerita-cerita semacam ini akan kembali terulang. Cerita-cerita “Para prajurit yang mati di garis depan.” Mereka jadi korban, tapi namanya takkan pernah tercatat dalam sejarah. Mereka hanyalah “ongkos” dari bertahtanya seorang Pangeran atau Putri.

PEMILU hanyalah tambahan petaka bagi para keroco rakyat jelata. Hasil PEMILU tak pernah membuat kehidupan Rakyat bertambah makmur bermartabat. Karena para Pangeran dan Putri hanya memikirkan diri sendiri.

Karenanya, Jangan GOLPUT, let’s make things worse. ^_^


PS:
Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya

In memoriam Dalang  Asep Sunandar Sunarya. Beliau telah wafat pada hari Senin, 31 Maret 2014. Berkat jasa-jasa beliau, kesenian tradisional Indonesia khususnya Wayang Golek, bisa dikenal oleh dunia Internasional. Padepokan Wayangnya, “Giri Harja 3” sudah melanglang buana memperkenalkan keluhuran budaya Indonesia. Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT dan segala dosanya di ampuni. Amiiin...



Ulasan Asia Wisata di Republika - sumber: asiawisata.com

Sekarang ini kalau kita mau membeli pulsa telpon, kita gak perlu jauh-jauh ke counter HP. Biasanya ada saja teman-teman kita yang menjual pulsa telpon semua operator secara elektronik. Caranya pun gampang, cukup bilang ke teman kita, mau beli pulsa untuk operator apa, nominal pulsanya berapa. Dia sebutkan harga pulsa tersebut berapa rupiah, kita bayar. Lalu si temen kita itu mengambil handphonenya, kirim SMS ke suatu tempat dan.... beberapa saat kemudian pulsa HP kita sudah terisi. Gampang kan?

Nah ternyata sistem pembelian "ghaib" seperti ini sudah meluas ke bidang-bidang lainnya. Tidak hanya pulsa telpon, kita bisa beli pulsa Listrik, voucher Game online, bayar air, cicilan motor, sampai pembelian Tiket Pesawat.

Ngomong-ngomong tiket pesawat, makin kesini orang-orang makin suka jalan-jalan. Berkunjung ke berbagai tempat wisata baik dalam maupun luar negri seakan menjadi kebutuhan pokok, setelah makan, pakaian, tempat tinggal dan gadget ^_^ Apalagi sekarang hobi baru ini didukung oleh berbagai fasilitas yang nyaman sekaligus murah. Misalnya, sekarang maskapai-maskapai penerbangan sering mengadakan promo tiket murah ke berbagai tujuan. Belum lagi hotel dan tempat wisata sering kali mengadakan berbagai promo untuk menarik pengunjung.

Hal tersebut disadari oleh sebuah perusahaan agen tiket bernama Asia Wisata. Melihat peluang yang sangat besar dibidang jasa agen tiket, Asia Wisata mengembangkan sebuah sistem online pemesanan tiket. Sistem ini mengintegrasikan sistem booking dari maskapai-maskapai penerbangan dalam negeri, sehingga dengan menggunakan sistem ini kita bisa membeli tiket berbagai maskapai penerbangan di satu pintu.

Mengingat potensinya yang sangat besar, jasa agen tiket Asia Wisata kemudian mengembangkan sistem kemitraan berupa Franchise dan Keagenan. Setiap orang bisa menjadi berjualan tiket dengan menjadi Agen maupun Franchisee Asia Wisata.

Diungkap dalam sebuah kesempatan seminar bertajuk "Mengupas tuntas prospek bisnis Asia Wisata", yang diselenggarakan di Hotel Nalendra, tanggal 23 Februari 2014. Bertindak selaku pembicara adalah Bapak Agustian selaku Partnership Manager Asia Wisata dan Raynold J. Surbakti selaku Brand Ambassador Asia Wisata. Acara tersebut dipandu oleh MC Kang Arul.

Bang Raynold menceritakan pengalamannya "main" Asia Wisata. Ceritanya, sebelum didapuk menjadi Brand Ambassador Asia Wisata, Bang Raynold terlebih dahulu menjadi "agen biasa". Bisnis agen tiket dia jalani sebagai sampingan dari pekerjaan utamanya sebagai seorang Artis. Ternyata bisnis sampingannya ini berjalan mulus, dan dalam waktu tidak lama, dia naik pangkat dari agen biasa menjadi Franchisee. Dan belakangan pangkatnya naik lagi menjadi Brand Ambassador. ^_^

Mengapa bang Raynold memilih Asia Wisata? menurut pertimbangannya, sebuah bisnis apalagi bisnis jualan Tiket, elektronik lagi, haruslah memiliki tiga hal, yakni:
  1. Legalitas, si bisnis ini jelas status hukumnya,
  2. Keamanan, transaksi elektroniknya aman,
  3. Kemudahan, operasional bisnisnya mudah tidak njlimet,
Kesemua persyaratan tersebut ada di Asia Wisata, makanya Bang Raynold pun menjatuhkan pilihannya ke bisnis ini.

Berdiri sejak tahun 2010 akhir, Asia Wisata meski terhitung muda, mampu bersaing bahkan mengungguli pemain-pemain lain di bisnis agen tiket ini. Sederet prestasi berhasil ditorehkannya diantaranya:
  • Dalam waktu tiga tahun telah mempunyai 50 Cabang/Franchisee dan 1133 agen
  • Masuk 10 besar travel agent terbaik di Indonesia
  • Penghargaan sebagai agen terbaik dari beberapa maskapai penerbangan
  • Omset mencapai 181 Milyar
 Prestasi tersebut berhasil diraih Asia Wisata karena satu hal, Kepercayaan. Kepercayaan dari konsumen dan kepercayaan dari mitra-mitranya yakni para agen dan franchisee. Kepercayaan ini timbul berkat operasional bisnisnya yang transparan. Baik Mitra maupun Konsumen mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya dari semua produk Asia Wisata, terutama masalah uang. Kalau sudah menyangkut uang, Asia Wisata menerapkan kebijakan ketat dan transparan.

Bagaimana caranya kalau kita mau menjadi mitra?

Kemitraan di Asia Wisata dibagi 2:
  • Agen
  • Franchisee (cabang)

Agen, bisa siapa saja, perorangan maupun badan, namun Franchisee haruslah berupa suatu badan.

Ketika kita sudah menjadi agen, maka kita bisa menjual tiket dengan cara membuka website www.ibe.co.id trus login dengan account kita. Selanjutnya proses pesanan sampai keluar kode booking. Nah, kode booking inilah yang kita berikan ke si pembeli tiket (setelah si pembeli membayar harganya terlebih dahulu tentunya ^_^). Nanti, si pembeli tiket ini datang ke Bandara, menuju ke tempat check-in maskapai, lalu menunjukkan kode booking tsb sebagai tanda tiket. Mudah bukan?

Adapun kalau franchise, secara proses sama, bedanya, kalau Agen kita hanya mempunyai 1 account login ke ibe.co.id kalau franchise itu 5 account. Trus Franchise itu berhak menggunakan merk Asia Wisata.

Bisnis agen tiket ini tetap membutuhkan modal meski relatif terjangkau. Jika kita mau menjadi Agen, kita harus menyiapkan dana minimal 3,5 juta untuk biaya registrasi ke Asia Wisata. Selain itu kita juga harus melakukan top up, alias menyimpan dana di Asia Wisata. Analoginya, kalau kita mau jualan pulsa HP, maka kita harus menyimpan sejumlah dana di distributor kita sebagai saldo, nanti setiap ada orang beli pulsa, kita kirim sms ke distributor, lalu si distributor mengirimkan pulsa ke si pembeli. Nah, besar nominal pulsa yang dikirim ke pembeli ini, akan diambil dari saldo yang kita miliki. Kalau saldo kita di distributor habis, otomatis kita tidak bisa jualan.

Hal yang sama juga berlaku saat kita menjadi Agen Asia Wisata dan berjualan tiket.

Salah satu Franchisee Asia Wisata - sumber: erkamitra.blogspot.com

Untuk menjadi Franchisee modalnya lebih besar lagi, biaya pendaftarannya 35 juta. Tapi jangan ngedrop dulu, uang 35 juta itu ada itung-itungannya, buat ini, ini, ini dan ini. Si ini-ini itu diantaranya:
  • Berbagai dokumen dan proses pengurusan legalitas badan usaha Franchise kita diurus oleh Asia Wisata, seperti: Akta Notaris PT, SIUP, TDP, Domisili, Perjanjian kerjasama yang disahkan notaris, ijin Penyelenggaraan Biro Perjalanan Wisata.
  • Berhak menggunakan nama Asia Wisata dan menjalankan semua lini bisnis Asia Wisata selama 3 tahun
  • Pelatihan management travel dan marketing oleh Asia Wisata Pusat
  • Pelatihan staf ticketing dan training sesuai SOP Asia Wisata Pusat
  • Panduan Sistem Pencatatan dan Pelaporaan Tiket dari Asia Wisata Pusat
  • Sistem reservasi online untuk booking, Issued dan print tiket sendiri (PTS)
  • User ID Management dan password master untuk user booking dan issued tiket
  • 2 unit komputer, 1 unit printer, 1 unit mesin Fax/combo dengan pinter
  • Neon Box ukuran 300cm x 90cm, stiker airlines domestic dan internasional, spanduk, X-Banner
  • 2 potong seragam Asia Wisata
  • 2 Stempel Asia Wisata, 1 rim kop surat Asia Wisata, 10 buku invoice Asia Wisata, 10 box kartu nama Asia Wisata
 Tapi itu belum termasuk biaya sewa tempat/kantor.

Itung-itungan bisnis

Yang namanya bisnis tentulah mau untung, betul? ^_^ Nah, bisnis agen tiket Asia Wisata juga tentunya mempunyai itung-itungan sehingga kita mendapatkan untung.Sebelum melihat ke perhitungan bisnis yang rumit, kita lihat saja perhitungan untung dari penjualan satu tiket.

Harga Tiket - Harga Net to Agent = Fee

Fee - 30% -1% = Fee agen

-------
Harga Tiket  = Harga yang dibayar oleh pembeli tiket
Harga Net to Agent = Harga tiket maskapai yang dijual ke agen
Fee = selisih Harga Tiket - Harga Net to Agent
30% = bagian Asia Wisata
 1% = PPN
Fee agen = Keuntungan penjualan yang kita peroleh sebagai agen.

Nah, bagi Franchisee, angka 30% itu tidak ada. Jadi Fee itu seluruhnya jadi milik Franchisee, paling dikurangi 1% PPN.


Produk-produk Asia Wisata
Asia Wisata sebenarnya tidak hanya menjual tiket (Pesawat Terbang & Kereta), tapi juga menyelenggarakan paket perjalanan wisata, Haji dan Umroh, loket pembayaran PLN, Cicilan kendaraan bermotor, voucher hotel, dsb.

Ok, kalau butuh info lebih lanjut silahkan buka websitenya www.asiawisata.com dan www.agentiket.net atau datang ke kantor pusat Asia Wisata:

Asia Wisata
Jl. Basuki Rahmat No.25 Jakarta Timur 13350
Web: www.agentiket.net
Email: mitra@asiawisata.com
Tlp: 021-8517262

Foto bareng Brand Ambassador Asia Wisata bang Raynold J. Surbakti
Selamat berbisnis ^_^

 ***
@irpanisme


“Truk aja Gandengan”… begitu penggalan sebuah iklan di media masa. Iklan yang meski mengiklankan suatu produk, namun terinspirasi oleh para Jomblo. Jomblo itu istilah masa kini bagi orang-orang yang belum punya pasangan. Kalau jaman kakek nenek kita masih ABG istilahnya mungkin “bujang/gadis tak laku”, tapi kayaknya kejam banget ya, tak laku…

Diakui atau tidak, bertitel jomblo itu sedikit banyak mengganggu ketenangan jiwa. Meski demikian banyak para jomblo yg berusaha bahagia dengan predikat yang disandangnya itu. Muncullah berbagai istilah dan slogan yang unik-unik seperti: IJOLUMUT (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut). Ada juga JOJOBA (Jomblo-jomblo Bahagia).

Namun benarkah mereka itu bahagia seperti kelihatannya? Saya kok ragu ya. Apalagi serbuan drama-drama Korea yang ceritanya syahdu mendayu mengharubiru, menjadi siksaan nikmat bagi para Jomblo. Seperti pria yang minum arak sampai mabuk untuk melupakan istrinya yang baru meninggal, sejenak mereka bisa melupakan kesendiriannya itu. Namun begitu film drama Korea usai, kesepian dan kesendirian kembali menyayat hati.

Adakah cara untuk mengakhiri kesendirian ini?

Banyak cara yang bisa ditempuh. Tips-tips seputar itu seabrek, tinggal google aja. Apalagi sekarang menjelang Valentine, berbagai media tentu menghidangkan menu "You are not (supposed to be) alone". Berbagai strategi akan digelar tentang bagai mana caranya menemukan Mr./Ms. Right dan kemudian memfollow upnya menjadi sebuah hubungan.

BTW, suatu hubungan bisa terjalin jika ada ketertarikan antara kedua belah pihak. Nah, sebelum kita menjalankan tips-tips dan strategi-strategi tersebut, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu kategori-kategori ketertarikan kita pada lawan jenis.

Emotionally Attracted
Emotionally Attracted atau ketertarikan emosional adalah ketika kita menyukai lawan jenis dan bentuknya adalah gejolak emosi. Berbagai khayalan romantis muncul saat kita bertemu dia. Biasanya ketertarikan ini muncul ketika bertemu dengan lawan jenis yang berparas cantik/tampan.

Sexually Attracted
Sexually Attracted atau ketertarikan seksual adalah ketika kita menyukai lawan jenis dan bentuknya adalah gairah seksual. Maaf saya tidak bermaksud porno ya, hanya menceritakan keadaan saja ^_^. Biasanya ketertarikan ini muncul ketika bertemu dengan lawan jenis yang wajahnya mungkin biasa saja, namun memiliki postur tubuh yang membangkitkan birahi.

Rationally Attracted
Rationally Attracted atau ketertarikan rasional adalah ketika kita menyukai lawan jenis yang kaya. Meski mungkin wajahnya biasa saja dan postur tubuhnya pun biasa, namun karena dia bisa menjanjikan kehidupan yang aman dan nyaman, maka kita tertarik padanya.

Ketiga ketertarikan ini bukanlah hal yang hitam putih, maksudnya mutlak satu orang akan mengalami satu saja ketertarikan ketika bertemu lawan jenis. Ketiga ketertarikan ini bisa saja timbul bersamaan karena memang si lawan jenis yang kita temui itu memiliki semua faktor pemicu ketertarikan.

Nah, pada para jomblowan-jomblowati, setelah kita mengetahui jenis-jenis ketertarikan kita pada lawan jenis, mulai sekarang, ketika kita akan “hunting” pasangan, kita tentukan targetnya dulu. Mau yang emosional, seksual atau rasional.

Idealnya sih tiga-tiganya ada pada satu orang, namun kalau ternyata si target ideal ini gak berhasil kita tembak, masa mau pulang dengan tangan kosong? Berarti kesepian kita akan berlanjut dong ^_^

Karenanya jangan muluk-muluk deh, cari yang satu ketertarikan saja atau ya.. maksimal dua lah.

OK?!
Happy Hunting... semoga semua jadi indah pada waktunya...
**tapi waktunya tolong dipercepat ya ^_^

***
Apa yang mendorong seseorang melakukan korupsi?
Saya yakin penyebabnya banyak dan kita tidak bisa meng-generalisir satu penyebab saja.
Namun ijinkan saya mengemukakan pendapat ttg salah satu pendorong orang melakukan korupsi.
Penyebab yg saya maksud adalah begitu indah & nikmatnya berbagai barang & jasa yang ada di planet Bumi ini.
Makanan, pakaian, tempat hiburan, barang koleksi, sex. Kesemuanya adalah hal yang nyata (tangible).
Ada juga hal yg tdk nyata (intangible) seperti Gengsi, harga diri, kekuasaan, pengaruh, dsb.

Untuk menyingkat tulisan, gimana kalau semua hal tsb diatas, baik yg Tangible maupun Intangible, kita sebut saja dgn istilah "Permen". Permen ini sedemikian mengoda sehingga setiap orang tergiur untuk merasakannya. Saya juga ^_^ Masalahnya adalah, Permen-permen ini "hadir" di planet ini sedemikian indah, sehingga mampu membius orang "paling menggunakan akal sehat" sekalipun.
Tak sedikit orang yg tadinya jujur & baik, namun setelah mencicipi permen ini berubah menjadi orang yg mementingkan diri sendiri dan tega mengorbankan kepentingan orang banyak.

Karena kecanduan permen, seorang idealis bisa berubah menjadi seorang koruptor.
BTW, saya baru bisa mengemukakan sumber masalah ya :D. Tapi belum bisa memberikan solusi.
Silahkan sidang pembaca mencari solusinya sendiri-sendiri. :D

***

Korupsi terjadi karena pengaruh 2 faktor:
- Internal
- External

Internal, misalnya, lemah iman, karakter serakah, dsb.

External, peradaban manusia sekarang yang berhasil menciptakan Surga di planet ini. Semua kenikmatan tersedia: culinary, sex, fashion, luxury rides, you name it.

Sayangnya, Surga di planet ini gak gratis.

Untuk bisa membeli Surga planet bumi, orang bisa memilih diantara 2, playing hard or cheating.

Ternyata yang paling gampang ya cheating, jadilah mereka korupsi.

So, korupsi terjadi karena faktor pengaruh internal dan external.

Unfortunately, baik faktor internal maupun eksternal, merupakan bagian dari manusia itu sendiri.

Lemah iman dan karakter serakah, oh c'mon, that's what we are. Dan Surga yang tercipta sekarang, adalah sesuatu yang pasti tercipta, karena manusia dianugerahi akal.

Pendeknya, kita tercipta untuk melakukan korupsi. Setiap kita.  


Pulau Tidung

Saya baru tahu bahwa nama Tidung ini berasal dari kata “Tidur” ^_^. Menurut pak Unin, kalau di pulau Tidung ini bawaannya mau tidur melulu, karena suasanyanya yang enak. Pak Unin adalah pemilik rumah homestay yang saya tinggali selama semalam. Homestay ini terletak di bagian tengah pulau Tidung, dekat lapangan bola. Biaya menginapnya relatif murah. 350rb itu untuk 1 rumah homestay dengan 2 kamar, 3 tempat tidur, 1 kamar mandi, lengkap dengan rice cooker dan kompor gas. Cocok sekali bagi liburan sekeluarga.

Kami sekeluarga dan beberapa saudara pergi rekreasi ke pulau Tidung tanggal 24-25 Desember 2013. Sengaja memilih hari biasa supaya tidak terlalu penuh dan harga-harga lebih murah ^_^. Untuk orang yang tinggal di Jakarta, nama Pulau Tidung mungkin sudah tidak asing. Meski mungkin belum sempat mengunjunginnya, tapi setidaknya pernah mendengar namanya. Tidung adalah salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu.

Pulau Tidung ini ada dua, Tidung Besar dan Tidung Kecil. Tapi kalau dilihat dari google earth atau googlemap, pulau itu sebenarnya 1 pulau, tapi karena bagian yang lebih rendahnya terendam, jadilah itu terlihat seolah ada 2 pulau. Antara 2 pulau ini dibangun jembatan. Awalnya jembatan ini hanya terbuat dari kayu saja. Namun ketika saya kesana, jembatan sepanjang 300 meter ini telah dibangun dengan konstruksi beton dan pagar pengaman dikedua sisinya.


Di ujung jembatan di sisi P. Tidung Besar ada bagian jembatan yang melengkung lebih tinggi dari jembatan lainnya. Konstruksi melengkung ini adalah semacam “gerbang” untuk lalu lalang perahu boat dari bagian utara dan selatan jembatan. Titik tertinggi lengkungan jembatan ini sekitar 4-5 meter dari permukaan air. Nah, lengkungan jembatan ini menjadi daya tarik tersendiri, karena sering digunakan oleh para wisatawan untuk menguji nyali melakukan lompatan dari atas jembatan ke air. Saya pun tak kelewat mencobanya.Seru…Tengang tapi bikin ketagihan ^_^


Untuk mencapai pulau tidung kita bisa menggunakan kapal motor yang berangkat dari pelabuhan Muara Angke atau Pelabuhan Marina Ancol. Tapi biasanya orang-orang memilih naik dari Muara Angke karena tiketnya lebih murah. Tiket kapal motor kayu harganya Rp. 35.000,-/orang. Seperti halnya naik Bisa Mayasari atau naik metromini, kita langsung naik kapal, nanti bayar tiketnya diatas kapal.

Nah yang cukup repot adalah jadwal berangkatnya. Kapal motor dari Muara Angke ke Pulau tidung hanya ada jam 7 pagi saja setiap harinya, selain itu tidak ada lagi. Makanya kalau kita mau naik dari Angke, kita harus memperhitungkan keberangkatan kita dari rumah, sehingga bagaimana caranya sebelum jam 7 pagi, kita sudah berada diatas kapal. Diatas kapal lho bukan baru sampai Mega Mall Pluit atau pasar ikan muara angke. Karena kapalnya sangat tepat waktu.

Waktu tempuh dari Angke ke Tidung sekitar 2,5 jam. Di perjalanan kita akan melewati beberapa gugusan pulau kecil, seperti pulau bidadari, pulau Pari (dari kejauhan), dll (gak tau namanya soalnya ^_^). Selama perjalanan, kita bisa menikmati pemandangan lautan luas, terkadang ada burung belibis dan camar yang terbang melintas. Kalau beruntung kita bisa melihat ikan terbang bahkan lumba-lumba.


Sesampainya di dermaga pulau Tidung kita akan disambut oleh hiruk-pikuk orang yang menawarkan jasa penginapan, ojek sepeda dan Bentor. Saya sendiri baru pertama kali mendengar kata Bentor. Bentor itu singkatan dari Becak Motor, sesuai namanya alat transportasi ini berupa motor bebek yang bagian setang depannya diganti dengan alat angkut mirip becak. Kapasitasnya tiga orang. Dua didepan dan satu dibonceng di belakang seperti umumnya motor.

Bentor - rayenisme.blogspot.com
Pulau Tidung ini termasuk pulau yang berpenduduk cukup padat. Secara administratif, pulau Tidung ini adalah sebuah kelurahan, yang termasuk di kecamatan Kep. Seribu Selatan, Kab. Administratif Kep. Seribu. Rumah-rumah penduduk disana sebagian besar sudah direnovasi menjadi homestay untuk mengakomodasi para wisatawan.

Begitu turun dari kapal, saya langsung menelpon Pak Unin. No hpnya saya dapat dari saudara, dan saudara saya itu dapat dari temannya yang pernah ke sana dan menginap di tempat pak Unin. Setelah bertemu, saya diantar ke Homestay yang letaknya ternyata tidak terlalu jauh dari Dermaga. Namun karena belum tahu, kita ditawari oleh para pemilik Bentor untuk menggunakan bentor saja. Tarifnya 15rb/bentor. Jadilah kita berdelapan plus 2 anak pun menggunakan Bentor. Tidak ada jalan mobil disana, karena lebar pulau hanya beberapa ratus meter saja. Adapun jalan-jalan disana terbuat dari paving blok selebar 2 meter, hanya bisa dilewati sepeda/motor dari dua arah. Setelah melewati beberapa belokan, kami pun sampai di lapangan sepak bola disisi laut. Di sisi timur lapangan tersebut, terletak homestay kami.

Homestay pak Unin
Kami berangkat dari rumah jam 5:15 pagi. Dengan mencarter angkot dari Cijantung ke Angke, kami bisa sampai jam 6:30. Amaan…Jam 7 kapal berangkat, jam 10 kapal bersandar di dermaga Pulau Tidung. Kami sampai di homestay sekitar jam 10:15. Sebelum melanjutkan aktifitas menikmati pulau Tidung, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang dulu. Baru setelah shalat Dzuhur, kita akan menuju jembatan Cinta.

Disamping menyewakan homestay, pak Unin juga menyediakan Sepeda dan peralatan snorkling. Untuk sewa sepeda, tarifnya 20rb/sepeda selama kita berada disana sampai kita pulang. Adapun satu set peralatan snorkling yang terdiri dari Snorkel Mask, life jacket dan kaki katak tarifnya 30rb. Sambil menemani istirahat kami, pak Unin bercerita banyak tentang kehidupan di pulau Tidung ini, tentang asal-usulnya, tentang para penduduknya, sampai cerita tentang anaknya yang sedang bekerja di Jakarta.

Pulau Tidung tidaklah besar, saya rasa dalam dua hari kita akan bisa menjelajahi semua tempat di pulau itu. Karenanya, para penduduknya banyak yang merantau ke darat untuk mencari penghidupan. Adapun yang tetap tinggal dipulau, mata pencahariannya kalau tidak nelayan ya bekerja di industri wisata.
Enaknya liburan bersama keluarga adalah, untuk urusan makanan kita bisa mengatur sendiri ^_^ Kami membawa semua kebutuhan makanan, mulai dari beras, lauk yang sudah matang, sampai cabe untuk membuat sambal. Di penginapan ada kompor gas dan rice cooker. Jadilah kita seolah pindah rumah, meski hanya semalam saja.

Setelah makan dan shalat, semua berangkat menuju sisi timur pulau, jembatan Cinta.

Dengan menaiki sepeda, hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai lokasi. Sepeda memang alat transportasi populer disana. Meski ada juga sepeda motor, namun kendaraan resmi wisatawan disana adalah sepeda. Sepeda-sepeda ini diberi tanda di bagian keranjang dan spakbor ban belakang. Tandanya berupa inisial dan nama pemilik sepeda-sepeda tersebut. Sepeda disimpan di semacam tempat parkir. Tarifnya 2rb sekali parkir, dibayar ketika akan keluar/pulang.

Jembatan Cinta ternyata juga dilengkapi dengan berbagai permainan wisata air seperti banana boat, donut boat, sofa boat, dsb. Saya sempat menjajal salah satunya, lumayan seru juga. Namun yang paling seru bagi saya ya itu, loncat dari Jembatan Cinta dan snorkling di terumbu karang yang dangkal.

Waktu satu hari sebenarnya kurang kalau kita ingin menjelajahi setiap sisi P. Tidung besar dan Tidung Kecil. Soalnya snorkling saja bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Trus kalau kita suka “hutan”, di ujung barat Tidung Besar dan di pulau Tidung kecil, masih ada area yang masih dipenuhi rimbun pepohonan. Area itu cukup luas, kita bisa mengeksplorasi dan berpetualang di “hutan” tersebut.

Nah bagi yang suka Camping, maka pulau Tidung Kecil adalah tempat yang tepat. Karena disana masih “hutan”, tidak ada rumah penduduk. Kita bisa mendirikan tenda di pasir putih agak ke dalam, supaya kalau air laut pasang tenda kita tidak kebanjiran. Paling perlu dipertimbangkan juga sarana sanitasi seperti BAB dan Buang air kecil. Meski sebenarnya kita tidak perlu terlalu khawatir, karena di P. Tidung Besar, banyak juga tersedia WC umum.

Selain itu kalau kita mau Camping di P. Tidung, kita harus memperhitungkan supplai air bersih untuk keperluan minum dan memasak.

Acara sore itu hanya sampai Snorkling. Sekitar waktu Ashar kami pulang ke homestay dengan sepeda. Sesampainya dirumah, semua bersih-bersih, berbilas dengan air tawar. Setelah itu dilanjutkan makan. Malam pun menjelang. Rencananya kita mau jalan-jalan, apa daya semua pada kecapean. Akhirnya satu-persatu jatuh tertidur. Tinggal saya sama istri yang masih terjaga. Kami pun jalan-jalan keliling kampung dengan sepeda. Kembali ke jembatan Cinta, dan menikmati suasananya di keremangan malam. Romantis juga ^_^ Kami juga menyempatkan diri mampir di toko suvenir.


Jam 9:30-an kami kembali ke homestay, semua sudah tergolek pulas. Kami pun bergabung dengan mereka.
Pagi menjelang, semua berkemas. Pak Unin memberitahu bahwa kapal akan berangkat dari Tidung ke Muara Angke jam 10 pagi. Karenanya jam 9 sebaiknya kita sudah berada di dermaga. Rencananya kita mau menyempatkan diri mengunjungi pantai Perawan yang ada di ujung barat pulau Tidung Besar. Namun apa daya, waktu gak mencukupi. Akhirnya jam 8:30 kita bertolak ke dermaga.

Dermaga Pulau Tidung
Suasana di dermaga masih lengang. Namun pada jam 10 pagi, datanglah 3 kapal penuh muatan dari Angke. Rupanya mereka adalah para wisatawan yang akan berlibur. Kita sendiri akan pulang kembali ke Angke. Ketika kapal ke-3 dari Angke datang, kapal yang kami tumpangi bertolak dari P. Tidung menuju pelabuhan Muara Angke. Perjalanan memakan waktu 2,5 jam. Jam 12:30 kami menapakkan kembali kaki kami di tanah Jawa.

Kapal penuh muatan yang baru merapat di Dermaga Pulau Tidung 


@aa_irpan
Copyright © 2018 - irpanisme.com. Diberdayakan oleh Blogger.